Di kereta BTS di Bagkok.Lumrah bertemu dengan turis Indonesia di sini.(Foto:YD)

Di kereta BTS di Bangkok.Lumrah bertemu dengan turis Indonesia di sini.(Foto:YD)

Stasiun kereta. Ini salah satu pertimbangan saya dalam mencari dan menimbang pemilihan akomodasi ketika hendak bepergian keluar negeri. Moda transportasi darat yang satu ini selain hemat juga praktis dan tepat waktu.

Di negeri-negeri yang telah maju, atau yang amat memperhatikan infrastruktur publik, kondisi peron dan stasiunnya tertib serta pedestriannya ramah bagi pengguna jalan. Jadi turun-naik kereta saat transit dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju penginapan beberapa menit sambil membawa koper atau tas backpack besar dipunggung pun tetap terasa nyaman. Begitupun ketika akan kembali ke bandara, waktunya bisa diperhitungkan.

Pedestrian, stasiun dan kereta. Itu semua mempermudah perjalanan saya. Ada saja hal-hal menarik saat kita menyusuri pedestrian dari dan menuju stasiun. Dari atas kereta melihat lansekap kota. Bersama warga lokal di dalam kereta yang sama merasakan denyut kehidupan kota. Kepedulian suatu negara terhadap infrastruktur publik bisa tercermin dari ketersediaan tiga elemen tersebut, menurut saya. Bahkan ada yang berpendapat, sekarang peradaban sebuah negara bisa dilihat dari situasi dan kondisi di jalan rayanya. Kebiasaan ini berawal dari pengalaman perjalanan keluar negeri pertama pada 1999.

Waktu telah menunjukkan lewat dari setengah sepuluh malam ketika saya keluar dari ryokan untuk membeli dua botol air mineral di konbini (mini market). Tidak banyak mobil melintas di jalan raya di pinggiran kota pada malam hari di musim dingin. Kaki sebelah kanan baru menginjak satu garis zebra cross dan kaki lainnya masih di pedestrian ketika melihat sebuah mobil melaju. Seperti kebiasaan di Indonesia, saya langsung naik lagi ke trotoar. Mobil itu memperlambat kecepatannya, dan dari jarak yang sudah dekat, saya melihat pengemudinya memberi tanda untuk menyeberang.

Stasiun pusat Shinjuku pada rush hours.(Foto:Ist.)

Stasiun pusat Shinjuku pada rush hours.(Foto:Ist.)

Ryokan tempat menginap berjarak sekitar 5 menit berjalan kaki dari stasiun kereta. Pada pagi hari di sudut-sudut jalan masih tampak sisa-sisa puntung rokok. Tak lama kemudian seorang petugas membersihkannya. Warga lokal bergegas-gegas menuruni tangga menuju stasiun di bawah tanah. Sedangkan saya berjalan santai saja sambil minum sekaleng teh hijau hangat yang dibeli dari mesin penjual di trotoar tidak jauh dari ryokan. Karena beberapa kali sesama pejalan kaki permisi minta jalan, saya pun akhirnya minggir dan tetap berjalan di sebelah kiri.

Setelah mengantri membeli tiket dari mesin, saya segera menghabiskan teh dan membuang kalengnya di tempat sampah dengan penanda gambar kaleng. Penumpang tertib membuat dua baris dan menunggu di belakang garis kuning. Keretapun datang. Kaki terasa hangat begitu memasuki gerbong. Kereta dilengkapi penghangat yang ditempatkan di bawah kursi. Sedangkan di musim panas, penyejuk udara di atas yang dinyalakan. Persis 14 menit kemudian, tiba di stasiun pusat Shinjuku.

Aliran manusia di dalam stasiun pusat di tengah metropolitan Tokyo itu bak putaran arus air pada jam-jam sibuk. Saya pernah hampir tersesat karenanya. Petunjuk dalam bahasa Jepang dan Inggris di mana-mana serta petugas-petugas di tempat-tempat strategis membantu menemukan jalan kembali.

Teater Kabuki di kawasan Ginza,Tokyo.(Foto:Ist.)

Teater Kabuki di kawasan Ginza,Tokyo.(Foto:Ist.)

Kedai-kedai dan toko-toko di dalam stasiun bawah tanah maupun di permukaan mulai buka. Saya masuk ke dalam sebuah kedai kecil di pinggir jalan dan memesan roti panggang dan teh panas. Pengunjung lainnya tampak asyik membaca koran, mengerjakan tugas sekolah ditemani secangkir kopi. Dari tempat duduk, saya menonton rutinitas kehidupan kota Tokyo.

Kereta adalah “kaki”nya orang Jepang. Ke manapun bisa dijangkau dengan kereta termasuk bisa memperhitungkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tempat. Dalam perjalanan pergi ke temple, melihat taman di istana kaisar dari pintu timur, ke menara tokyo, ke Ginza, dari atas kereta saya menikmati sight seeing lansekap kota. Bersama warga lokal dalam gerbong kereta, turut merasakan kehidupan di salah satu kota metropolitan dunia ini. Bersama mereka menyeberangi persimpangan-persimpangan jalan dengan zebra cross tumpang-tindih menjalani rutinitas kehidupan yang bagi mereka membosankan.

Pedagang kaki lima pun ada di Tokyo. Jumlahnya tidak banyak dan tidak mengokupasi pedestrian. Penjual ramen di kawasan perkantoran diserbu karyawan yang tertib mengantri menunggu dilayani, makan cepat-cepat sambil berdiri, lalu segera kembali ke kantor. Di sekitar penjual ramen tidak tampak kotor. Di sekitar kawasan Akibahara, ada semacam los kios-kios. Ketika membeli sesuatu di salah satu kios, di dalam struknya tertera pajak penjualan.

Dari kios sampai pusat perbelanjaan dari kedai sampai restoran, pramuniaga ataupun pemiliknya selalu menyapa tamu yang datang, “Irrasshaimase”. Pernah sekali saya makan di satu gerai waralaba makanan cepat saji. Tokonya kecil pekerjanya pun hanya beberapa orang saja. Maka setiap tamu yang makan di tempat harus membuang sisa-sisa pembungkus makanan dan mengembalikan nampannya sendiri.

Satu hari saya sempatkan nonton kabuki di Ginza. Seni pertunjukan tradisional Jepang ini sama dengan wayang di Indonesia. Jalan ceritanya panjang. Di Tokyo, teater pertunjukan kabuki seperti gedung bioskop di sini. Sebelum membeli tiket, penonton bisa mengecek jadwal pertunjukan, lalu memilih menonton seluruh pertunjukan yang bisa menghabiskan sehari penuh, atau beberapa babak saja dalam beberapa jam. Bagi penonton asing disediakan mesin penerjemah dalam beberapa bahasa. Bentuk dan besarnya seperti walkman.

Hari itu saya nonton dua babak saja. Bahasa Jepang yang digunakan para aktor bukan bahasa Jepang text book seperti yang saya pelajari. Teknik dan tata panggungnya keren sekali. Dengan bantuan mesin penerjemah berbahasa Inggris, bersama penonton asing lainnya dan penonton lokal yang mengisi lebih dari separuh kursi di dalam teater, kami sama-sama tertawa, tertegun, dan akhirnya memberikan tepuk tangan panjang. Meskipun salju tidak turun setiap tahun di Tokyo, pengalaman di kota ini turut mempengaruhi dalam menjalankan perjalanan-perjalanan berikutnya.*** (Yun Damayanti)