Terminal kedatangan internasional bandara Ngurah Rai, Bali. Semoga "krisis" gunung Raung cepat berlalu, namun dampak krisisnya harus dikelola.(Foto;AH)

Terminal kedatangan internasional bandara Ngurah Rai, Bali. Semoga “krisis” gunung Raung cepat berlalu, namun dampak krisisnya harus dikelola segera. Mengelola krisis berarti membatasi dampak negatif, mengurangi dampak negatif, dan recovery selekas mungkin.(Foto;AH)

Situasi krisis pariwisata timbul sejak Gunung Raung meletus pada 2 Juli 2015. Ihwal pengelolaan krisis, lebih spesifik lagi crisis management communication, apa yang terjadi di lapangan? Akar krisisnya jelas beyond our control atau uncontrollable factors dalam management. Raung meluncurkan abu yang bisa tersedak oleh mesin jet penerbangan. Dan krisis kali ini lebih khususnya pada pariwisata di Bali.

   Metrobali.com melaporkan bahwa Trikora Harjo, general manager PT Angkasa Pura I, di Bali – mempersilahkan penumpang penerbangan yang tak bisa terbang lantaran pembatalan penerbangan untuk boleh “berkemah” alias tidur-tiduran beristirahat di dalam gedung terminal bandara sampai penerbangan masing-masing dilaksanakan.

Wisatawan yang tidak disediakan kamar hotel oleh maskapai penerbangan dan juga tak memiliki dana cukup untuk membayar kamar hotel, boleh menunggu di dalam terminal bandara sampai saat mereka dapat melanjutkan perjalanan.

Itu diumumkan pada Jumat, 10 Juli 2015, ketika bandara Bali dinyatakan ditutup sementara.

   “Jangan ragu untuk tidur di kursi atau di atas karpet di dalam terminal. Ini memungkinkan. Be our guests, ” begitu Trikora dikutip.

   Untuk penumpang penerbangan dalam negeri yang ingin mengambil bus antar kota untuk melanjutkan perjalanan, Angkasa Pura menyediakan shuttle bus ke Terminal Bus Ubung Denpasar.

   Angkasa Pura juga telah mengumumkan bahwa mereka akan memberikan dispensasi untuk penerbangan yang terpaksa memarkir pesawat mereka lebih lama dan tidak akan memungut biaya parkir tarif normal.

Apa dilakukan kalangan hotel?

 Kemudian pada 12 Juli Bali Hotel Association (BHA) mendesak semua anggotanya untuk “memberikan fleksibilitas dan keringanan” bagi tamu-tamu yang memesan penambahan akomodasi langsung pada hotel terkait penundaan dan pembatalan penerbangan disebabkan oleh gangguan penerbangan dari letusan Gunung Raung. BHA beranggotakan 130 hotel berbintang di Bali.

   BHA menyatakan tak ingin terlihat mengambil keuntungan yang tidak semestinya dari situasi yang tidak menguntungkan dan ingin memberikan bantuan dan empati kepada wisatawan menghadapi ketidaknyamanan karena penerbangan dibatalkan.

   Juga, kalau tamu terpaksa membatalkan atau menunda liburan ke Bali. Anggota BHA didesak untuk menerima, tanpa biaya, rebooking berdasarkan ketersediaan dan tarif yang berlaku selama periode pemesanan baru dan itu berlaku hingga akhir 2015.

 

Penerbangan Australia Paling Sibuk

Maskapai penerbangan Virgin Austsralia mengumumkan “terkait akibat letusan gunung berapi yang sedang berlangsung di Gunung Raung di Denpasar (Bali), Virgin Australia menawarkan pilihan bagi calon penumpang yang telah memesan tiket untuk perjalanan ke Denpasar (Bali), untuk beralih ke tujuan liburan alternatif”.

Ditawarkan 12 tujuan di dalam Australia dan luar negeri termasuk liburan pantai. Bagi yang belum memulai perjalanan dari Australia ke Denpasar berlaku untuk pemesanan sampai 28 Juli 2015.

“Virgin Australia akan menghormati nilai tiket tujuan Denpasar yang telah dibayar oleh tamu untuk diberlakukan ke tujuan yang baru. Jika nilai untuk tujuan baru kurang dari jumlah yang dibayarkan untuk biaya penerbangan Denpasar, keseimbangan akan diterapkan dengan memberikan diskon akomodasi di tujuan baru atau disimpan di bank untuk digunakan terhadap penerbangan di lain waktu. ”

Tujuan baru yang tersedia meliputi:

• Port Vila (Vanuatu)

• Nadi (Fiji)

• Apia (Samoa)

• Phuket (Thailand)

• Cairns

• Darwin

• Broome

• Pulau Hamilton

• Whitsunday Coast

• Gold Coast

• Brisbane

• Sunshine Coast

Para tamu dengan rencana perjalanan dari Australia ke Denpasar antara 8 Juli dan 28 Juli 2015 diminta menghubungi Call Center (nomor 13 67 89) di Australia untuk membatalkan penerbangan ke Denpasar. Begitu mereka telah menerima Kredit Travel, mereka dapat memilih untuk beralih tujuan liburan untuk perjalanan sampai 30 Agustus 2015 serta pembelian diskon akomodasi melalui Virgin Holiday Australia.

Virgin juga telah memperingatkan para tamu yang sedang mempertimbangkan perubahan tujuan untuk memeriksa polis asuransi perjalanan mereka.

“Kami sarankan Anda menghubungi perusahaan asuransi untuk memahaminya dan cakupan untuk tujuan baru dan durasi. Penyedia asuransi Virgin Australia Allianz dapat dicapai di nomor 1300 725 154, ” demikian dijelaskan.

Tapi, memang ada saja yang “luput” dan keluhan pun tak terelakkan. Ketika Jetstar dan Virgin Australia telah kembali terbang melayani perjalanan ke pulau resor Indonesia, Bali, setelah awan abu vulkanik dua kali memaksa penutupan bandara Denpasar selama seminggu, Jetstar “berlari” melaksanakan 19 penerbangan masuk dan keluar dari Bali, mengangkut sekitar 2000 wisatawan kembali ke Australia pada satu hari Selasa. Selanjutnya 2400 penumpang dibawa kembali pada Rabu esoknya.

Virgin Australia membawa pulang 350 penumpang pada dua penerbangan yang berangkat pada hari Seninnya. Angka itu naik menjadi sekitar 2000 pada Rabu esoknya.

Virgin menyodorkan sebuah daftar “alternatif” tujuan bagi mereka yang belum menjalani penerbangan ke Bali dari Australia.

Dua penerbangan tersebut memasang target mengangkut total 36 penerbangan masuk dan keluar dari Bali, pada hari Selasa.

Jetstar beroperasi biasanya delapan kali yang terjadwal tetapi untuk mengatasi situasi krisis itu dioperasikannya 10 penerbangan ekstra.

Qantas, pemilik Jetstar, membantu layanan rute domestiknya untuk meringankan beban Jetstar.

Virgin Australia juga mengoperasikan 18 penerbangan ke dan dari Bali, pada Selasa itu, termasuk delapan layanan tambahan.

Beberapa penumpang terdampar mengeluh tentang bagaimana drama krisis itu ditangani, merujuk pada kurangnya informasi dari operator. Beberapa penumpang bahkan mengeluh menghadapi “kerugian” ( bahkan disebut kebangkrutan) setelah dipaksa untuk membeli tiket baru untuk meninggalkan Indonesia.

Juru bicara Jetstar David Hall setuju keadaan itu mestinya bisa ditangani lebih baik. Namun dia mengatakan upaya terus dilakukan untuk meningkatkan komunikasi dengan orang-orang yang masih terdampar.

“Adil untuk mengatakan kami belum benar-benar sempurna dalam komunikasi kami,” katanya kepada ABC.

“Kami sudah mengerahkan orang tambahan di lapangan, kita memperbarui peringatan perjalanan pada jetstar.com dan kita berkomunikasi dengan teks.”

Kedua maskapai memantau kondisi udara untuk penerbangan, di tengah kekhawatiran angin bisa meniup awan abu dari letusan Gunung Raung kembali ke atas bandara Denpasar.***