logo mengenali negeri

Pantai Parai Tenggiri di pulau Bangka boleh jadi dicoba sebagai model membangun dan mengembangkan suatu destinasi pariwisata. Kawasan Wisata Terpadu Parai Beach, demikianlah sekarang dinamakan oleh pengembangnya, — akan semakin didekatkan pada konsumen dengan akan dibangunnya jalan raya bagaikan jalan by-pass dari ibukota propinsi Pangkalpinang menuju ke kota Sungailiat. Dinamakan jalan lintas timur, panjang 21 km, akan dilaksanakan pembangunannya tahun anggaran APBN 2009.

Menurut perintis dan pengembang kawasan wisata ini, Johnny Sugiarto, dengan jalan itu “turis dari bandara Pangkalpinang dengan bus wisata akan tiba di pantai Parai setengah jam saja”. Sekarang ini ditempuh sekitar satu jam karena melalui jarak 32 kilometer dan meliwati tengah kota Sungailiat.

“Jalan baru itu akan melintasi perjalanan yang sebagian besar menyisir pantai, pemandangan laut yang tak akan membosankan,” kata dia.

Pertama kali pantai itu dibangun 14 tahun yll. Dengan sebuah hotel berbentuk beberapa cottages, pembangunannya sekaligus  disertai kegiatan pemasaran yang melekat – inherent-, karena sang investor sekaligus menggerakkan bisnis travel agent, tour operator, dan kegiatan promosi. Maka sekaligus berjalan bisnis di destinasi tersebut, memelihara, lalu kemudian mengembangkan lagi. Bedanya dengan pengembangan destinasi lain, sebutlah pantai Nusa Dua di Bali, di Bangka itu investornya tunggal seorang swastawan.

Ketika membangun kawasan Nusa Dua Beach di Bali, didirikan sebuah Bali Tourism Development Corporation. BTDC ini sesungguhnya lebih banyak pada kegiatan pengeloalan dan pemasaran kavling. Bertindak sebagai investor pertama datanglah Garuda Indonesia, sebagai sebuah perusahaan milik Negara, membangun Nusa Dua Beach Hotel. Kemudian barulah menyusul investasi dari hotel bermata rantai internasional.

Jalan by-pass yang menghubungakn bandara Ngurah Rai, Denpasar, dengan kawasan baru itu, dibangun dengan biaya bantuan Bank Dunia. Sementara itu, pada zaman tersebut, penerbangan asing yang beroperasi ke pulau Bali pun bertambah. Aksesibilitas wisman dari berbagai Negara bertumbuh pesat.

Pulau Belitong, di akhir dasawarsa 1980an sempat hendak dijadikan oleh Garuda Indonesia sebagai Nusa Dua kedua. Sempat diwacanakan, bilamana Garuda Indonesia memulai investasi sebuah hotel, sebagai layaknya pengalaman di Nusa Dua Beach, maka Belitong itu akan dipromosikan dengan membentuk citra seolah Bali yang kedua. Antara lain dengan cara, pronunciation , – pengucapan – nama pulau itu, akan disebut sedemikian agar terdengar seperti mengucapkan Bali Two. Belitong sendiri lebih popular dengan sebutan Balitung.

Model lain yang tampaknya mirip dengan pembangunan dan pengembangan destinasi Pantai Parai, kini juga sudah “mapan” sebagai sebuah destinasi adalah kepulauan Wakatobi di Sulawesi Tenggara dan Raja Ampat di Papua.

Saya sendiri belum menyaksikan on the spot. Namun dapat ditelaah, kawasan marine tourism disitu dimulai dibangun dengan ‘tekun’ oleh seorang investor warga Swiss.

Dirjen Pemasaran Pariwisata, Sapta Nirwandar, mengakui keuletan dan ketabahan serta ketekunan sang warga asing. Mereka rela bertahun-tahun berdiam di remote area seperti itu, untuk kemudian membangun setahap demi setahap. Akhirnya warga dari berbagai Negara telah datang berkunjung dan memberikan bisnis.

Dari situsnya terkesan bagaimana usaha marine tourism destination, telah menaikkan taraf hidup dan penghasilan para nelayan, seraya semua pihak lokal diajak ikut serta memelihara alam dan mengkonservasi biota laut yang kaya raya.

Akhirnya kini lapangan terbang di pulau Wakatobi ditingkatkan oleh pemerintah dan pesawat Boeing akan bisa landing dan take off mulai tahun depan.

Adapun di Parai Beach Bangka, Johnny Sugiarto melangkah lagi akan menambah suatu bangunan dengan fasilitas 200 kamar hotel. “Pengerjaannya akan dimulai Januari 2009 ini,” kata Sugiarto.

Dari proses-proses di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa upaya membangun dan mengembangkan suatu tourist spot – objek wisata – sampai pun suatu destinasi, sedari awal konsep memerlukan sekaligus penerjemahan operasionalisasi pemasaran dan pemeliharaan berlekanjutan.

Mengapa? Di berbagai objek wisata daerah lain, selama ini dialami ketiadaan konsep yang lengkap secara linier. Pemerintah bersedia membangun sarana dan prasarana, mulai dari hotel akomodasi, jalan darat, pondok-pondok dan fasilitas umum untuk konsumen pariwisata. Ya di tengah kota, ya pada agro wisata, sampai wisata marine. Namun, karena kemudian tak jelas siapa mengelola dan siapa yang memasarkan, maka pengalaman menunjukkan banyak fasilitas-fasilitas yang sudah dibangun itu tak lama kemudian menjadi sia-sia. Tak terawat, karena tak dipergunakan, lantaran jumlah konsumen pemakai tak kunjung mendukupi, atau tak meningkat.

Fakta itu ditemui di Sumatra, Sulawesi bahkan juga di Jawa.

Kalaupun Pantai Parai dicoba sebagai model pengembangan suatu destinasi, bedanya dengan kebutuhan masa kini, rasanya terletak pada rentang waktu. Kemajuan dan keadaan Kawasan Wisata Terpadu Pantai Parai sekarang ini, dimulai 14 tahun silam. Bila membangun suatu kawasan baru lain, mungkin rentang 14 tahun bisa diperpendek semenjak perencanaan untuk mencapai kemajuan dan keadaan seperti halnya Pantai Parai. Dan kalauPantai Parai diinisiasi dan dilanjutkan oleh singleman investor, di kawasan lain juga boleh dijadikan lebih cepat dengan membuka kesempatan pada lebih banyak calon investor.

Pemerintah Pusat dan Pemerintah tinggal memfasilitasi sebaik-baiknya. Karena itulah kita melihat, bahwa pada periode dewasa ini, instansi pemerintah mempunyai dua ujung tombak yang paralel untuk membangun: bagian pemasaran dan bagian pengembangan destinasi. ===