Wisman pun ikutan ‘mengelola’; recovery segera, tapi waspada

Asia Pasifik, fokus pasar Indonesia saat ini

Bom itu meledak di Mega Kuningan Jakarta, Jumat 17/7. Tapi sejak Sabtu (18/7) jumlah wisman mencapai 30 orang perhari mengunjungi orangutan di Sumatra Utara, yang biasanya hanya 10-15  orang. Salah seorang wisman asal Inggris, Dan Parnell mengatakan akan menikmati keindahan Bukit Lawang selama beberapa hari ke depan. Ia mengaku ledakan bom di Jakarta tidak mempengaruhi minatnya mengunjungi sejumlah tempat wisata di Indonesia. Hari Minggunya (20/7) serombongan 25 wisatawan asal Belanda , tiba di Situ Cangkuang di luar kota Bandung, untuk menaiki rakit menyusuri perairan hendak melihat dari dekat bukit Palalangon, yang dahulu pernah dijadikan lokasi beristirahat Ratu Wilhelmina. Mereka mengatakan tidak merasa takut berwisata ke Garut, walau ada bom di Jakarta.

Yah, wisman pun ternyata seolah ikut “mengelola” krisis dampak peledakan bom itu. Ketika kita tertunduk sedih prihatin atas korban yang ditelannya. Dan Presiden RI beserta aparat keamanan mengumumkan tekad memburu pelaku dan otak teroris. Di bandara internasional Juanda, Surabaya, jumlah warga internasional yang mendarat  kini dicatat mencapai rata-rata 1.200 orang per hari atau naik 12 persen dari tahun lalu.

Kuat indikasi kini menunjukkan pariwisata Indonesia semester kedua akan berhasil mencapai target kunjungan sesuai rencana pemerintah yaitu 6,4 juta wisman. Krisis kepercayaan mengenai keselamatan dan keamanan di Indonesia terkait peristiwa terror bom di hotel JW Marriott dan RitzCarlton pada Jumat 17-7-2009 tampaknya tidak berlangsung panjang, diindikasikan tidak adanya dialami pembatalan atau penundaan pembelian tiket oleh maskapai penerbangan asing yang beroperasi ke Indonesia. Pelaku bisnis dan pemangku kepentingan pariwisata di Indonesia tinggal mengupayakan dinamika kreatifitas upaya mengatasi “gelombang” krisis ekonomi dunia dan dampak virus A H1N1.

Bersamaan itu, daerah-daerah destinasi utama seperti Bali, Yogyakarta, Sumatra Utara, Kepulauan Riau, juga mengabarkan perkembangan serupa.

Sekretaris Jendral Inaca, Indonesian National Air Carrier Association, Tengku Burhanuddin, seraya mengutip keterangan ketua Barindo , Board of Airlines Representatives in Indonesia, mengindikasikan bahwa penerbangan domestik maupun internasional tidak mengalami penurunan jumlah penumpang atau pembatalan booking berkaitan dengan peristiwa terror bom tersebut. Barindo beranggotakan 26 maskapai penerbangan internasional yang beroperasi ke Indonesia,

Selama periode Januari-Mei 2009 telah tercapai 2,41 juta kunjungan wisman ke Indonesia, yang berarti kenaikan 1,69 persen di atas periode sama tahun lalu. Berdasarkan pola proporsi semesteran setiap tahun jumlah kunjungan wisman ke Indonesia pada semester kedua akan lebih tinggi, maka secara nasional jumlah 6,4 sampai 6,5 juta wisman akan bisa dicapai di ujung tahun 2009.

Dukungan lain datang dari kenyataan, pada semester pertama 2009 cukup banyak kegiatan promosi internasional dilaksanakan oleh Depbudpar bersama industri pariwisata, di ASEAN, Asia, Eropa dan Australia. Demikian pula beberapa airlines menambah rute dan menambah frekuensi terbang ke Indonesia sejak semester pertama hingga semester kedua ini. Penerbangan tersebut melayani rute dari beberapa destinasi Asia  dan Australia.

Dua macam gerakan itu mestinya akan memberikan hasil di semester kedua 2009 ini.

Dilihat dari gerakan maskapai penerbangan, destinasi yang akan bertambah jumlah wismannya lebih dari biasanya selama ini, bisa diharapkan akan terjadi di Padang, Medan, Aceh, Makassar, Manado, Surabaya dan Lombok. Maka industri pariwisata lokal semestinyalah menyongsong peluang tersebut.

Krisis akibat peledakan bom pada “Jumat hitam” yll dapat cepat teratasi. Presiden dan aparat keamanan langsung menyatakan tekad memburu pelaku dan otak teroris. Tinggal kini kita bersama masyarakat internasional menghadapi dan berupaya mengatasi dampak negatif yang bisa ditimbulkan oleh krisis ekonomi global dan masalah virus A H1N1 atau flu babi terhadap pariwisata.

Tingkat hunian hotel berbintang maupun non-bintang di destinasi utama Yogyakarta stabil dan tidak terpengaruh  dengan aksi teror peledakan bom di Jakarta (Jumat 17/7), kata Himpunan PR Hotel di Yogyakarta, dimana tingkat hunian hotel masih diatas 80 persen.

Statistik menunjukkan total kunjungan wisman ke Bali sebanyak 870.029 orang selama periode Januari-Mei 2009, meningkat 9,76 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya 792.657 orang. Negara yang terbanyak memasok wisatawan ke Bali adalah Australia 137.018 orang, disusul Jepang 132.122 orang, China 85.828 orang, Malaysia 58.192 orang dan Korea Selatan 52.311 orang. Selain itu juga tercatat wisatawan Taiwan 48.168 orang, Perancis 37.256 orang, Inggris 29.215 orang dan Rusia 28.829 orang.

Di bandara internasional Surabaya, Jawa Timur dicatat jumlah warga internasional yang mendarat  kini mencapai rata-rata 1.200 orang per hari atau naik 12 persen dari tahun lalu. Surabaya dihu bungkan oleh maskapai penerbangan ke Singapura, Malaysia dan China.

Dari Medan, Sumatra Utara dilaporkan, pada hari biasa hanya sekitar 10-15 orang wisman yang datang ke Bukit Lawang, tempat habitat orangutan, sejak Sabtu (19/7) jumlahnya mencapai 30 orang per hari. Salah seorang wisman asal Inggris, Dan Parnell mengatakan akan menikmati keindahan Bukit Lawang selama beberapa hari ke depan. Ia mengaku ledakan bom di Jakarta tidak mempengaruhi minatnya mengunjungi sejumlah tempat wisata di Indonesia.

Di Jawa Barat, warga negara Belanda tidak merasa takut berwisata ke Garut, apalagi jika jauh sebelumnya telah merencanakan perjalanan nostalgia ke “Swiss van Java” tersebut, yang selama ini mendapat julukan kota dodol dan jeruk itu, walau ada bom di Jakarta. Demikian diungkapkan 25 wisatawan asal Belanda , yang tiba di Situ Cangkuang hari Minggu (19/7) untuk menaiki rakit menyusuri perairan serta kembali melihat dari dekat bukit Palalangon, yang dahulu pernah dijadikan lokasi beristirahat Ratu Wilhelmina.

Laporan dari Sulawesi Tenggara mengatakan, sekitar 15 negara akan memeriahkan festival layang-layang internasional yang dilaksanakan di Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mulai 11 Agustus 2009. Beberapa negara yang telah memastikan hadir mengikuti festival layang-layang internasional itu antara lain Korea Selatan, Italia, Singapura dan Malaysia.

Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia, Asita, Ben Sukma, dikutip media mengatakan peristiwa bom Jakarta tanggal 17-7-2009, yang menelan korban jiwa dan luka-luka, dan dikutuk oleh dunia, memang berbeda dari peristiwa bom Bali I dan II, sehingga dampaknya tidak seburuk seperti peristiwa di Bali tempo hari.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, PHRI, tampaknya keliru dan diberitakan menduga tingkat okupansi hotel di Jakarta akan segera anjlok menjadi 30 persen atau anjlognya sekitar 30 persen akibat bom di JW Marriott dan RitzCarlton itu.

Dan Gubernur Jakarta pada hari ke-10 setelah tragedi, menutup kegiatan Media Crisis Center yang sebelumnya dibuka di Belagio, gedung bersebelahan dengan lokasi ‘ground zero’. Gubernur mengembalikan fungsi dan pekerjaan mengelola “dampak” krisis ke situasi normal. Relatif cepat mengembalikan situasi normal seperti ini, rasanya tentu menjadi satu kebijakan tersendiri untuk tidak larut tanpa sengaja mencerminkan seakan situasi masih tetap gawat.

Di hari pertama peristiwa bom itu, malamnya Menteri Budpar Jero Wacik menyatakan, Indonesia cukup berpengalaman untuk segera bertindak mengelola krisis yang terjadi seperti halnya bom di hari Jumat pagi itu.

Last but not least, sebuah berita hari Minggu kemarin (26/7) menyebutkan, pihak DPR-RI menyatakan persetujuan disediakannya oleh pemerintah dana untuk recovery pariwisata akibat bom Jakarta itu, sebesar Rp 95 milyar. Bilamana digunakan tepat sasaran, maka daya untuk menarik kunjungan wisman pasca terror bom “Mega Kuningan hitam” itu, mestinya tentu semakin kuat. Pertanyaannya, bagaimana caranya?===