Mari membangun pariwisata bahari. Siapa yang bisa melupakan berenang di perairan dangkal dengan air sejernih kristal yang hangat, arus yang tenang seakan membuai badan dan pikiran? Bermanuver di antara terumbu karang dari yang berukuran kecil sampai besar, dan ditemani ikan-ikan berwarna-warni? Ada yang penasaran atau tidak, terumbu karang cantik itu termasuk tanaman atau hewan atau bebatuan?

Terumbu karang adalah hewan meskipun mereka menampakkan beberapa karakteristik mirip tanaman dan seringkali dikira batu. Dalam klasifikasi ilmiah, terumbu karang termasuk divisi (phylum) Cnidaria dan kelas Anthozoa. Mereka berkerabat dengan ubur-ubur dan anemon.

Terumbu karang adalah koloni hewan laut mikroskopis yang namanya polip. Satu terumbu karang bisa terbentuk dari ribuan hingga ratusan ribu polip. Hasil keluaran (sekresi metabolisme) ribuan hewan mikroskopis itu kemudian mengeras menjadi seperti batu dan membentuk terumbu. Terumbu karang menjadi rumah yang dibuat sendiri oleh polip, seperti siput membuat cangkangnya. Jadi yang kita lihat saat snorkeling atau diving adalah rumah polip bukan hewannya.

Polip tuh di sini. (Gambar:Etwin K.)

Polip tuh di sini. (Sketsa:Etwin K.)

Lalu di mana si polip berada? Anda pernah melihat terumbu karang misalkan yang berbentuk meja. Di permukaannya kita akan melihat banyak benjolan-benjolan kecil mirip jerawat di wajah. Nah, polip si hewan mikroskopis  berada di dalam benjolan-benjolan kecil itu.

Diameter individu polip rata-rata 1-3 mm. Namun, beberapa karang, seperti karang soliter karang piring Fungia memiliki polip tunggal yang dapat tumbuh sampai berdiameter 25 cm.

Koloni hewan hanya berada di lapisan paling atas. Di bagian bawah adalah lempeng kapur sebagai penopangnya. Mereka hanya berada di lapisan paling atas karena membutuhkan air laut dan sinar matahari. Dia memakan plankton yang disaring dari air laut dan sinar matahari membantu proses fotosintesa atau pencernaannya. Polip membutuhkan waktu yang amat panjang untuk ‘menumbuhkan’ terumbu karangnya.

Jenis-jenis karang terdiri dari karang keras, karang lunak, dan karang laut dalam. Seberapa besar koloni menghasilkan kalsium karbonat untuk mengeras menjadi karang tergantung pada spesiesnya. Beberapa spesies yang bercabang-cabang dapat tumbuh tinggi atau panjang sampai 10 cm per tahun (sama seperti pertumbuhan rambut manusia). Karang lainnya, seperti spesies yang berbentuk kubah dan plat, dapat tumbuh lebih besar tetapi hanya dapat tumbuh 0,3-2 cm per tahun. Sebuah koloni karang lunak memiliki potensi pertumbuhan 2-4 cm saja per tahun.

Sekarang kita sudah tahu apa terumbu karang. Itulah mengapa saat snorkeling atau diving kita harus berhati-hati agar tidak mematahkan terumbu karang apalagi sampai menginjaknya. Atau, kita tahu keindahan kehidupan di bawah laut hanya dari film animasi Finding Nemo dan Spongebob.

Cintai Laut, Peduli Daratan 

Banyak hasil penelitian menunjukkan keberlanjutan kehidupan di laut, termasuk menjaga kecantikan terumbu karang, sangat bergantung pada kondisi di daratan/pulau. Dalam lingkup pariwisata, apakah itu berarti untuk membangun dan mengembangkan wisata bahari di Indonesia bermula dari daratan/pulau yang kita tempati?

Warna-warni di bawah laut

Di perairan jernih dan minim polusi,pemandangan seperti ini dapat dinikmati di kedalaman kurang dari satu meter.(Foto:Ist.)

Di perairan jernih dan minim polusi,pemandangan seperti ini dapat dinikmati bahkan di kedalaman kurang dari satu meter.(Foto:Ist.)

 

Sebagian besar terumbu karang mendapatkan warna kuning hingga bernuansa coklat dari simbiosis alga yang hidup dalam jaringan mereka. Karang lainnya mengandung pigmen pelindung yang memberikan warna-warna cerah. Paparan sinar ultraviolet (UVA dan UVB) dapat merusak DNA. Beberapa spesies karang yang berada di perairan dangkal memiliki pigmen pelindung untuk mengurangi efek negatif dari sinar ultraviolet. Pigmen-pigmen ini umumnya berwarna biru, ungu, atau merah muda dan beberapa warna cerah yang ditemukan di beberapa karang.

Yang memberi warna pada terumbu karang adalah polip, hewan mikroskopis di laut. Jika polipnya mati, terumbunya akan berubah menjadi putih sebab yang tersisa hanya kapur (calcium carbonate). Penyebab terbesar penurunan keanekaragaman warna hingga kematian terumbu karang ialah kegiatan manusia di daratan.

Apa yang telah dilakukan kepada laut kita

Polusi di darat dan pembangunan di wilayah pesisir menyumbangkan masing-masing sekitar 22 persen dan 30 persen potensi kerusakanterumbu karang di bumi. Tekanan terhadap ekosistem terumbu karang sebagian besar berasal dari daratan, terutama bahan-bahan beracun, sedimentasi, dan kandungan nutrisi berlebih.

Polusi di daratan merupakan dampak dari misalnya pertanian, deforestasi, air hujan, permukaan tanah, pembangunan di wilayah pesisir, pembangunan jalan, dan tumpahan minyak dan bahan-bahan kimia. Sumber polusi berasal dari berbagai kegiatan di daratan yang diangkut oleh air di permukaan, limpasan air, rembesan air tanah, dan deposisi atmosfer ke perairan di pesisir.

Sedimentasi, termasuk semakin meningkatnya sedimen tersuspensi di atas perairan, umumnya diakui menjadi salah satu penyebab utama kerusakan ekosistem terumbu karang. Kombinasi suspensi dan deposit sedimen menyebabkan pertumbuhan karang terbatas, mempengaruhi pola makan, proses fotosintesis, penyerapan plankton, dan keberlangsungan hidup terumbu karang, seperti yang ditunjukkan dalam berbagai penelitian. Dampak lain dari sedimentasi termasuk menutupi terumbu karang secara langsung. Meskipun beberapa karang dapat tumbuh subur di air keruh, namun jenisnya tidak banyak dan kedalamannya pun terbatas dibandingkan jenis-jenis karang yang berada di air jernih.

Selain sedimen, sumber pencemaran dari daratan yang mempengaruhi ekosistem terumbu karang adalah pestisida, hidrokarbon dari minyak bumi, farmasi, logam berat, patogen, dan kandungan nutrisi berlebih. Kadar nitrogen dan fosfor yang terlarut dalam sampah, air limbah, dan pupuk mendorong pertumbuhan alga lebih cepat. Keberadaan alga dalam jumlah berlebih menjadi pesaing bagi karang muda dan dewasa. Pertumbuhan alga yang meningkat juga akan mempengaruhi keberadaan terumbu karang dan dalam kasus yang ekstrim dapat mengakibatkan kondisi eutrofik di perairan karang.

Penampang anatomi koloni polip terumbu karang. (Gambar:Ist.)

Penampang anatomi koloni polip terumbu karang. (Gambar:Ist.)

Polip pembentuk terumbu makan dengan cara menyaring air laut yang juga datang dari daratan. Polusi yang ditransmisikan terutama dengan air bukan hanya akan mengurangi persediaan makanan bagi polip tetapi mereka juga akan menyerap polusinya dan pada akhirnya akan mematikan hewan-hewan mikroskopis beserta karangnya. Polusi apa saja yang berasal dari daratan akan mempengaruhi terumbu karang.

Pertumbuhan populasi manusia yang cepat, permintaan sumber daya perikanan, penggunaan teknologi perikanan yang lebih efisien, dan manajemen yang tidak memadai serta penegakan peraturan yang lemah telah menyebabkan menipisnya spesies dan kerusakan habitat karang kunci di banyak lokasi. Terumbu karang dan habitatnya terkait dengan penyediaan sumber daya perikanan komersial, rekreasi dan sub sumber perikanan lainnya yang penting. Memancing dan perikanan tangkap memainkan peran sosial dan budaya sentral dalam banyak masyarakat pulau dan menjadi sumber penting protein masyarakat. Dan ancaman tersebut diperburuk dengan tekanan lainnya, yakni perubahan iklim. *** (Yun Damayanti)