Tanyakanlah pada unsur-unsur industri, bagaimana agar kunjungan wisman ke negeri ini tidak tertinggal jauh dibanding negara jiran? Umumnya menjawab, tergantung pada pemerintah. Tanya lebih jauh tergantung bagaimana? Sistem, cara promosi dan produk jangan begitu-begitu saja. Tapi masuk lebih rinci lagi, masalaahnya juga terletak pada antar industri kita yang tidak cukup kerjasamanya. Nah, mengenai ini contohnya apa?

 Kita berbincang antara lain dengan Andi Rusli, manager Product and Contracting di Pacto Tour Travel. Dalam hal bisnis inbound tourism, yaitu mendatangkan wisman, Pacto nomor dua terbesar di Indonesia, setelah Panorama Tour Travel. Sebelumnya, Pacto itu nomor satu terbesar.

 Contohnya? Kalau MATA (Malaysia Association of Travel Agent) dan NATAS (National Association of Travel Agent Singapore) mengadakan travel show, misalnya, di masing-masing event itu tiap airlines utama negara tersebut pasti tampil. Tentu dimaksudkan Malaysian Airlines dan Singapore Airlines. Dan para travel agent peserta pada ajang promosi itu, menjual paket-paket wisata, di dalam paket itu, harga tiket airlines diberikan diskon 50%. Jadi, beli satu dapat dua. Maka, selama beberapa hari event tersebut, para konsumen langsung membeli. Jadi, selain direct sales terjadi, dampak promosinya tentu berganda secara spesifik.

 Taktik seperti itu, ”saya rasa belum pernah terjadi di antara industri kita dengan airlines utama kita, Garuda Indonesia misalnya,” begitulah dimaksudkan oleh Andi Rusli.

Memang terbayang andaikan berlaku proses seperti ini. Di event serupa di negara luar, di ASEAN dan Asia umumnya, bila pada event semacam itu, Garuda Indonesia, instansi pariwisata, unsur-unsur industri pariwisata, yang ikut serta pada ajang promosi itu, beberapa bulan sebelumnya mengemas paket-paket wisata dengan harga khusus. Lalu melaksanakan ‘diret sales’, dampak gandanya tentu signifikan dan cocok dengan situasi yang dihadapi Indonesia.

 Indonesia masih menghadapi citra dan persepsi publik yang agak ragu untuk bepergian ke sini. Yaitu sebagai sisa-sisa dampak negatif dari kejadian-kejadian masa lalu, mulai dari terorisme, bencana alam sampai travel advisor dls. Terobosan direct sales akan menghasilkan komunikasi “to show rather than to say.”

 Bahkan, pada event-event promosi ekspor yang diikuti atau diselenggarakan oleh BPEN (Badan Pengembangan Ekspor Nasional) di mancanegara, bisa juga diselipkan promosi dan direct-sales produk wisata. Agar terejawantahkan juga di situ konsep promosi TTI, Trade, Tourism dan Investment. Ini, tentu merujuk pada keterbatasan relatif anggaran berbagai instansi pemerintah.

 Menggarap ‘bilateral’

Baik juga mempertimbangkan pendekatan baru, yaitu model ‘bilateral comparative approach’. Muangthai, tahun lalu 2007 menerima 230.000 kunjungan warga Indonesia, Malaysia menerima 1,8 juta. Sebaliknya, Indonesia menurut statistik 2006 menerima 42.155 kunjungan warga Muangthai, dan sekitar 699.124 dari Malaysia. (Statistik 2007 belum diumumkan). Namun terlihat, timpang sekali, bukan?

Muangthai dan Malaysia, di Indonesia, menurut Andi Rusli, bisa sampai empat kali mengadakan kampanye penjualan langsung di berbagai mal, di beberapa kota. Dengan taktik penjualan direct sales seperti diuraikan di atas.

Kita juga bisa melihat, selalu ada iklan-iklan di media di Indonesia, di mana promotion board Malaysia dan Muangthai, memasang iklan yang sekaligus bersama dengan airlines, dan travel agent menawarkan paket wisata. Juga berupa advertorial, misalnya, seakan laporan perjalanan bagaimana ’orang-orang muda mudah dan murah berkunjung berdarmawisata’. Dapat dibayangkan, beberapa bulan sebelum iklan-iklan kampanye itu muncul, antara instansi pariwisatanya dengan badan promosi, dengan airlines, dan dengan travel agent, perhotelan, dls dilaksanakan koordinasi, negosiasi, dan tercipta konsorsium-konsorsium. Terlepas dari bagaimana bentuk konsorsiumnya. Mungkin juga tanpa bentuk. Lalu nyatanya tercipta paket-paket wisata lengkap dengan ’harga yang menarik’ dan spesifik untuk menarik wisman.

Pada momentum semester kedua VIY2008, agaknya pola itu masih bisa dipertimbangkan. Bila bisa dilaksanakan, akan membantu mendongkrak kunjungan wisman, selain untuk tahun ini, tentu berdampak panjang untuk periode tahun 2009.

Baik juga mengikuti pernyataan dari Mrs. Juthaporn Rerngronasa, Deputy Governor for Marketing Communications, Tourism Authority of Thailand, yang di-release di internetnya baru-baru ini, sbb.:

The increasing number of visitors from Indonesia is greatly attributed to the success of marketing plans executed by the TAT office in Singapore. Thailand welcomed 230,000 visitors from the market in 2007, a 7.2% increase from the previous year. Statistics in the first four months of 2008 showed a 32% increase in the number of Indonesian tourists from the same period of last year.

TAT expects to welcome 265,600 Indonesian tourists by this year-end, projecting an 8.06% increase”, he added. In 2009, the target is 287,000. With the TAT planning to open a new office in Jakarta in 2010, it certainly looks like the Indonesian market is being given some serious attention.

Dengan dikompilasi, kunjungan warga Indonesia ke Thailand terlihat sbb:

2006 : 215.000

2007 : 230.000

2008 : 265.000 (optimis tercapai berdasarkan hasil sampai sekarang, 8,06% kenaikan)

2009 : 287.000 (target)

2010 : Kantor promosi TAT akan dibuka di Jakarta.

Menurut statistik kita di Indonesia, kunjungan warga Muangthai ke Indonesia selama 10 tahun terakhir relatif stabil saja, barulah sebagai berikut:

Tahun 1996 sampai 2006, masing-masing tahun sbb.:43,408 ; 45,676 ; 47,335 ; 34,918 ; 48,477 ; 50,489 ; 50,589 ; 42,585 ; 55,024 ; 44,897 ; 42,155 .

Adapun ihwal Malaysia, telah kita telaah pada tulisan sebelumnya. Intinya adalah, kalau Malaysia tahun 2007 yll berhasil menarik 1,8 juta kunjungan warga Indonesia ke sana, bagaimana agar sebaliknya jumlah kunjungan warga Malaysia ke Indonesia secepatnya menyamai ?

Bagi Sekretaris Jendral Depbudpar, Wardiyatmo, mengamati dan mengakui, metode kampanye Muangthai di Indonesia bertitik berat pada promosi penjualan langsung. Misalnya, di berbagai mal. Sama seperti dikatakan oleh Andi Rusli dari Pacto Travel. Sedangkan Malaysia, menurut pengamatan Wardiyatmo, menekankan promosi menggunakan cyber alias internet. Ini masuk akal bilamana diikuti dinamis nya isi dan tampilan berbagai situs internet yang dikelola oleh badan pariwisata Malaysia.

Namun saya masih tetap menambahkan dan menggaris bawahi, model iklan dengan direct sales campaign dan tulisan-tulisan reporter yang diundang, maupun advertorial, juga memberi pengaruh dalam mendorong “desire” (keinginan segera) calon konsumen untuk membeli paket tur, di samping meluaskan ‘awareness’.

Konsorsium per negara target?

Memang berbeda, Malaysia dan Singapura tidak termasuk tujuh tempat di Asia yang oleh study UN-WTO dinyatakan paling potensial menghasilkan terbanyak outbound tourists di Asia Pasifik dewasa ini, yaitu Australia, China, Hong Kong, India, Japan, Korea, dan Thailand. Namun survey lain memasukkan dua negara tetangga itu.

Produk wisata sebenarnya merupakan masalah pokok. Pacto Tour Travel, yang tahun lalu memasukkan sekitar 30.000 wisman, dan pasar utamanya adalah berfokus pada Eropa Barat, lebih melihat masalah produk dan kemasan kita masih lemah.

Produk ‘orang utan’ di Sumatra Utara, sebagai contoh, menurut Andi Rusdi. Kita punya kawasan habitat dan penghuni orang utan yang lebih baik dari yang ada di Sarawak. Tapi infrastruktur, akomodasi dan faktor pendukung lainnya, dan pengemasan produknya, lebih baik ketimbang yang bisa kita tawarkan. Maka, mereka lebih berhasil menjual.

Oke, akhirnya salah satu inti topik yang bisa dicuatkan dari kompilasi ini akan berkenaan dengan kemungkinan cara baru menggarap bilateralcomparative approach dan bilateral bench-marking.

Untuk menggarap pasar Muangthai, bisakah instansi pemerintah, airlines yang beroperasi ke sana, industri akomodasi dan tour operator, membuat konsorsium-konsorsium yang melaksanakan strategi kampanye pemasaran bersama, termasuk menerapkan taktik direct-sales campaign? Demikian juga terhadap pasar di Malaysia. Bisa dipertimbangkan untuk beberapa negara tertentu anggota ASEAN.