Sarasehan di atas kapal dalam pelayaran antara Jakrta-Batam. Kendati di tengah topik Wisata Bahari, saya utarakan ihwal pembangunan destinasi dengan pendekatan yang smple, kendati di belakangnya ada penyiapan yang komrehensif.

Sarasehan di atas kapal dalam pelayaran antara Jakrta-Batam. Kendati di tengah topik Wisata Bahari, saya utarakan ihwal pembangunan destinasi dengan pendekatan yang smple, walaupun di belakangnya ada penyiapan yang komprehensif. (foto:Kemlu)

Ini boleh dikatakan hebat, belum lama kok, Oktober yang lalu. Kemenlu direktorat asia pasifik menyelenggarakan sarasehan bertema Wisata Bahari Untuk Kemajuan Negeri. Pernah kita catat di sini. Beberapa pendukung untuk memberinya predikat hebat: instansi kemenlu mau bicara dan peduli mengembangkan pariwisata; pilihannya wisata bahari, diadakannya di atas kapal Pelni KM Kelud, sambil berlayar dari Tanjung Priok menuju ke Batam; penyelenggaranya direktorat yang membawahi wilayah asia pasifik, sementara wilayah ini pasar utama bagi wisata bahari Indonesia. Para pesertanya dan narasumbernya lengkap Pentahelix: Akademisi, Asosiasi, Pelaku Bisnis, Instansi Pemerintah, dan Media. Semoga saja, dan pantas jadinya, jika instansi Kemenlu yang peduli hendak mendukung pengembangan pariwisata seperti ini, melanjutkan lagi. Apalagi kalau kemudian diketahui apa dan bagaimana follow-up nya hasil efektifnya. Ihwal hasil efektif ini, tentu terkait dengan wilayah tugas direktorat asia pasifik sendiri, sementara di sektor pariwisata pada bidang wisata bahari, asia pasifik merupakan pasar utama yang diharapkan akan mengirim wisman ke Indonesia .

Kami berpose di geladak kapal Kelud. Ada peserta dan narasumber, Didien Junaedi, Ketua GIPI yang juga sekjen Gahawisri (kedua kiri), Ibu Helen pengusaha wisata bahari berbasis di Ambon (ketiga kiri), Arifin Hutabarat  di sebelahnya.

Kami berpose di geladak kapal Kelud. Ada peserta dan narasumber, Didien Junaedi, Ketua GIPI yang juga sekjen Gahawisri (paling kiri), Ibu Helen pengusaha wisata bahari berbasis di Ambon (kedua kiri), Arifin Hutabarat di sebelahnya.

Dari kaca mata penulis yang mengamati pariwisata, saya selipkan satu prospek, bahwa untuk membangun dan mengembangkan destinasi, dapat dirumuskan dengan format sederhana  tanpa menganggapnya sebagai penyederhanaan yang berlebihan (over simplified). Jika pengembangan destinasi merupakan domain para pemerintah daerah, maka titik awal menyusun perencanaan sebenarnya bisa dimulai dengan memilih fokus-fokus pembangunan fisik seperti ini : TTI AH destinasi dan pemda

Jadi, sebenarnya tidak rumit-rumit amat. Justru jangan diperumit, misalnya, kecenderungan kita di daerah yang saking bangganya akan kekayaan alam, menyatakan bahwa daerahnya mempunyai sekian puluh atau sekian ratus objek-objek wisata yang menarik. Nah, harus berani memilih beberapa saja yang hendak diunggulkan, 3, 5, atau 6 spots, hendak dikelola, menjadi tourist spot untuk pusat-pusat kunjungan wisatawan. Kenyataan menunjukkan, selama ini, kita di daerah mengaku punya puluhan hingga ratusan ODTW,—tapi akhirnya get nothing ketika tak ada yang sungguh direalisasi, atau tak ada pengelolaan yang memadai, bisa-bisa terjebak pada kelebihan nafsu tapi tenaga kurang…

Waktu itu saya sebenarnya bertugas narasumber memaparkan peran media dalam pengembangn wisata bahari. Tapi tak dapat terhindar dari memasuki wilayah pengembangan destinasi, yang dari perspektif media saya nyatakan mendekatinya dengan news analysis, dan cara itu kaya akan aspek faktual.***(Arifin Hutabarat)