Gunung Batok dan savana di latar belakang dari Bukit Cinta di kawasan Gunung Bromo, akhir minggu lalu.

Gunung Batok dan savana di latar belakang dari Bukit Cinta di kawasan Gunung Bromo, akhir minggu lalu.

Pukul 2.30 dinihari kami berangkat naik kendaraan jip dari satu hotel di desa Sukapura, kawasan gunung Bromo. Tujuannya ke salah satu lokasi dari mana akan disaksikan proses terbitnya matahari di ufuk sebelah timur. Desa Sukapura itu merupakan batas bolehnya naik kendaraan-kendaraan ukuran bus, di situ diparkir, dan para wisatawan berganti kendaraan menggunakan mobil jip.

Di kawasan wisata gunung Bromo ini kemana-mana perjalanannya ditempuh dengan mobil jip atau menunggang kuda. Satu dua orang wisman tampak berjalan kaki. Sekitar 300 jip milik individu

Dan kita akan mengucapkan, Maha Sucilah Sang Maha Pencipta...Subhanallah...(Foto:AH)

Dan kita akan mengucapkan, Maha Sucilah Sang Maha Pencipta…Subhanallah…(Foto:AH)

penduduk setempat diperkirakan yang ada di situ, dan sekitar 500 ekor kuda juga dimiliki para perorangan masyarakat di sekitar gunung Bromo.  Pada musim puncak wisata seperti liburan lebaran, tahun baru, kadang juga hari-hari libur panjang lainnya, semua itu “keluar” dan terpakai. Di hari-hari libur biasa seperti akhir pekan, diperkirakan separuhnya yang terpakai oleh wisatawan.

Itulah salah satu uniknya tur Bromo. Wisman sebagian lebih suka tinggal di hotel di Surabaya, dan dari hotel di tengah kota, tengah malam pukul 12 dijemput oleh guide tur lalu ditransfer menuju gunung Bromo. Tiba di desa Sukapura itu pukul tiga pagi dan langsung tukar mobil dengan kendaraan jip. Setiap jip dapat mengangkut 4 orang di kursi bagian belakang dan satu orang di kursi sebelah pengemudi. “Untuk wistawan dalam negeri malahan dua orang duduk di kursi sebelah pengemudi,” ujar Pugu, pengemudi yang membawa saya.

Tapi sebagian wisatawan langsung berangkat dari bandara Juanda, Surabaya, setibanya di bandara itu dan dengan mobil menuju ke desa Sukapura tadi. Itu yang saya lakukan akhir minggu lalu.

Ada tiga lokasi yang biasanya dipenuhi oleh wisatawan untuk menantikan hingga menyaksikan matahari perlahan timbul di balik ubun-ubun bukit  dan gunung di arah sebelah timur. Itu terjadi pukul lima, warna jingga tipis mulai menyapu langit di balik garis gunung, menit demi menit semakin terang tipis-tipis, hingga sepuluh menit kemudian tampaklah bundarnya matahari berangsur menaiki hari.

Salah satu lokasinya dinamai Bukit Cinta. Ketika tiba di kaki bukit itu, sekitar pukul setengah empat, hari masih gelap tentunya. Tapi sudah ratusan orang pengunjung berada di situ, sisi jalan mulai dipadati mobil yang diparkir berjejer. Para tenaga local guide membawa senter kecil menawarkan jasa untuk memandu mendaki bukit ke puncaknya. Mendaki sekitar lima tujuh menit sampailah di puncak Bukit Cinta.  Sebelumnya, Pugu memang menerangkan, apakah kita di Pananjakan Satu, Pananjakan Dua, Bukit Cinta, itu nama-nama lokasi tempat menyaksikan matahari terbit,—selalu ada tempat untuk shalat subuh. Di Bukit Cinta itu, pagi itu, persis jam shalat subuh, berbarislah para wisatawan laki dan perempuan membentuk shaf-shaf shalat dan mereka menunaikan shalat subuh.

Manakala sinar matahari dan suasana pagi cerah memandikan gunung-gunung, tampak di arah bawah seakan sedang duduk sosok gunung Batok, dan padang savana yang terbentang mengelilingginya, sementara asap putih mengebul dari kawah (kaldera) gunung Bromo di balik gunung Batok. Tampak kian dramatis saja…. Itulah salah satu citra yang paling terkenal dari kawasan Gunung Bromo. Indah. Mengagumkan sejak sinar tipis matahari tadi menyinari hingga sang mataharinya menampakkan sosok cahaya bundarnya…

Ketika hari telah terang penuh menjelang pukul enam, sebagian pengunjung “ngopi” dan sarapan di warung-warung berjejer sepanjang jalan raya. Sebagian lainnya langsung mengendarai kembali mobil jip menurun ke arah savana, bisa juga disebut “padang pasir Bromo”. Dari ketinggian melihat ke gurun pasir di mana tampak kejauhan berbaris teratur mobil jip wisatawan melintasi padang pasir, ada keindahan dan keunikan, yang tentu saja hanya di situlah dan sekali itulah Anda dapat menikmatinya. Kecuali kelak kemudian kita datang lagi berwisata ke sini.

Di satu bagian sebelum ujung padang pasir itu, lokasi tempat parkir mobil. Dari situ wisatawan menunggang kuda menuju pangkal tangga untuk mendaki jalan kaki ke kawah gunungnya. Jarak yang ditempuh menunggang kuda atau berjalan kaki di atas gurun pasir itu sekitar 1,5 kilometer. Menunggang kuda sewanya Rp 125.000,- untuk pergi dan pulang (pp). Kebanyakan memang memilih jalan kaki di atas pasir itu.

Anda sudah pernah mendengar bukan? Anak tangga untuk mendaki ke kawah gunungnya berjumlah 250.

Sekitar pukul 8 pagi itu Anda sudah bisa mengakhiri tur di gunung Bromo ini, lalu kembali ke tempat mobil diparkir tadi, dan kembali menuju desa Sukapura, di mana Anda menginap di salah satu hotel di sini, atau, kembali menaiki kendaraan Anda untuk menuju ke hotel di Surabaya. Atau ke kota kecil Batu, di sebelah kota Malang, sebelum menuju ke Surabaya.

Tur ini mestinya perlu dialami oleh kita selaku wisnus, wisatawan nusantara. Ada cerita aktivitas lainnya di sekitar tur ke Bromo ini yang memperkaya dan khas mengesankan. Lain kali diceritakan di sini. Saya sendiri ingin sekali mempopulerkannya dengan judul yang mudah dan terasa tepat: “Bromo Experience”.***(Arifin Hutabarat)

Mau ke Bromo? Kontak: Orient Express Tour, Surabaya. 0811300184 , 0315616564 , info@orient123.com , gondo.hartono@yahoo.com , atau klik di sini: www.bromo123.com