“Beri kami peluang termasuk anggaran untuk menyiapkan pelabuhan pariwisata sehingga yacht-yacht dari luar negeri punya infrastruktur yang nyaman untuk bisa masuk ke Indonesia,” begitulah pernah diungkapkan ┬áDirektur Pengembangan Wisata Minat Khusus, Konvensi, Insentif, dan Event Kemenparekraf (sekarang Kementerian Pariwisata) Achyaruddin di Jakarta, bulan Oktober yang lalu.

Ia mencontohkan, sebagaimana disiarkan Kompas.com, jika diberi anggaran khusus Rp 100 miliar saja per tahun maka sudah bisa membuat pelabuhan pariwisata sebanyak 10 titik sehingga dalam tiga tahun saja hampir seluruh titik-titik singgah potensial bagi yacht rampung digarap.

Achyaruddin mengaku tidak dimaksudkan mengambil kewenangan Kementerian Perhubungan untuk membangun dan menggarap pelabuhan yang sudah diatur dalam peraturan resmi. “Yang kami minta cuma dikasih kesempatan untuk membangun marina sebagai titik singgah yacht bukan pelabuhan besar seperti yang sudah diatur peraturan legal itu,” katanya.

Dewasa ini sudah ada 38 titik singgah sederhana yang telah disinggahi yacht-yacht asing dan telah diinformasikan kepada yachter dunia. “Tapi kami informasikan kepada mereka bahwa titik singgah ini jangan dianggap kita bisa mendapatkan semua yang kita bayangkan ada di sini. Masih serba terbatas tapi lumayan bisa disinggahi,” katanya.***

Menurut World Resource Institute, panjang garis pantai Indonesia 95.181 kilometer, keempat terpanjang di dunia setelah Kanada, Amerika Serikat dan Rusia. Luas wilayah lautan di negara kepulauan ini 3,1 juta kilometer persegi. Data terakhir menyebutkan Nusantara terdiri dari 17.508 pulau.

Dengan potensi sebesar itu, dalam rangka mengembangkan wisata bahari dan industri wisatanya, sudah diidentifikasi 36 kawasan yang direncanakan menjadi pusat pertumbuhan dengan 4.557 pulau yang dapat dikembangkan. Sebanyak 146 pulau menjadi prioritas.

Secara garis besar wisata bahari dikelompokkan ke dalam tiga kategori berdasarkan karakteristiknya: leisure, sport, dan cruise. Wisata bahari untuk leisure contohnya snorkeling, jetski, fishing, sea rafting, body board, sea walker, parasailing, diving, banana boat, coral gardening, pontoon slide. Wisata bahari untuk olahraga contohnya skiing, scuba diving, surfing, dan wind surfing. Yang termasuk minat khusus cruise contohnya boating/kayaking, day cruise, yacht, floating hotel, dan excursion.

Karakteristik wisata bahari bersifat solitaire (berdiri sendiri) namun akan menjadi harmoni yang indah jika dapat memadukan dengan karakteristik wisata bahari lainnya. Kombinasi dari ketiga karakteristik tersebut perlu dikemas sedemikian rupa agar dapat memenuhi permintaan dan kebutuhan pasar. Misalnya, paket memancing dikemas dalam kegiatan olahraga dan kompetisi, paket day cruise dengan ekskursi kayaking atau snorkeling.

Perlu diingat oleh kita semua bahwa wisata bahari merupakan salah satu sub-bidang pembangunan kelautan maka pengembangan dan pembangunannya tidak dapat dipisahkan dari pembangunan bidang kelautan dan kemaritiman. Strategi pembangunan kelautan dan perikanan kita mencakup pembangunan prasarana dan sarana serta fasilitas pendukung berwawasan lingkungan dan melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaannya.

Perencanaan dari hulu sampai hilir

 

Hanya ada satu di dalam kepala diver dan snorkeler, melihat terumbu karang dan ikan berwarna-warni. Tegakah memberi pengharapan palsu kepada tamu Anda? (Foto: YD)

Hanya ada satu di dalam kepala diver dan snorkeler, melihat terumbu karang dan ikan berwarna-warni. Tegakah memberi pengharapan palsu kepada tamu Anda? (Foto: YD)

Ketertarikan dan motivasi terbesar turis wisata bahari adalah ingin menikmati keaslian atau orisinalitas destinasi dan daya tarik wisata di daerah tersebut. Contoh, para penyelam termotivasi dan berharap melihat keindahan kehidupan bawah laut yang masih terjaga keaslian dan kelestariannya. Begitupun yang ingin bersantai dan mandi di laut ingin menikmati suasana pantai yang virgin.

Ingatlah selalu! Pariwisata adalah mengenai hospitality dan memberikan pengalaman seutuhnya kepada pengunjung. Agar kita dapat memberikan itu, rencana tata ruang yang komprehensif dari hulu sampai ke hilir, mempersiapkan prasarana dan sarana wisata dan fasilitas umum yang membuat pengunjung nyaman tanpa kehilangan kenaturalannya mutlak diperlukan.

Mari mengingat kembali awal pelajaran pengetahuan alam di sekolah. Dari sumber mata air di pegunungan, air akan mengalir di atas dan di bawah permukaan tanah hingga bermuara di laut. Sepanjang alirannya, air dimanfaatkan untuk memenuhi segala kebutuhan manusia. Berbagai literatur dan hasil penelitian menunjukkan kualitas kehidupan di bawah laut sangat bergantung pada daratan. Semakin banyak ruang hijau dibuka di daratan suhu udara akan semakin meningkat, suhu air di permukaan laut menghangat, terumbu karang di bawah permukaan lautpun merasa kepanasan hingga akhirnya mati. Air yang mengalir di daratan kini juga berfungsi sebagai transporter limbah yang kita hasilkan. Zat dan unsur kimia yang dikandung di dalam air sudah terakumulasi saat menyatu dengan air laut. Laut pun masih menanggung polusi dan limbah dari masyarakat yang tinggal di pesisir dan lalu lintas kapal.

Ada beberapa parameter dalam mengembangkan wisata bahari. Dimulai dari keaslian, keunikan (alam dan buatan), dan langkah-langkah konservasi yang baik. Daerah-daerah yang secara geografis dianugerahi wilayah pesisir , sekiranya mulai menyadari ini dimulai dari merencanakan penataan ruang dari hulu di daratan. Bukan masalah kawasan pesisir itu menjadi daya tarik wisata atau tidak sehingga dirasa hanya perlu menata lingkungan pantai dan sekitarnya saja.

Kemudian, menyediakan informasi yang memadai sebelum perjalanan dimulai, mempersiapkan aksesibilitas dan sarana komunikasi, menyiapkan SDM masyarakat setempat, membuat regulasi kelayakan dan keamanan perahu-perahu wisata, penetapan anchoring area dan kawasan tambat untuk kapal-kapal layar (yacht), mempersiapkan underwater guide yang berkualitas dan seterusnya.

Kegiatan wisata bahari pada umumnya bisa memanfaatkan prasarana dan sarana yang sudah ada. Tetapi itu bukan berarti prasarana dan sarana tersebut disiapkan apa adanya dan tidak dirawat.

Sedangkan untuk mendatangkan kapal-kapal pesiar besar (cruise ship) yang mengangkut ribuan penumpang dan kru kapal mancanegara memang diperlukan fasilitas tertentu di pelabuhan-pelabuhan.

Pengembangan wisata bahari sebaiknya mengacu pada prinsip-prinsip ekowisata yakni, natural area focus yang memberi kesempatan kepada turis menikmati alam dari dekat dan personal, menyediakan fasilitas interpretasi berupa jasa pendidikan, praktik-praktik pembangungan ekologi/lingkungan berkelanjutan, berkontribusi pada konservasi alam dan budaya serta kehidupan masyarakat lokal, menghargai nilai-nilai budaya setempat, dapat memenuhi harapan konsumen, serta dipasarkan dan dipromosikan dengan jujur dan akurat.

Permasalahan dan tantangan klasik yang dihadapi dalam mengembangkan wisata bahari di Indonesia adalah pengembangan atraksi yang tidak layak untuk pariwisata; perusakan daya tarik oleh wisatawan; jumlah pengunjung melebihi daya dukung (over carrying capacity); pemanfaatan SDA untuk sektor lain di kawasan yang sama atau berdekatan dengan daya tarik wisata, pemanfaatan untuk tambang misalnya; polusi dari daratan; dan mass tourism demand karena kebutuhan rekreasi semakin meningkat seiring dengan perekonomian yang semakin membaik.

Beberapa daerah pesisir di Indonesia sudah membuktikan pengelolaan wisata bahari paling ideal adalah pariwisata berbasis masyarakat (community based tourism). Ke depannya perlu dipertimbangkan sebuah badan pengelola yang profesional dan bersifat kemitraan guna mendukung usaha-usaha yang telah dilakukan oleh masyarakat.

Kualitas pengalaman wisatawan merupakan tolak ukur keberhasilan sebuah destinasi. Lalu, bagaimana agar wilayah pesisir di daerah Anda bisa berkompetisi di tengah persaingan ketat antardestinasi baik di dalam maupun di luar negeri?

Mulailah dengan melakukan survei untuk menentukan produk wisata bahari yang dapat dijual. Membantu masyarakat/komunitas lokal mengembangkan sumber daya manusianya dan dampingi mereka sampai berdaya dan mandiri. Mendorong kemandirian finansial dengan menciptakan lingkungan usaha yang baik melalui pengembangan kerja sama yang jelas dengan pemangku kepentingan, sosialisasi kebijakan, dan mentaati peraturan tata ruang dan zonasi. Setiap pengembangan dan pembangunan pasti mempunyai ekses. Tinggal bagaimana mengelolanya agar sedikit saja dampak negatif terhadap masyarakat lokal dan lingkungan.

Jangan pernah lupa, copy-paste hanya berlaku bagi komputer jinjing Anda. Silakan meniru destinasi lain, tapi aplikasikanlah dengan menyesuaikan yang telah alam sediakan untuk Anda dan jati diri yang telah dihidupkan oleh komunitas lokal di situ. *** (Yun Damayanti)