Pulau Edam dan Mercusuar Vast Licht.Penumpang menikmati pulau ini dari atas kapal KM Umsini milik Pelni.(Foto:Ist.)

Pulau Edam dan Mercusuar Vast Licht.Penumpang menikmati pulau ini dari atas kapal KM Umsini milik Pelni.(Foto:Ist.)

Di salah satu sisi Pulau Edam sebuah mercusuar berusia 137 tahun tinggi menjulang. Posisi Pulau Edam atau Pulau Damar Besar ke arah timur dari Teluk Jakarta. Di pulau tidak berpenghuni seluas sekitar 36 hektar itu pohon damar tumbuh subur. Di dalam pulau ada lima makam tua, yakni makam seorang ratu dari Kerajaan Banten dan empat orang pengikutnya.

Mercusuar Vast Licht, nama mercusuar di Pulau Edam. Tingginya  52 meter, terdiri dari 16 lantai. Untuk mencapai puncaknya mesti meniti lebih dari 270 anak tangga. Mercusuar Vast Licht dibangun pada tahun 1789 semasa Raja Willem III berkuasa di negeri Belanda.

Penerangan dari mercusuar ini bisa mencapai jarak 20 mil laut. Pada awal abad ke-19, penerangannya dari api yang menggunakan kayu damar sebagai bahan bakarnya. Sekarang, sudah menggunakan energi tenaga surya dan otomatis. Mercusuar juga dilengkapi pembangkit tenaga listrik manual berdaya 1.000 watt. Dahulu mercusuar ini membantu navigasi kapal-kapal yang akan memasuki kawasan pelabuhan di utara Batavia pada malam hari. Sekarang membantu kapal-kapal yang akan memasuki Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Kepulauan Seribu.(peta:Ist.)

Kepulauan Seribu.(peta:Ist.)

Semasa Gubernur Jenderal Camphuijs pada tahun 1685, dibangun sebuah rumah peristirahatan dua lantai dan sebuah taman yang dirancang dengan konsep taman Jepang di pulau tidak berpenghuni ini. Konon, taman di Pulau Edam merupakan yang terbesar di luar negara Jepang pada masa itu. Namun, Gubernur Jenderal van Riebeck, gubernur jenderal berikutnya, tidak tertarik dengan Pulau Edam. Pemerintah Belanda akhirnya mengambil alih pulau tersebut pada tahun 1705.

Pada awal abad ke-18, Pulau Edam menjadi tempat pembuatan tambang dan penggergajian kayu. Selain itu juga menjadi tempat tawanan untuk menjalani kerja paksa. Diantara tawanan itu, ada seorang pangeran dan beberapa bangsawan dari Palembang, dan ratu dari Kerajaan Banten.

Tersebutlah Ratu Syarifa Fatimah, seorang ratu yang pintar dan pandai bergaul, dari Kerajaan Banten. Namun, sang ratu dinilai terlalu memihak kepada Belanda terutama dalam perdagangan lada di Banten. Hingga timbul pemberontakan oleh Kyai Tapa. Hingga akhirnya sang ratu dikucilkan dan dibuang ke Pulau Edam hingga akhir hayatnya. Sampai kini, ada lima makam tua di pulau ini, satu diantaranya merupakan makam Ratu Syarifa Fatimah yang wafat pada tahun 1751, dan empat makam lainnya yang dikenali sebagai pengikutnya.

Pada hari Sabtu, 31 Desember 2016, untuk pertama kalinya PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) mengajak masyarakat berlayar dari Terminal Penumpang Nusantara Pura di Pelabuhan Tanjung Priok menuju Pulau Edam. Para penumpang akan menikmati makan malam dan aneka hiburan di dek teratas KM Umsini sambil menunggu detik-detik pergantian tahun. Mercusuar Vast Licht menuntun kapal dan penumpangnya melayari rute yang telah eksis lebih dari 100 tahun di Teluk Jakarta. (Yun Damayanti, dari berbagai sumber)