Semakin banyak pantai-pantai Nusantara diekspos. Situs TripAdvisor menyediakan satu kriteria khusus pantai-pantai terbaik di Indonesia dan baru saja mengumumkan 10 Pantai Terbaik Indonesia versi pilihan pembaca situs perjalanan dunia itu. Peningkatan jumlah pengunjung ke pantai-pantai itu tinggal menunggu waktu saja. Alangkah baiknya sedari dini dibarengi antisipasi dengan pemasangan rambu-rambu keselamatan dan menempatkan petugas keselamatan atau life guard di pantai-pantai.

Rambu-rambu keselamatan di pantai Kuta, Bali sudah ada sejak tahun 1972 seiring dengan semakin banyak kedatangan wisatawan. Wisatawan yang surfing saat itu tak sedikit yang belum mengenal karakter pantai di Bali sehingga kecelakaan yang merenggut nyawa tidak terhindarkan. Lalu timbul inisiatif dari masyarakat dengan menjadi sukarelawan dan mendirikan organisasi penjaga pantai yang dimotori oleh Gede Berata dan kawan-kawan dan dibantu oleh satgas dari Australia.

Kemudian didirikan Waja Surf Life Saving Guard pada 28 Oktober 1972 yang menjadi cikal bakal Balawista. Anggotanya terdiri dari masyarakat dan hotel-hotel di sekitar Kuta-Legian. Tahun 1978-1984 Pemda Kabupaten Badung membiayai dan mengambil alih organisasi ini. Namanya diubah menjadi Badan Penyelamat Pantai (BPP). Sejak tahun 1984 sampai sekarang namanya menjadi Badan Penyelamat Wisata Kuta (Balawista). Wilayahnya meliputi seluruh pantai di Kabupaten Badung sepanjang 82 km. Mulai dari Tanjung Benoa sampai pantai Seseh di barat dan pantai Nyanyi di perbatasan Badung-Tabanan.

Dari menara-menara ini para penjaga pantai mengawal keselamatan pengunjung.(Foto:YD)

Dari menara ini para penjaga pantai mengawal keselamatan pengunjung.(Foto:YD)

Ada 21 pos tersebar di sepanjang pantai Tanjung Benoa hingga pantai Seseh. Di sepanjang Kuta- Legian ada 8 pos jaga. Satu pos jaga disiagakan 8 orang. Anggota Balawista saat ini 170 orang, seorang diantaranya perempuan. Waktu kerjanya satu minggu penuh dilaksanakan dalam dua shift sehari, pagi dan siang. Petugasnya bisa dikenali dengan kaos/jaket kuning dan celana merah menyala. Kegiatan utamanya menjaga pantai sepanjang wilayah Badung.

Selain mengawasi pengunjung dan patroli rutin di pantai, Balawista juga melaksanakan kegiatan-kegiatan preventif di antaranya memasang rambu-rambu di pantai. Seperti, bendera-bendera merah-kuning berarti area aman untuk berenang, bendera merah dengan gambar tengkorak berarti daerah dilarang berenang. Balawista juga mengadakan pelatihan-pelatihan life guard.

Peralatan keselamatan yang dimiliki Balawista cukup lengkap dan memenuhi persyaratan internasional. Ada jet ski, rubber boat, papan penolong/surf rescue, dan tube rescue. Di setiap pos tersedia surf rescue dan tube rescue. Jet ski masih terbatas 3 unit dan rubber boat 6 unit. Dua unit jet ski ditempatkan di pantai Kuta dan satu unit lagi di Legian. Enam rubber boat masing-masing 1 unit ditempatkan di Legian, Brawa, Jimbaran, dan Padang-padang, serta 2 unit di Nusa Dua.

     Ketut Ipel, Koordinator Balawista Badung, menerangkan mengenai keamanan dan keselamatan pengunjung di pantai, ”Yang penting sekarang, semua pengunjung harus diberitahu agar selalu berhati-hati selama di pantai. Karakter air laut dan jenis arusnya berbeda di setiap daerah. Contohnya di pantai Kuta berbeda dengan pantai di Nusa Dua. Masyarakat pada umumnya awam mengenai hal ini jadi sebisa mungkin ada petugas di sana. Dan harus ada rambu-rambu di setiap obyek pantai.”

Life guard ialah ujung tombak wisata air. Kalau tidak ada life guard, banyak pengunjung hilang terseret arus, pengunjung ke pantai itu akan berkurang. Banyak orang ketakutan. Kami sudah mengusulkan kepada pemda untuk menyediakan peralatan life guard serta sarana dan prasarana penyelamatan pantai,” ujar Suyit salah seorang penjaga pantai di Pulau Merah, Banyuwangi.

Balawista Badung adalah anggota organisasi life guard di seluruh dunia International Life Saving (ILS) sejak tahun 1994. Organisasi dunia ini selalu mengadakan kegiatan setiap dua tahun sekali. Balawista bertujuan membentuk life saving/life guard di seluruh Indonesia.

Namun ini akan membutuhkan proses perlahan sebab terbentur dengan SDM dan pendanaan. Pantai-pantai di Buleleng dan Karangasem di sebelah utara dan timur Bali belum mempunyai badan penyelamat pantai. Selain di Kabupaten Badung, Bali, badan penyelamat pantai sudah berkembang di Pangandaran dan Pelabuhan Ratu di Jawa Barat, di Banten dan Jakarta. Badan penyelamat pantai juga akan dikembangkan di pantai-pantai  di Lampung, dan Grajagan di Banyuwangi, Jawa Timur.

Ketut Ipel menggambarkan, untuk menjadi seorang penjaga pantai seseorang harus pandai berenang di laut dan mampu lari sprint di pantai. Dia juga harus memiliki sertifikat minimal sertifikat Bronze. Ada empat tingkatan kualifikasi penjaga pantai atau life saving, yakni Resus, Life Saving, Bronze dan Instructure sebagai level tertinggi. Sebelum diangkat menjadi penjaga pantai, dia harus mengikuti kursus selama sekitar 10 hari di Kuta, Bali. Balawista merupakan satu-satunya tempat kursus penjaga pantai di Indonesia sampai saat ini. *** (Yun Damayanti)