Menpar Arief Yahya

Menpar Arief Yahya

Menpar Arief Yahya terasa menampilkan suasana kebatinannya yang “bahagia dan gembira” dalam CEO-Message yang ditulisnya khusus terkait “kunjungan akbar” Raja Salman dari Arab Saudi di Indonesia, dan, berlibur ke Bali. “Bagaimana kita memainkan momentum marketing dengan memanfaatkan kedatangan Raja Salman?”, itu antara lain ditulisnya. Selanjutnya:

“Kita melakukan promosi besar-besaran di dalam dan di luar negeri, termasuk membuat TVC Welcoming King Salman dengan menggunakan dua bahasa yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Kuncinya, di media placement. Selama ini kita sudah mempunyai kontrak pemasangan iklan dengan TV Aljazeera yang pemirsa utamanya adalah Timur Tengah. Saya bilang ke Prof. Pitana, Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara, 50% dari total slot kontrak setahun harus ditaruh di saat Raja Salman datang ke Indonesia. Kalau kita punya total slot iklan 100% setahun, kalau pukul rata, berarti tiap bulannya alokasinya kira-kira 8%. Nah, khusus untuk tahun ini saya putuskan 50%-nya harus dialokasikan sebelum, selama dan sesudah kunjungan sang raja. Pertimbangan lain menempatkan 50% anggaran pada bulan Maret ini karena peak season kedatangan wisman dari Timur Tengah adalah pada bulan Maret dan Juli-Agustus, umumnya para wisman ini melakukan booking 1-3 bulan sebelumnya.

Terkait dengan media placement ini, saya punya rumus POP, yaitu: pre (sebelum), on (selama), dan post (setelah) event. Maksudnya adalah iklan kita tempatkan sebelum, selama, dan sesudah kunjungan Raja Salman. Saya tetapkan alokasinya: 50% iklan kita gencarkan sebelum kedatangan raja; 30% kita mainkan pada saat beliau hadir di sini; dan 20% lagi kita harus membuat kesan-kesan mendalam setelah beliau meninggalkan Indonesia. Kesan mendalam itu misalnya peristiwa menarik saat beliau mengunjungi Ubud atau cerita unik mengenai pangeran yang ganteng dan putrinya yang cantik saat di Pantai Sanur. Cerita-cerita itu bersifat human interest sehingga punya nilai PR yang sangat tinggi.

Mengenai pendekatan promosi, saya masih punya satu jurus lagi yaitu BAS: Branding, Advertising, Selling. Mana yang paling efektif kita gunakan untuk memanfaatkan kedatangan Raja Salman? Yang paling efektif kita hanya memainkan Branding. Advertising dan Selling akan kita mainkan di bulan-bulan berikutnya, tapi untuk momen kedatangan sang raja minggu ini, kita hanya memainkan Branding dan PR-ing.

Penambahan Penerbangan

Sudah terbayang tak lama lagi akan terjadi penambahan kapasitas penerbangan langsung luar negeri ini. Menpar pun menyambutnya dengan menulis begini:

Menteri Perhubungan telah menandatangani MOU antara Indonesia dengan Arab Saudi, di mana kita mendapatkan penambahan slot penerbangan ke tiga kota di Indonesia baik ke Jeddah maupun Madinah. Ini adalah awalan yang bagus. Saya yakin penambahan slot penerbangan ini akan bertambah terus seusai kedatangan Raja Arab Saudi, dengan begitu dari sisi konektivitas kita akan terus mengalami perbaikan.

Kita gunakan momentum kedatangan Raja Arab Saudi untuk menarik lebih banyak lagi wisman Timur Tengah. Dari sisi konektivitas akan terus kita buka slot penerbangan baru dari Timur Tengah. Dari sisi atraksi kita genjot destinasi halal baik di Lombok, Sumatera Barat, atau Aceh. Dari sisi amenitas kedatangan Raja juga akan kita manfaatkan untuk menarik investasi Arab Saudi untuk membangun hotel syariah di Tanah Air. Dan tentu dari sisi promosi, selama seminggu ke depan kita akan menggenjot awareness Indonesia di mata wisman Timur Tengah.

Akhirnya ada ajakan: “Saya ingin mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan momen berharga kunjungan Raja Arab Saudi ini untuk memajukan pariwisata kita. Kita jadikan berita-berita kunjungan sang raja Arab menjadi berita besar di seluruh dunia. Khusus untuk para netizen di seluruh penjuru Tanah Air, mari kita viralkan dan kita jadikan berita sang raja menjadi trending topic dunia.***