Ita Evalin,Operation Manager Komodo Escape.(foto:Ist.)

Ita Evalin,Operation Manager Komodo Escape.(foto:Ist.)

Labuan Bajo, (ITN-IndonesiaTouristNews): Komodo dan Labuan Bajo telah menjadi dua sebutan yang tidak bisa dipisahkan lagi. Kepopuleran kadal purba itu telah turut mengerek popularitas kota pelabuhan kecil Labuan Bajo di pesisir barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Pintu melihat komodo. Dan transportasi utama menikmati keindahan alam purba nan rustic dan eksotis di sana, ya dengan kapal.

Ita Evalin, Operation Manager Komodo Ecape, operator kapal live on board (LOB) Adishree yang berbasis di Labuan Bajo berbagi pengalamannya begini. Di mana dan bagaimana mencapai ke sana? Maka selalu diawali dengan menceritakan komodo ada di mana dan tentang pantai-pantai di pulau-pulau nan eksotis. Setelah itu, baru disampaikan mengenai produk-produk wisatanya. Dalam hal ini kapal phinisi LOB yang dinamainya Adishree, salah satu produk Komodo Escape.

“Kita harus cerita semuanya dahulu baru masuk ke produknya. Ketika ikut di Komodo Travel Mart 2017 dan di ITB Asia 2017 kami sudah menerima inquiry yang mesti segera ditindaklanjuti. Inquiry datang dari dalam dan luar negeri. Untuk tahun depan kami sudah menerima pemesanan pelayaran untuk durasi 4 malam dimulai dari Lombok dan berakhir (check out) di Labuan Bajo,” kata Ita.

The phinisi ship Adishree.(Photo:Komodo Escape)

Kapal phinisi Adishree.(Foto:Komodo Escape)

Sejak beroperasi pertama kali pada Mei 2016 hingga saat ini, rute pelayaran Adishree 95% berada di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Ada juga rute Bali-Lombok (Nusa Tenggara Barat) dan rute terjauhnya Labuan Bajo- Bali-tetapi tidak banyak. Komodo Escape telah merencanakan, Adishree akan memulai rute pelayaran baru ke timur, yakni ke Alor dan Raja Ampat pada tahun 2018.

Kapal-kapal wisata meramaikan perairan Labuan Bajo.(Foto:YD)

Kapal-kapal wisata meramaikan perairan Labuan Bajo.(Foto:YD)

Komodo Escape, operator kapal LOB Adishree, lumayan banyak menangani tamu-tamu dari Asia dalam setahun. Di antaranya dari Jepang dan Korea Selatan. Satu grup per perjalanan diikuti antara 10-12 pax. Mereka bertujuan menyelam di kawasan Taman Nasional Komodo selama 7 hari 6 malam.

Sedangkan tamu domestik lebih banyak memilih paket-paket leisure. Itu dengan mengikuti paket-paket berlayar atau tur sehari. Paket berlayar dengan LOB paling diminati wisnus berdurasi 3 hari 2 malam. Sudah ada yang mulai mencoba berlayar selama 4 hari 3 malam. Paket-paket tur sehari dipesan oleh tamu-tamu perusahaan.

“Untuk sekarang tamu-tamu kami 50/50, antara tamu asing dan domestik,” ujar Ita.

Kapal-kapal LOB di Labuan Bajo jumlahnya terus berkembang. Namun yang berbasis di Labuan Bajo tidak sampai setengahnya. Kapal-kapal LOB bergerak dinamis. Transportasi sekaligus akomodasi ini akan terus bergerak menjelajahi destinasi-destinasi terutama yang masih jarang dilayari untuk aktivitas wisata.

Pariwisata pelayaran dengan LOB di Labuan Bajo sendiri bisnisnya dirasa menjanjikan sampai tiga tahun ke depan. “Tapi itu semua tergantung dari promosi. Tergantung dari pemda juga. Untuk diving, laut sekitar pulau-pulau habitat Komodo  tetap akan menjadi the best destination,” tambahnya.

Berlayar di atas kapal phinisi LOB adalah cruising khas di perairan Indonesia. LOB melibatkan banyak tenaga kerja mulai dari pembangunan kapal, pemasok logistik, kru kapal hingga usaha-usaha penunjang lain seperti jasa bengkel dan pembuat spare part kapal. Lebih jauh dari itu, pariwisata pelayaran dengan LOB ikut menjaga bakat-bakat pembangun kapal phinisi dan pelaut-pelaut ulung Nusantara. Serta memelihara budaya maritim di negeri bahari.*** (Yun Damayanti)