Theodorus Suardi,Kepala Dinas Pariwisata Manggarai Barat.(Foto:YD)

Theodorus Suardi,Kepala Dinas Pariwisata Manggarai Barat.(Foto:YD)

Labuan Bajo, (ITN-IndonesiaTouristNews): Siapa yang tahu, apalagi kenal, kota Labuan Bajo? Itu dulu, ketika yang dikenal dan dicari hanya hewan dari masa Jurasik itu saja, komodo. Namun itu telah berubah dengan cepat pasca Sail Komodo 2013. Dilanjutkan dengan promosi intensif dan berbagai penghargaan yang disematkan kepada Taman Nasional Komodo (TNK) terutama dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

Komodo menjadi trigger bagi kota Labuan Bajo. Terlebih lagi pasca pemekaran menjadi wilayah administrasi mandiri Kabupaten Manggarai Barat dan Labuan Bajo ditetapkan sebagai ibukota kabupaten. Semua event termasuk event promosi dilakukan di kota pelabuhan kecil ini. Akhirnya kata “Labuan Bajo” menjadi trending topic. Labuan Bajo-komodo menjadi satu-kesatuan kata.

Identifikasi potensi pulau-pulau di bagian barat Flores semula domain dari Kementerian Kehutanan (sekarang Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup/KLH). Hingga pada tahapan tertentu, kawasan di bagian barat itu, pulau-pulau kecil dan perairannya, ditetapkan oleh presiden menjadi kawasan taman nasional, berlaku sampai sekarang.

Semula kawasan tersebut ditujukan sebagai lahan konservasi dan pelestarian dan tidak diarahkan untuk aktivitas kepariwisataan. Tetapi, seiring perkembangan di dunia di mana orang-orang cenderung melihat keunikan-keunikan alam dan keunikan-keunikan budaya maka mulailah kian intensif  masuk kegiatan kepariwisataan ke dalam kawasan.

“Pada prosesnya, arus kunjungan wisatawan untuk melihat komodo terus meningkat. Sejak 2013, atau pasca Sail Komodo 2013, arus kunjungan wisatawan mulai melonjak. Kunjungan didominasi wisatawan mancangera (wisman). Antara 70%-80% kunjungan ke komodo ialah wisman,” ujar Theodorus Suardi, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat.

Di pusat kota Labuan Bajo pada malam hari.(Foto:YD)

Di pusat kota Labuan Bajo pada malam hari.(Foto:YD)

Berdasarkan jumlah tiket terjual di TNK , khususnya ke TNK dan Labuan Bajo, pasca Sail Komodo 2013 berturut-turut dinyatakan  adalah sebagai berikut :

  • Tahun 2016 total kunjungan 83.712 orang, terdiri dari 54.335 wisman, 29.377 wisnus;
  • Tahun 2015 total kunjungan 61.257 orang, terdiri dari 45.372 wisman, 15.754 wisnus ,dan 131 pelancong lokal;
  • Dan setahun setelah Sail Komodo 2013, total kunjungan pada tahun 2014 mencapai 55.476 orang, terdiri dari 43.681 wisman, 11.469 wisnus, dan 326 pelancong lokal.

Kabupaten Manggarai Barat menargetkan 500 ribu wisman pada tahun 2019.

Destinasi selam

Komodo memang masih menjadi magnet utama kunjungan ke Labuan Bajo. Namun, selain binatang purba itu, taman laut di bawah permukaan perairan yang mengelilingi pulau-pulau di TNK dan di depan kota pun semakin menarik kunjungan wisatawan minat khusus. Kini, Labuan Bajo-komodo semakin dikenal dan telah menjadi destinasi impian para penyelam dari berbagai penjuru dunia.

Sekitar tahun 1980-an sudah ditemukan keindahan alam bawah laut di sekitar Labuan Bajo. Yang menyelaminya sudah ada tapi belum bersifat komersil. Saat itu belum ada yang berani masuk menjadi pebisnis di bidang diving.

“Komodo-Labuan Bajo awalnya tidak dikenal sebagai dive site,” kata Theodorus.

Kegiatan diving komersial baru marak setelah 2013. Termasuk wisata dengan menyewa kapal-kapal liveonboard (LOB) dimana para penyelam tinggal dan diangkut di atas kapal-kapal yang dibangun dengan konstruksi kapal phinisi. Semua itu dimulai dari tahun 2013 atau pasca Sail Komodo 2013.

Kota pelabuhan Labuan Bajo,Manggarai Barat,Ntt.(Foto:YD)

Kota pelabuhan Labuan Bajo,Manggarai Barat, Ntt.(Foto:YD)

Promosi dengan event

“Labuan Bajo-komodo tetap akan terus dipromosikan. Telah ditetapkan tiga event promosi pariwisata utama setiap tahun. Ada Festival Komodo, Karnaval Budaya, dan Petualangan Alam Komodo,” tambah Theodorus.

Festival Komodo dilaksanakan pada bulan Februari. Karnaval Budaya digelar pada bulan Juni. Sedangkan Petualangan Alam Komodo pada bulan Oktober. Dua agenda yakni Karnaval Budaya dan Petualangan Alam Komodo telah didaftarkan dan masuk ke dalam agenda event nasional.

Festival Komodo terpililh sebagai salah satu event internasional dalam agenda event pariwisata nasional (Calendar of Event) di Labuan Bajo. Festival ini telah berlangsung selama enam tahun. Empat tahun pertama diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan baru dua tahun terakhir, 2016 dan 2017, diselenggarakan sepenuhnya oleh pemda.

Australia menjadi fokus target promosi dan penjualan pariwisata Labuan Bajo-komodo, Manggarai Barat pada tahun 2018. Negeri Kanguru itu merupakan sumber pasar terdekat. Kedutaan Besar RI di Australia pun telah meminta agar ada kegiatan promosi di Australia.

Seiring dengan pasca Sail Komodo 2013 Labuan Bajo mulai dan akan terus berkembang. Perubahan fisik kota dan sosial ekonomi hingga menjadi seperti sekarang dirasakan baik oleh masyarakat maupun para pelaku pariwisata.

Kota pelabuhan kecil ini adalah salah satu kota pesisir paling cantik di Tanah Air. Namun, begitu banyak pekerjaan rumah dan tantangan krusial yang harus dibenahi saat ini juga. Sebab wisatawan tidak pernah mau menunggu untuk segera melihat sang naga purba, dan bertemu dengan ikan pari manta dan kawan-kawannya di bawah permukaan laut TNK.*** (Yun Damayanti)