Kota pelabuhan Labuan Bajo,Manggarai Barat,Ntt.(Foto:YD)

Kota pelabuhan Labuan Bajo,Manggarai Barat,Nusa Tenggara Timur.(Foto:YD)

Jakarta, ( ITN – IndonesiaTouristNews ): Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tengah mempersiapkan sejumlah program untuk meningkatkan kebersihan di Labuan Bajo ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Di antaranya, menciptakan program pengelolaan sampah yang memberikan manfaat ekonomi berputar bagi masyarakat, membangun Pusat Daur Ulang (PDU) dan bank sampah, serta menjadikannya kompos.

Labuan Bajo menghasilkan 50 ton hingga 70 ton sampah setiap hari yang ditampung di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) seluas 5 hektar. Namun sebagian sampah lagi, baik di darat maupun di laut dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, belum tertangani dengan baik. Dan kini telah dirasakan mengganggu keindahan dan kenyamanan wisatawan saat mengunjunginya juga di dalam kawasan Taman Nasional Komodo.

KLHK melihat, dengan memberikan nilai lebih bagi masyarakat dalam pengelolaan sampah akan memberikan manfaat circular economy. Ketika masyarakat merasakan dampak ekonominya maka akan lebih mudah dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan dan bagaimana memperlakukan sampah dengan baik.

Labuan Bajo di siang hari (atas).Dan suasana pada malam harinya (bawah).(Foto:YD)

Labuan Bajo di siang hari (atas).Dan suasana pada malam harinya (bawah).(Foto:YD)

Direktorat Pengelolaan Sampah KLHK pun berencana akan membangun Pusat Daur Ulang (PDU) sampah dan bank sampah induk di Kabupaten Manggarai Barat. Nantinya masyarakat ataupun komunitas di sana akan diberikan pendampingan bagaimana mengolah sampah yang dihasilkan menjadi produk bernilai.

Untuk mengelola sampah organik di Labuan Bajo dan Manggarai Barat, KLHK akan bekerja sama dengan PT Pupuk Indonesia. Sampah organik diolah dijadikan kompos. Bahan bakunya akan diambil dari PDU sampah Manggarai Barat. Saat ini sedang dalam tahap pematangan program dan kerja sama. Ditargetkan, pusat daur ulang sampah tersebut dapat direalisasikan pada bulan Juni 2018.

Dalam siaran pers yang dirilis oleh Kementerian Pariwisata, Direktur Pengelolaan Sampah KLHK Sudirman mengatakan, “Tujuan besarnya menjadikan Manggarai Barat yang bersih, meningkatkan semangat peduli lingkungan di masyarakat, dan memberikan nilai lebih dari pengelolaan sampah bagi masyarakat. Menjadikan lingkungan yang bersih, salah satunya, ya bergantung pada masyarakat itu sendiri.”

Disiarkan juga bahwa Pemerintah daerah di NTT menyambut baik rencana yang tengah dipersiapkan oleh KLHK. Menurut catatan pemda setempat, kota Labuan Bajo memproduksi sampah antara 50 ton hingga 70 ton setiap hari. Itu menumpuk di TPA Manggarai Barat seluas 5 hektar dan belum dikelola dengan baik.

Marius A. Jelamu,Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTT.(Foto: Ist.)

Marius A. Jelamu,Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTT.(Foto: Ist.)

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata  Provinsi Nusa Tenggara Timur mengakui, salah satu masalah pokok di Labuan Bajo adalah sampah yang belum tertangani dengan baik. Soal ini tidak hanya dihadapi kota Labuan Bajo tetapi juga di pantai-pantai dalam kawasan Taman Nasional Komodo seperti Pulau Komodo, Pulau Rinca dan sekitarnya.

Sampah itu diproduksi oleh masyarakat, wisatawan, dari kapal-kapal niaga, kapal-kapal penumpang dan kapal-kapal wisata. Karena masih rendahnya kepedulian terhadap memperlakukan sampah dengan benar, sampah-sampah itu dibuang tidak pada tempatnya di daratan dan dibuang begitu saja di tengah laut. Saat hujan turun sampah-sampah di daratan hanyut terbawa aliran air di selokan, di sungai hingga menumpuk di muara lalu masuk ke laut. Sampah-sampah di tengah laut pun dibawa arus hingga ke pinggir-pinggir pantai.

“Kami mengapresiasi KLHK yang sudah berencana menyiapkan solusi-solusi pengolahan sampah di Labuan Bajo. Pengelolaan sampah tentu tidak hanya menyiapkan mesin-mesin pengolah tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat itu sendiri. Termasuk pengawasan terhadap kapal-kapal niaga, kapal-kapal penumpang maupun kapal-kapal wisata yang hilir mudik di perairan Labuan Bajo,” ujar Marius Jelamu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata  Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Diterangkannya lebih lanjut, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat mempersiapkan lahan seluas 10 hektar untuk TPA. Selama ini yang sudah dimanfaatkan sebagai TPA seluas 5 hektar namun belum ada pengolahan. Lahan seluas 5 hektar lainnya dipersiapkan untuk pengolahan sampah dengan teknologi modern. Pemda provinsi dan kabupaten berharap, KLHK bisa memanfaatkan lahan yang telah dipersiapkan tersebut untuk pengolahan sampah, yang menurut rencana, akan bekerja sama dengan PT Pupuk Indonesia. Baik Pemkab Manggarai Barat maupun Pemprov NTT senantiasa mendorong masyarakat menjaga kebersihan di lingkungannya masing-masing.

Loh Liang di Pulau Komodo, salah satu titik melihat komodo di habitatnya.(Foto:YD)

Loh Liang di Pulau Komodo, salah satu titik melihat komodo di habitatnya.(Foto:YD)

“Kami berharap, pemerintah pusat atau investor bisa masuk dan mengelola sampah yang ada di sini,” Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata  Provinsi NTT menambahkan.

“Program yang dilakukan di luar taman nasional sudah pasti akan ikut membantu menyelesaikan isu sampah di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Ini mengingat sampah yang tampak di dalam kawasan taman nasional sebagiannya berasal dari luar kawasan taman,” ujar Sudiyono, Kepala Balai Besar Taman Nasional Komodo.

Balai Besar Taman Nasional Komodo selaku pengelola taman sudah mempunyai mitra, KSU Sampah Labuan Bajo. Sebuah koperasi khusus sampah yang didirikan dan dijalankan oleh suatu komunitas dari dalam masyarakat Labuan Bajo. Sampah non organik dari Taman Nasional Komodo diterima oleh KSU kemudian didaur ulang. Jadi di dalam kawasan taman nasional tidak ada lagi pengolahan sampah. Dan target pengolahannya berada di Labuan Bajo.

Konsep serupa direncanakan juga diterapkan di berbagai destinasi lain di Indonesia. Hal itu merupakan komitmen KLHK mendukung sektor prioritas nasional, sektor pariwisata. Pengelolaan sampah yang baik dan ramah lingkungan menjadi faktor sangat penting dalam membangun dan mengembangkan destinasi. Dengan dukungan penuh dari KLHK diharapkan semakin memperkuat posisi Indonesia dalam penilaian Travel and Tourism Competitiveness Index oleh World Economic Forum (WEF).

Di mata wisatawan, terutama turis asing, indah saja belum cukup. Ekspetasinya, mereka bisa menikmati keindahan itu tanpa dinodai ceceran sampah di sana-sini.*** (Yun Damayanti)