Pembaca yang budiman,  Badan Pusat Statistik (BPS) baru bisa memfinalkan data untuk periode sampai akhir November 2014, dan terlihat keadaan sebagai berikut:

Sumber: BPS

Sumber: BPS

Tampak hanya Bali yang dalam dua tahun terakhir ini berturut-turut 2013-2014 rata-rata per bulan menerima jumlah wisman di atas 250.000 dan 300.000 dari sebelumnya tahun 2012 rata-rata di bawah 250.000 per bulan.

Jakarta tiga tahun 2012-2014 jumlah wisman masuk rata-rata per bulan di bawah 200.000.

Batam 2012-2014 rata-rata di bawah 150.000 per bulan.

Di luar tiga “destinasi” tersebut, yakni di lebih dari 16 pintu masuk keseluruhan total per bulan 2012-2014 juga di bawah 200.000.

Ini mencerminkan selama tiga tahun terakhir berturut-turut betapa “kurang” bergeraknya pertumbuhan  jumlah wisman di luar destinasi Bali.  Itu tentu mengindikasikan setidaknya dua hal dasar tentang destinasi di luar Bali: (1) Apakah produk destinasi  tak terpasarkan dengan baik, atau, produk destinasi keadaannya “kurang” layak jual dan tak siap jual, berbeda dengan di Bali; (2) para pelaku bisnis pariwisata di masing-masing destinasi itu tidak berdaya memasarkan dan menjual produk destinasinya.

Seperti dimaklumi, pada dasarnya Kementerian di tingkat nasional memasarkan dan mempromosikan destinasi secara nasional, sementara pemasaran/promosi/penjualan produk di destinasi itu sendiri sejatinya merupakan pekerjaan dari para pelaku industri.

Adalah logis kalau keadaan itu akan cenderung membawa implikasi : (1) upaya pemasaran dan promosi yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata yaitu pemasaran dan promosi destinasi, akan terancam tak efektif dalam mencapai peningkatan jumlah wisman agar “dua kali lipat” pada 2019 dari jumlah wisman tahun 2014; (2) pengembangan produk dan destinasi agar “lebih banyak” yang layak jual dan siap jual, yang perlu diefektifkan untuk periode 2015-2019.

Seluk beluk kegiatan pariwisata kita dalam praktek, selama periode beberapa tahun hingga tahun 2014, itulah kami coba uraikan dan kompilasi kembali dalam kumpulan tulisan di buku ini: Realitas dan Harapan Pariwisata Kita, Memasuki Tahap 2015 dan seterusnya. Fakta dan pengalaman yang enak maupun tak enak.

M. Faried mendukung menyusunkan gambar ini, seakan mengajak: membaca buku ini sambil “ngopi” atau “ngeteh”.

M. Faried mendukung menyusunkan gambar ini, seakan mengajak: membaca buku ini sambil “ngopi” atau “ngeteh”.

Dalam kata pengantarnya , Sapta Nirwandar, (Wamen Parekraf hingga Oktober 2014), antara lain menuliskan: Proses mengkompilasi fact and figures and analytical approach dalam menyusun buku ini tentu dimungkinkan oleh dukungan pengetahuan, observasi dan pengalaman yang telah dihimpun oleh penulis…

Sekjen Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional (INACA), Tengku Burhanuddin memberi catatan pada buku ini: …susunan dan bahasanya populer, tapi memberikan konfigurasi masalah, hambatan dan  apa yang dalam praktik sebaiknya dilakukan agar efektif membangun dan mengembangkan pariwisata, membuka lapangan kerja dan kesejahteraan masyarakat di daerah-daerah selain di pusat-pusat pariwisata Jawa-Bali yang relatif sudah maju…

Praktisi Tour Operator, Managing Director Pacto Convex, I Ketut Salam memberi catatan pada buku ini: …baiknya buku ini dibaca di daerah-daerah oleh pelaku di pemerintahan maupun di industri pariwisata, walaupun fakta dan kelemahan di pariwisata kita ditulis dengan lunak, namun sumber dan gaya jurnalistik pariwisatanya tetap memberikan masukan yang realistis, kadang tajam, dan…ide yang terasa workable

Dan M. Faried yang pensiun dari Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri/Kepala Puslitbang Kebijakan Pariwisata dan kini terjun di industri bidang otomatif, juga menyatakan dalam komentarnya untuk buku ini: salut atas hadirnya buku RHPK … …tapi satu contoh terkait “keruangan/ wilayah”…ketika Babel masih masuk Sumsel, mempromosikan pariwisata Bangka “ringan dan enak”, namun setelah menjadi provinsi Babel mempromosikan pariwisata Bangka menjadi “berat & begitu sulit” karena ego keruangan/batas-batas administratif yang sulit “disatukan”…

Serta Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Kota Sabang di Aceh, Ali Taufik  menuliskan komentarnya : …sangat menginspirasi saya… semoga buku ke dua nanti tidak lupa menulis tentang Sabang agar dapat mempromosikan Sabang lebih baik…

Jadi, saya memang mengajak pembaca buku ini bersama memahami dan menyadari realitas, untuk harapan agar bersama pula seterusnya kita bisa menalarkan setiap kebijakan  dan strategi nasional yang diterapkan oleh Pemerintah untuk pencapaian target pariwisata lima tahun mendatang. Menurut pendapat saya, peran para pelaku tekhnis produksi dan penjualan pariwisata di destinasi, dewasa ini amatlah “crucial” peranannya. Artinya, penting dan menentukan berhasil atau tidak.

Untuk membeli buku ini, klik  di sini:  http://buku-realitas-dan-harapan-pariwisata.blogspot.com

Ada bonus. Atau, mungkin Anda megiririmkannya sebagai suvenir pada rekan?

Terima kasih atas perhatian Ada. (Arifin Hutabarat)