Suasana pagi yang damai di Danau Toba dinikmati dari Pulau Samosir.Nelayan-nelayan lokal sibuk memancing ikan di danau.(Foto:YD)

Suasana pagi yang damai di Danau Toba dinikmati dari Pulau Samosir.Nelayan-nelayan lokal sibuk memancing ikan di danau.(Foto:YD)

**Pulau Samosir, kawasan resor yang punya potensi menjadi venue olahraga unik**.  Setelah berada di dalam bis selama lebih dari 5 jam dari Bandara Kualanamu, Jumat 13/1/2017 minggu lalu,— kesan “Grandioso” menyergap mata dan perasaan saya begitu melihat Danau Toba. Danau itu dikelilingi tebing-tebing bukit terjal. Jalan raya yang tidak terlalu lebar dengan medan berkelok dan curam di Parapat membuat kita sungguh sadar dan merasa kecil di tepi danau terbesar di Indonesia.

Bis kami berhenti di depan dermaga Atsari menjelang jam enam sore. Di sekitar dermaga hotel-hotel lama masih berdiri, salah satunya Hotel Atsari itu. Tanah di tepi danau dan sekitarnya menyerupai pasir sehingga di beberapa bagian daratan yang tidak digenangi air membentuk pantai-pantai kecil. Diantara rombongan ada beberapa orang yang sudah berusia lanjut. Kami sempat sedikit kesulitan ketika berpindah ke kapal sambil membawa koper-koper. Namun itu segera dilupakan ketika kami mulai berlayar menyeberangi Danau Toba menuju Pulau Samosir. Guratan warna jingga di atas awan mendung yang seakan menggantung di ubun-ubun bukit-bukit di pulau masih menyiratkan romantisme senja di danau ini, walaupun secuil.

Sepasang suami istri wisman tampak menikmati betul jalan kaki di daerah Tuktuk,Samosir.(Foto:YD)

Sepasang suami istri wisman tampak menikmati betul jalan kaki di daerah Tuktuk,Samosir.(Foto:YD)

Tiba di Toba Beach Hotel sekitar 30 menit lewat pukul enam. Malam mulai turun. Suasana hening nan damai menyelimuti perasaan sehingga otot-otot badan yang kaku berangsur-angsur mulai mengendur. Beberapa tamu lain yang telah tiba sebelumnya tampak asyik mengobrol santai di pinggir kolam renang dan di bangku-bangku taman yang menghadap ke danau. Sayang, bulan purnama yang tengah bulat sempurna tak tampak pada akhir pekan lalu. Terhalang awan yang kemudian menjadi hujan pada tengah malam.

Saya terbangun ketika sayup-sayup mendengar suara adzan solat subuh. Semakin ke barat Indonesia mentari bangun lebih lambat. Apalagi di tengah musim penghujan seperti sekarang, semakin dia bermalas-malasan keluar dari peraduannya. Air danau begitu tenang sehingga nyaris tidak terdengar suara apapun. Burung-burung mulai bertingkah dan mengeluarkan suaranya bersahut-sahutan ketika langit semakin terang. Tiga orang nelayan di atas sampan sedang sibuk memancing tidak jauh dari tempat kami menginap.

Berada di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut dengan kontur berbukit-bukit, udara di Pulau Samosir relatif lebih sejuk. Sudah ada jalan melingkari pulau seluas 640 kilometer persegi itu. Di kawasan Tuktuk, pusat pariwisata di Kabupaten Samosir, cukup mudah menemukan penyewaan sepeda dan sepeda motor. Beberapa turis asing tampak menikmati pulau itu dengan berjalan kaki.

Sarana akomodasi di tepi Danau Toba di Parapat.Salah satu sarana wisata yang dibutuhkan sekarang memperbanyak jetty yang aman dan layak digunakan oleh pengunjung dari berbagai usia.(Foto:YD)

Fasilitas akomodasi di tepi Danau Toba di Parapat.Salah satu sarana wisata yang dibutuhkan sekarang memperbanyak jetty yang aman dan layak digunakan oleh pengunjung dari berbagai usia.(Foto:YD)

Di perjalanan dari tempat kami menginap di daerah Tomok menuju teater terbuka di Tuktuk Siadong, saya masih melihat rumah-rumah adat batak dari kayu berdiri di pekarangan rumah-rumah berdinding batako. Bis kami tersendat ketika memasuki pasar. Kemudian menjelang daerah Tuktuk, perbukitan hijau di satu sisi dan air danau yang membiru di sisi lainnya membentuk perpaduan nan cantik.

Memasuki Tuktuk, rumah-rumah warga yang menjadi homestay, diantaranya berada persis di tepian danau, dan warung-warung makan menawarkan suasana homy. Barangkali, itu pula yang menarik banyak turis asing datang dan berlama-lama tinggal di Samosir pada era 1980-an sampai sebelum tahun 1998. Abad sudah berganti. Di depan beberapa penginapan saya melihat papan penanda “Nida Rooms”.

Medan jalan berbukit yang diapit tebing dan danau, udara sejuk dan jauh dari polusi, suasana yang tidak terlalu ramai, masih bisa ditemui ciri khas kehidupan lokal dari jalan raya dan keramahtamahan masyarakatnya, Samosir bisa menjadi venue unik untuk menggelar acara olahraga rekreasi. Selain tentunya, menjadi kawasan resor dan relaksasi.

Masyarakat lokal menonton ASITA Samosir Run 2017 pada hari Sabtu (14/1) lalu.(Foto:YD)

Masyarakat lokal menonton ASITA Samosir Run 2017 pada hari Sabtu (14/1) lalu.(Foto:YD)

Perairan di sekitar pulau juga relatif bersih. Sinar matahari terik di tengah hari, birunya air danau sempat menggoda saya agar lekas berenang di dalamnya. Arusnya pun relatif tenang sehingga mendayung kayak atau kano mengarungi permukaannya cukup aman.

Tak cukup waktu menikmati seluruh Pulau Samosir dalam sehari semalam. Menyusurinya dengan berjalan kaki atau bersepeda merupakan cara paling ideal. Andaikan pulau ini bisa menyediakan ruas-ruas pedestrian yang layak dan nyaman digunakan, menyediakan lebih banyak ruang terbuka di tepi danau, mempersiapkan dermaga atau jetty yang ramah terhadap tamu dari segala usia baik di daratan Sumatera maupun di pulau, bukan tidak mungkin akan menarik kembali turis-turis asing. Menurut seorang pemandu lokal, sekarang turis yang datang ke sana bukan lagi hanya dari Eropa tetapi juga dari Asia Tenggara, Cina dan Timur Tengah. Jadi, harapan besar memang terbentang jika pariwisata di Danau Toba itu sungguh mendapatkan penanganan atau pengelolaan yang sesuai dengan tuntunan zaman. *** (Yun Damayanti)