Chotibul Umam, salah satu anggota HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) daerah Banten melihat berdasarkan kasat mata, wisman yang datang ke Banten tampak banyak berasal dari Perancis, Amerika, dan Jepang serta Korea mulai masuk. Wisman dari Inggris, Amerika, dan Perancis cenderung menyukai wisata minat khusus, terutama yang bertema ekowisata, yakni ke Ujung Kulon dan Krakatau. Sebenarnya Krakatau bukan termasuk Banten secara administratif, namun lebih mudah diakses dari   pantai Carita.

Wisman bule pola perjalanannya langsung ke Ujung Kulon, atau ke Krakatau. Selain paket wisata Krakatau yang 1 day trip, ada paket menginap semalam, memandang-mandangi aktivitas gunung berapi itu dari sebuah pulau berjarak radius aman. Letusan-letusan bagaikan kembang api di puncak gunung, itulah yang menarik minat mereka.

Gunung Anak Krakatau (2008). Sumber: http://id.wikipedia.org

Gunung Anak Krakatau (2008). Sumber: http://id.wikipedia.org

Wisman dari Amerika, Inggris, dan Perancis mengetahuinya dari promosi di internet. Para pemandu di sekitar Carita, Krakatau dan Ujung Kulon, juga sekaligus bekerja layaknya operator tur. Sebagian besar dari mereka anggota HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia). Jaringan mereka cukup luas, bukan hanya di dalam negeri tapi juga keluar negeri. Beberapa pemandu namanya “tercatat” di beberapa negara. Artinya, ketika wisman mau berwisata ke Ujung Kulon atau Krakatau, nama pemandu itu yang dihubungi. Di Banten sendiri terdaftar nama pemandu guna memaksimalkan keamanan turis selama berwisata.

Wisman dari Belanda juga mengunjungi Banten Lama. Mereka kebanyakan lansia yang ingin menapak tilas, tampak datang dimotivasi romantisme, lazim disebut sentimental journey. Biasanya datang per rombongan besar sekitar 25-30 orang. Di kawasan Banten Lama terdapat  kuburan Belanda (Kerkhoff) yang biasa dikunjung saat ke Benteng Speelwijk, selain itu ada juga beberapa yang ke Lebak, ini peninjauan menapaktilasi riwayat Multatuli. Pola perjalanan mereka akan tergantung dari lokasi penginapannya.

Menurut salah seorang penjaga situs, wisman yang datang ke Banten Lama paling banyak dari Belanda dan Jepang. Dia merasakan jumlahnya menurun sejak krisis  tahun 1998 dan beberapa kali peristiwa bom di Indonesia.    Sekitar tahun 1994-1998, ada sebuah biro perjalanan yang mengirim wisman dari Belanda ke sini setiap minggu. Untuk mereka selalu disiapkan pertunjukan tari debus dan beberapa macam pertunjukan lain. Frekuensi kedatangan lumayan tinggi: yang datang sendiri, berombongan, dan ada pula yang diorganisasikan biro perjalanan. Kini frekuensinya jauh melorot.

Warga Jepang yang datang umumnya expatriate yang bekerja di Indonesia.

Jadi, pertumbuhan jumlah wisman berkunjung ke provinsi ini masih relatif sedikit. Wisman dari Belanda datang bertujuan wisata nostalgia dan sejarah. Umumnya meninjau Benteng Speelwijk di daerah Banten Lama. Jumlah wisnus yang mendominasi, rata-rata ke obyek ziarah di Banten Lama juga. Yang beberapa tahun terakhir mendapat sorotan dan ekspos media adalah pantai Sawarna di sebelah selatan Banten. Ombak di situ bagus untuk surfing, kebanyakan backpacker, mengaksesnya dari Pelabuhanratu, Sukabumi, Jabar. Ada juga backpacker nusantara yang melalui jalur tengah dari Serang –Pandeglang-Lebak.

Kesiapan infrastruktur di destinasi Provinsi Banten dianggap sudah mencapai hampir 85%. Yang terlihat nyata adalah jalan-jalan di kawasan Anyer-Carita, menuju kawasan Banten Lama dari kota Serang, dan yang terbaik di daerah Tangerang Selatan (Tangsel), ada beberapa golf course seperti BSD, Imperial, Modern Land, dan lain-lain.

Setelah ruas  jalan Cilegon–Anyer diperbaiki, tingkat okupansi hotel dan resor di sepanjang pantai barat tersebut membaik. Itu diakui Ketua PHRI yang juga Ketua BPPD (Badan Promosi Pariwisata Daerah) Banten, Achmad Sari Alam. Di perkotaan seperti Cilegon tingkat okupansi hotel malah rata-rata di atas 80% dan di Tangsel di atas 75%. Umumnya, business traveler yang menginap di sana. Pertumbuhan hotel pun lebih banyak di daerah tersebut.

Khusus di Banten, kenyataan hingga kini city hotel tingkat okupansi mencapai 70-80%. Seperti di daerah Tangerang, Cilegon, dan Serang. Di Kota Serang saja mencapai 60-70%. Tapi di resor, tempat yang tergolong special interest tourism, tingkat okupansinya rata-rata 30-35%. Itu pengakuan G.S. Ashok Kumar, Ketua Harian PHRI Banten.

Statistik tahun 2012 menunjukkan 300 jumlah hotel besar dan kecil beroperasi di provinsi Banten, terdiri dari 39 hotel berbintang dan 261 hotel non-bintang. Sejak lama rata-rata length of stay (LoS) di provinsi Banten 2-3 malam. Di resor, didominasi tamu short stay, yakni para weekenders, atau pada saat peak season. Di long weekend, jelas LoS 2 malam. Belakangan ini ada tren, resor mulai diisi oleh long stay guest dari perusahaan-perusahaan besar dari kawasan industri di Cilegon seperti Asahimas, Chandra Asri, Tripolita dll. Di kawasan Tangerang, rata-rata LoS 4-5 hari, banyak hotel dikontrak oleh maskapai penerbangan yang biasanya dikategorikan long stay. Tambah lagi ditunjang kegiatan MICE, biasanya minimal 2 malam.

Tak kurang pula 640 restoran/rumah makan/kafe yang terdaftar di PHRI Provinsi Banten, itu dikategorikan well managed. Realitas keseluruhan lebih dari 2000, dan yang terdaftar sebagai wajib pajak sekitar 400 usaha. PHRI Banten sangat berharap sebelum pemda memberikan izin, hendaknya dikonsultasikan dulu ke PHRI, yang akan mengkaji kebenaran dan keabsahan usaha agar bisnisnya berkesinambungan. ***(Yun Damayanti)