Jika Anda berdiri di puncak Gunung Ijen, mata akan memandang hamparan hijau dan bukit-bukit kecil di bawahnya. Ketika Nusantara masih berada di masa kolonial, bangsa Belanda menanami dataran rendah di sekeliling kaki Gunung Ijen dan Raung dengan pohon kopi jenis arabika dan kacang makadamia. Bukan tidak mungkin pula mereka mengetahui bukit-bukit kecil itu adalah kaldera yang tidak jadi erupsi, dan dibiarkan hingga menjadi padang savana di sana.

Masyarakat lokal menyebut kawasan padang rumput itu Kawah Wurung. ‘Wurung’ dalam bahasa lokal berarti ‘tidak jadi’. Kawasan bukit savana tersebut berada di Dusun Curah Macan, Kalianyar, Sempol yang termasuk ke dalam wilayah PTPN XII. Kawah Wurung berada di ketinggian sekitar 1.600 mdpl dan tinggi perbukitan di kawasan Bukit Megasari di Kawah Wurung berkisar 350-400 meter. Saat berdiri di puncak Kawah Wurung dan melihat sekawanan kambing dan sapi sedang merumput di dasar lembah, ingatan melayang kepada savana di Sumba sana.

Pemerintah Kabupaten Bondowoso hendak mengembangkan kawasan yang berjarak sekitar 1 jam dari Pal Tuding, pintu masuk ke Kawah Ijen, sebagai alternatif obyek wisata Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen. Ada beberapa unit ATV dan empat ekor kuda yang disewakan dan bisa dimanfaatkan oleh pengunjung. Jika sedang beruntung, pengunjung bisa merasakan terbang tandem dengan paralayang dari sini. Atlet paralayang memanfaatkan kawasan ini sebagai tempat latihan.

Kuda di Kawah Wurung umumnya kuda poni berbadan kecil dan digunakan untuk mengangkut hasil kebun atau rerumputan pakan ternak.(Foto:YD)

Kuda di Kawah Wurung umumnya kuda poni berbadan kecil dan digunakan untuk mengangkut hasil kebun atau rerumputan pakan ternak.(Foto:YD)

Kini, diantara permadani rumput nan hijau, warga desa menanam kubis, jagung, stroberi dan tanaman sayur-mayur dan buah-buahan lainnya. Dan hewan-hewan ternak seperti sapi dan kambing dilepas saja untuk mencari makan di padang rumput.

Fasilitas umum seperti toilet dan tempat beristirahat memang baru dapat ditemui di beberapa penginapan lawas yang terawat dengan baik dan masih berada di dalam kawasan PTPN XII. Di penginapan-penginapan lawas itu umumnya tersedia kantin di mana pengunjung bisa menyeruput secangkir kopi arabika Bondowoso dengan rasa asam yang cukup kuat sambil mengemil kacang makadamia yang gurih, menyantap menu dari daging sapi yang lembut, dan diakhiri dengan segelas jus buah stroberi segar. Selain kopi bondowoso, kacang makadamia yang dikemas dalam stoples dapat dijadikan buah tangan.

Suasana hening dan tenang memeluk Kawah Wurung dan di sekitar penginapan. Suhu udara cukup sejuk dan minim polusi. Ingin sekali menjajal trekking atau cycling menaiki-menuruni perbukitan di Kawah Wurung. Sayang, belum ada jalur khusus atau peta. Sedangkan untuk riding horse masih terbatas jaraknya. Pemilik kuda akan menuntun kudanya sekaligus memandu saat kita menyewanya. Waktu paling baik mengunjunginya pada pagi hari atau menjelang sore hari. Sementara ini, bawalah bekal air minum dan penganan secukupnya. Tapi jangan lupa, bawa sampahnya kembali ya. Tentu Anda semua tidak ingin tempat yang masih perawan ini dikotori oleh kita yang ingin mereguk keindahan dan kedamaiannya bukan? *** (Yun Damayanti)