Jaringan Advokasi Disabilitas Jawa Timur (JADI) segera melayangkan somasi kepada PT Angkasa Pura I (AP I) yang akan mengganti media pengumuman bandara versi audio menjadi running text. AP I selaku pengelola Bandara Djuanda, Surabaya berencana mengganti layanan pengumuman melalui audio menjadi running text atau teks berjalan mulai 1 Juni 2014. Jadi, mulai besok. Pertimbangannya, untuk memberi kenyamanan penumpang dengan mengurangi kebisingan di bandara.

Pihak JADI menyatakan, jika hal tersebut tetap dilaksanakan, dikhawatirkan penumpang bakal banyak dirugikan. “Kalau ada yang ketinggalan pesawat (maka) AP I harus bertanggung jawab,” demikian dinyatakan, menurut berita di media.

Secara common sense pun sukar memahami bagaimana manajemen PT AP I sampai kepada kebijakan tersebut. Pengumumannya juga mendadak. Rasanya tak ada bandara di dunia ini yang mengumumkan keberangkatan pesawat dan meminta calon penumpang untuk naik ke pesawat alias boarding, tanpa PA system atau Public Address System, itu pengumuman melalui pengeras suara. Di bandara Sepang, Kuala Lumpur, pusat atau home base LCC Air Asia, memang, saking sibuknya, pengumuman semacam itu terdengar berkesinambungan serasa tiada jeda. Maklum, nyaris setiap beberapa menit ada saja pesawat yang hendak diberangkatkan, dan, pesawat yang baru mendarat. Masing-masing diumumkan liwat PA System.

Tetapi jika hanya diumumkan melalui teks berjalan di layar monitor, risikonya niscaya besar sekali. Sebagian calon penumpang cenderung akan luput mengetahui panggilan untuk boarding. Lagi pula pengalaman selama ini, informasi di monitor-monitor tak jarang “berbeda” dengan kenyataan, lantaran terjadinya perubahan-perubahan jam pemberangkatan terbang atau petunjuk pintu (gate) pemberangkatan.  Kalau pun running text dimaksud ditayangkan di pintu keberangkatan, risiko calon penumpang yang tak melihatnya lantaran sedang di luar area waiting lounge tersebut pun semakin besar.

Atau, kalau pun cara tersebut hendak diterapkan sepenuhnya, maka setidaknya diperlukan periode sosialisasi terlebih dahulu, mungkin selama enam bulan sebelum pemberlakuan  penuh. Maklumlah, masyarakat penumpang di Indonesia pun amat heterogen.

Ada yang menyarankan, agar tidak bising alias mengganggu pendengaran, sebenarnya manajemen bandara bisa mengatur volume suara melalui loud speaker agar selalu terdengar jernih, lembut, dan “tak bising atau bergaung”. Yang disebutkan terakhir itu, tak jarang dialami di banyak bandara di Indonesia. Dibandingkan dengan bandara-bandara internasional di negara tetangga, bisa dikatakan suara dan volume PA System di bandara internasional di Indonesia rasanya yang paling labil dan kadangkala malah terasa mengganggu di telinga. Atau, pengucapan kata-kata di PA System adakalanya tak jelas terdengar lantaran “gangguan tekhnis”.

Fasilitas internet di terminal 2 D bandara Soekarno-Hatta, pagi hari tak beroperasi. ( Foto: AH)

Fasilitas internet di terminal 2 D bandara Soekarno-Hatta, pagi hari tak beroperasi. ( Foto: AH)

Dalam beberapa hal tekhnis manajemen, bandara internasional di Indonesia diakui “masih ketinggalan”. Di terminal 2 keberangkatan penumpang internasional di bandara Soekarno-Hatta, misalnya, kendati tersedia fasilitas free internet, namun kadangkala hingga pukul tujuh pagi pun fasilitas itu belum dioperasikan maka tak bisa digunakan. Seakan sekedar jadi pajangan. Di berbagai bandara internasional negara tetangga, fasilitas itu terbuka 24 jam.

AP I mengelola 13 bandara mulai dari Juanda Surabaya dan seterusnya ke arah tengah dan timur Indonesia, sedangkan AP II mengelola 12 bandara di bagian barat Indonesia.  AP I beroperasi dengan menguntungkan. Diberitakan, pendapatannya tahun 2013 sebesar Rp 3,09 triliun, di antaranya dihasilkan dari sektor non-aeronautika sebesar Rp 1,1 triliun.

AP I tengah berusaha meningkatkan lagi pendapatan dari non-aeronautika dengan mengikuti pameran Tax Free World Association (TFWA) di Singapura pada 11-15 Mei 2014. Itu merupakan pameran pelaku industri duty free, travel retail, dan penyedia layanan bandara di kawasan Asia Pasifik. Disana, AP I hendak menjaring korporasi  retail agar bersedia berjualan di seluruh bandara yang dikelolanya, dan utamanya menawarkan 5 bandara, yaitu Juanda, Ngurah Rai, Lombok, Makassar, Balikpapan dan Sepinggan.

Momen pembukaan konferensi itu, diberitakan dimanfaatkan oleh Robert D. Waloni, Marketing and Business Development Director Angkasa Pura Airports, dengan memberikan penjelasan betapa besar potensi yang dimiliki Indonesia. Dalam konteks itu, Robert Waloni pun mengakui :” “Indonesia memiliki segalanya, namun kita masih jauh tertinggal.” Diambilnya perbandingan dengan Malaysia. Kata dia, Indonesia mempunyai 200 bandara dan 34 di antaranya adalah international gateways.

Jadi, dua aspek manajemen yang utama dijalankan oleh APA dengan API I dan API II-nya. Mengelola terminal penumpang yang berkaitan dengan pelayanan penerbangan, dan mengelola fasilitas-fasilitas non-aeronautika termasuk toko-toko penjualan, restoran, souvenir dan lainnya di dalam lingkungan terminal itu sendiri. Dengan kata lain, mereka harus “peka” dalam hal memberi kenyamanan dan kelancaran masyarakat penumpang dalam kaitannya menggunakan jasa penerbangan, dan, tentunya memenuhi standar internasional.***