Museum Sejarah Jakarta

(Artikel ini diangkat ulang dari yg pernah di posting di sini 15/9/2008). Kota tua atau The Old City (Town) of Jakarta sudah hebat dari konsepnya. Anda tentu sependapat. Setidaknya tiga   museum: Sejarah Jakarta, Wayang, Senirupa dan Keramik, plus Taman Fatahillah, diperuntukkan  membawa pikiran orang pada imajinasi kenangan Jakarta ratusan tahun yang silam. Tapi mari melihat beberapa fakta ini:

  1. Museum Sejarah Jakarta: benda sejarah yang dipamerkan tak disusun dengan penataan yang menyejukkan. Seakan tak mengacuhkan psikologi pengunjung modern, yakni, kendati ingin menyaksikan benda-benda kuno, tetaplah ingin menghibur mata untuk melihat sesuatu dengan estetika yang mengesankan. Di museum sejarah Jakarta itu, ada ruangan di mana 14 lampu sorot tergantung, mestinya menyorotkan sinar ke benda yang dipajang, namun yang hidup cuma satu. Di ruangan lain ada 11 lampu sorotnya bergantung, yang mengirimkan sinar hanya empat. Pokoknya, tak ada ruangan di mana setiap lampu sorot yang disediakan bekerja normal.
  2. Kalau itu dikategorikan sebagai ‘hardware’, demikian juga teks penjelasan setiap benda sejarah, disajikan tanpa ‘basa basi’ selera agar menggairahkan untuk dibaca. Sepotong kertas putih berukuran rata-rata 10 x 15 CM saja, teksnya di-print komputer hitam putih, masalahnya, ala kadarnya ditempel saja di stirofoam, digeletakkan di sisi benda, atau digantung miring tak rapi pada benda pajangan. Seakan menyerah: terserah, mau baca silahkan, mau enggak ya gak apa-apa.
  3. Dilihat dari sudut ‘soft ware’, keseluruhan susunan benda pameran tidak ditata menurut urutan periode, dari lantai I ke lantai III, sehingga sporadis loncat-loncat dari abad ke-17, 18, 19, dan 20, dan lebih dari itu, urutan cerita Jakarta sejak zaman Fatahillah tak terasa di sejarah yang sebenarnya ingin dipamerkan di Museum Sejarah Jakarta itu. Kusam dan suram menjadi lebih berkesan.
  4. Seperti juga ditemui minggu lalu di pintu gerbang masuk Kebon Raya Bogor, juga di pintu masuk Museum ini tak dipentingkan sama sekali perlunya suasana ‘welcoming’ terhadap tamu pengunjung. Di sini, tak ada apa pun disediakan kecuali satu meja kusam di mana petugas duduk dan kadang-kadang menjual tiket masuk; dan satu standing banner pengumuman aturan-aturan memasuki Museum itu. Di bidang pariwisata, Museum Sejarah di manapun kini, tidak lagi harus mencerminkan suasana primitif atau ketakberdayaan biaya pengelolaan di pintu masuk, di mana tamu justru disambut dengan pintu masuk yang tampak ditata cerah, sampai penyediaan selembar (kecil sekalipun) leaflet mengenai isi Museum.

Terowongan Kota, mestinya indah

Museum Sejarah Jakarta itu memang kalah wibawa ketimbang Museum Wayang, terasa sejak pengunjung tiba di pintu masuk sampai berkeliling menyaksikan 5400 benda koleksi. Koleksi Museum Wayang berasal dari seluruh Indonesia dan dari mancanegara. Benar bahwa kebetulan benda-benda wayang aslinya berwarna warni, namun penataan letak dari satu sekuen ke sekuen lanjutnya disusun dengan tambahan sentuhan estetika kontemporer dan enak ditelusuri. Gedungnya berdiri 100 meter saja dari gedung Museum Sejarah Jakarta.

Gedung Museum Sejarah Jakarta itu sendiri asli didirikan sejak 382 tahun silam, saat ini dinyatakan menyimpan lebih dari 500 koleksi yang dipamerkan, mulai dari koleksi kisah pendiri Batavia, ruang di mana Pangeran Diponegoro pernah ditahan, furniture yang sudah berusia ratusan tahun, sampai foto-foto Gubernur Jakarta hingga yang terakhir Sutiyoso.

Salah satu karakter kuat yang menjadi daya tarik setiap tourist spot, adalah ketika kawasan di mana spot itu berada, menyajikan suasana ‘care free‘ bagi pengunjung untuk berjalan-jalan. Konsep kota tua Jakarta yang dilancarkan terakhir adalah dengan membangun terowongan penyeberangan bagi pejalan kaki, yang terletak persis di hadapan stasion kereta api, dan ujung terminal Busway. Lokasi itu sangat padat lalulintasnya. Amatlah tampak mengasyikkan bagi pengunjung yang entah turun dari Busway ataupun sekedar menikmati strolling around, saat menyeberang melalui terowongan itu, lalu meneruskan jalan santai melewati Museum Bank Mandiri, lalu pelataran menuju kompleks Taman Fatahillah di mana tiga museum disebutkan di atas tadi berlokasi, saling berhadapan. Ke kiri kanan pemandangan yang tampak adalah bangunan gedung berusia ratusan tahun sejak zaman VOC – Hindia Belanda.

Tetapi terowongan itu pun kini mencerminkan satu kelemahan bangsa kita dalam pengelolaan pariwisata. Hari Minggu yll 14-9-2008, tangga pejalan kaki di terowongan itu mempertontonkan sedikitnya tiga orang anak-anak homeless alias gelandangan yang terbaring tidur lelap. Kesan kumuh. Tak jauh dari mereka sampah masih berserakan. Masyarakat yang lalu lalang tentu saja merasa risih. Dan demikianlah wisatawan, domestik apalagi mancanegara.

Dua hari sebelumnya Koran Tempo memuat berita ini :”Terowongan penyeberangan pejalan kaki di kawasan Kota penuh dengan sampah. emandangan kumuh itu sudah terlihat dalam sepekan terakhir. Di koridor dari Museum Bank Mandiri, beberapa coretan spidol sudah mengotori dinding. Kolam bundar tak beratap di tengah terowongan juga terlihat kotor. Sampah plastik membayang di bawah permukaan air. Sandal dan benda-benda lain mengapung di permukaan kolam berair keruh itu. Petugas Transjakarta mengatakan, kebersihan di area terowongan itu bukan tanggungbjawabnya. Lalu siapa? “Tanya orang pemda saja, Mas” ujarnya.

Moral cerita ini …

Moral dari reportase ini adalah hendak menelusuri hirarki kelembagaan siapa yang mestinya mengurus outlet seperti itu?

Sebuah contoh kecil agak ekstrim. Di Singapura, perusahaan listrik menugaskan beberapa orang berkeliling kota mengendarai sepeda, setiap hari mulai jam 6 sore sampai jam 8 malam. Dengan bersepeda itu, sekali lagi setiap hari, mereka bertugas mencari apakah ada lampu penerang jalan yang mati. Kemudian on the spot langsung melaporkan melalui telepon ke kantor perusahaan listrik yang menggajinya. Beberapa saat kemudian petugas lain datang untuk menghidupkan lampu yang mati. Jadi, tak ada kesempatan bagi lampu untuk mati beberapa hari, apalagi mingguan dan bulanan !

Nah, proyek rehabilitasi kota tua di Jakarta itu sejak tiga empat tahun yll, mulai cenderung mengulang kebiasaan lama. Gegap gempita di saat awal, atau ketika seremoni peresmian dan pembukaan. Tak lama sesudahnya, pemeliharaan dan pelaksanaan selanjutnya menjadi ranah tanggungjawab tak bertuan.

Memelihara dan mengelola kebersihan saja sehari-hari tak dapat dilaksanakana secara normal, apakah lagi kalau ada kerusakan, lampu yang mati, petugas yang tidak ada di tempat, atau ketersediaan leaflet yang sudah kehabisan, kalaupun ada, tergeletak berserakan.

Ihwal terakhir itu, ditemui saat kita baru mendarat dari luar negeri di terminal 2 D bandara Soekarno-Hatta. Di buku-buku diceritakan ada konter Tourist Information Service di terminal itu, namun ternyata petugas tidak ada dan beberapa lembar brosure secara acak terpajang. Untung masih tampak brosure yang lumayan tampilan warnanya, beberapa lembar Jakarta City Map, Enjoy Jakarta dengan Logo Visit Indonesia 2008.

Apa moral reportase ini? Pariwisata dikelola mulai dari tingkat nasional Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, dengan dinas pariwisata tingkat propinsi sampai tingkat walikota. Sejatinya, tangan paling ujung pemerintahan di lapangan adalah kecamatan.

Saya membayangkan seperti perusahaan listrik di Singapura tadi. Tanpa bermaksud to over simplify atau sengaja bersikap naif, menurut saya, setiap objek wisata, termasuk tourist spot seperti The Old City of Jakarta, sekali seminggu haruslah ditinjau on the spot oleh petugas dari Departemen, dari Diparda Tingkat I dan Tingkat II. Bilamana menemukan sesuatu yang ‘melanggar’ aturan, atau yang ‘tidak dipelihara dengan normal’, atau yang ‘menghadapi gangguan’, maka para petugas itu haruslah selalu langsung membuat laporan. Dan laporan itulah yang kemudian dipantau tindaklanjutnya oleh instansi yang bersangkutan.

Tanpa itu, produk dan penyajian objek wisata kita tetaplah berputar mengulangi kesalahan yang sama sejalan dengan kebiasaan kita. Happy saat peresmian sesudah itu tidak perduli. Maka para wisman yang berkunjung, seringkali pulang dengan  kesan bahwa Indonesia itu memang masih primitif dalam praktek pengelolaan apa saja. Bisa menjadi kampanye negatif dari mulut ke mulut. Atau, orang cenderung tak akan kembali sebagai repeaters. Pada hal di bisnis pariwisata, repeating visitors merupakan andalan penghasilan yang menggiurkan, karena sekaligus mencerminkan kepuasan pelanggan dan kualitas produknya.

Tak jarang, objek wisata yang baru diperkenalkan, atau ajang pameran yang maksudnya mempromosikan sesuatu, ketika acara pembukaan dilakukan oleh Menteri, Gubernur, bahkan Wakil Presiden sekalipun, dengan susunan acara yang apik secara protokoler, mengesankan hebat bahkan mewah; namun sesudah upacara usai, objek tak dikunjungi orang, pameran sepi dari pengunjung. Tapi apa kata Panitia Pelaksana? “Bagi kami, kalau Menteri atau Gubernur senyum cerah saat meresmikan, itu sudah lebih dari cukup”. Artinya, kalau sang Bos tampak puas sendiri, sesudah itu nyaris tak ada lagi yang penting diperhatikan.

Kecenderungan yang menjurus menjadi kebiasaan yanag lain pada masyarakat kita, ialah kenyataan di mana kalau bisa, setiap permasalahan yang kecil pun kita ingin mengadukan, atau melaporkan, ke Presiden, atau ke Menteri, atau ke Gubernur. Padahal, secara common sense pun kita memaklumi hirarki tata pengelolaan mestinya tidak harus terjadi seperti itu. Kalau perlu laporkan cukup ke Camat, atau Walikota, dan dia meneruskan tindaklanjut. Kalau tak berhasil juga, memang risikonya adalah, cenderung menumpuknya akumulasi pendapat umum yang bisa memengaruhi sehingga walikota, gubernur sampai Presiden pun tak dipilih lagi pada pemilihan berikutnya.

Wisman Lelah

Di Museum Sejarah Jakarta, anda bisa dipandu oleh guide setempat dengan fee Rp 40 ribu per jam.  Berbahasa asing antara lain Inggris, Belanda, Jerman, Prancis.

Seorang pramuwisata menceritakan pengalamannya. Kalau para wisman terlebih dulu dibawa berkeliling Jakarta, ke Taman Mini Indonesia Inah dan tempat lain, ketika mereka tiba di kompleks Kota Tua Jakarta siang hari, tampak sudah lelah ditekan oleh iklim Jakarta. Maka tak begitu enjoy lagi mereka manakala berkeliling museum.

Padahal minat para wisman sesungguhnya serius, kata sang guide. Ya, sekali mereka memilih itinerary untuk berkunjung ke sini, dari awal memang berkeinginan tahu banyak dari peninjauan.

Maka menurut para guide ini, paling ideal adalah membawa wisatawan di bagian pagi terlebih dahulu ke kompleks museum ini, barulah ke spot lain di Jakarta. Atau, ditawarkan itinerary setengah hari penuh untuk museum, termasuk Museum Nasional yang terletak di sebelah barat Monumen Nasional, tempat berhimpun lebih dari 141 ribu koleksi dari seluruh nusantara dan negara-negara tetangga.

Apakah Anda sendiri sudah sempat menyaksikan museum-museum itu?===