Wapres Jusuf Kalla bulan April yll meresmikan penggunaan jembatan berbentuk huruf S sepanjang sekitar 500 meter, namanya jembatan Gentala Arasy, di atas sungai Batanghari yang membelah kota Jambi. Ribuan warga Jambi memadati jembatan itu di setiap hari Minggu. Tentu juga hari-hari libur. Jadilah jembatan yang unik itu lokasi daya tarik bagi wisatawan lokal, tampaknya juga bagi siapa saja yang datang dari luar kota Jambi.

Menginap di salah satu hotel di tepian sungai, dari lantai lima tampak pemandangan bird’s eye view atas jembatan Gentala. Bentuk huruf S-nya terbaca. Lengkungan jembatan sebenarnya dirancang untuk memberi daya tahan terhadap hempasan angin. Dan, ini jembatan gantung, lihatlah tak ada tiang beton penyanggah sebagai fondasinya, kecuali tampak dua tiang tinggi yang justru padanya kabel-kabel baja menggantungkan badan jembatan. Karenanya jembatan itu ingin disebut sebagai “titian”, atau jembatan gantung. Unik, bukan?

Warga masyarakat Jambi memadati jembatan "S"nya di setiap hari libur.(Foto: AH)

Warga masyarakat Jambi memadati jembatan “S”nya di setiap hari libur.(Foto: AH)

Bulan Juni ini, menurut penjelasan petugas dari Dinas Pariwisata, sepanjang jembatan akan dipasangi lampu-lampu jalan. Di malam hari, nanti tentu akan tampak lebih indah lagi pemandangannya, selain akan semakin menyenangkan bagi masyarakat pengguna jalan jembatan itu. Hanya pejalan kaki, sedangkan pesepeda dayung apalagi sepeda motor dan mobil tak boleh menggunakannya.

Di salah satu ujung atau pangkal jembatan, dibangun satu menara yang tingginya 80 meter. Sampai ketinggian 25 meter menara tersebut, diadakan “persinggahan” dengan pelataran bundar. Dari situ sebenarnya pengunjung dapat menyaksikan pemandangan terhampar dari sungai Batanghari. Dan, menyaksikan hampir seutuhnya bentuk sang “titian” yang berkelok-kelok.

Tapi memang, belum waktunya lift untuk naik ke atas situ bisa digunakan untuk umum.Kapasitas lift nya hanya untuk lima orang, sementara aliran listrik yang sewaktu-waktu terputus, tak menjamin kenyamanan untuk naik dan turun. Lagi pula, pelataran di ketinggian 25 meter itu, belum dilengkapi dengan semacam “terali pengaman” untuk menjamin keselamatan pengunjung dari

Di pagi hari petugas kebersihan menyapu jalan setelah sehari sebelumnya dipenuhi oleh masyarakat yang berduyun-duyun ke jembatan Gentala Arasy Jambi ini. (Foto: AH)

Di pagi hari petugas kebersihan menyapu jalan setelah sehari sebelumnya dipenuhi oleh masyarakat yang berduyun-duyun ke jembatan Gentala Arasy Jambi ini. Tampak menaranya di kejauhan . (Foto: AH)

kemungkinan terjatuh.

Festival Candi Muara Jambi

 Daerah ini memang cukup rajin mengadakan kegiatan dengan niat membangun pariwisata. Salah satu adalah Festival Candi Muara Jambi. Untuk ke-12 kali festival itu digelar pada 24-27 Mei 2015 ini. Mewakili Menteri Pariwisata, Hari Untoro Drajat, Saf Ahli Bidang Perlindungan Keanekaragaman Budaya Kreatif, datang meresmikan dimulainya Festival pada 24-5-2015.

Candi Muara Jambi itu sendiri merupakan salah satu candi yang tertua di Indonesia. Pernah sebagai tempat pusat pendidikan dan tempat persembahyangan umat Budha. Sampai sekarang pun umat Budha suka berkunjung berkelompok dan melakukan ibadah di situ.

Luas sekali lokasinya. Peninggalan candi-candi tampak kebanyakan tak berbentuk sempurna, namun berserakan letaknya. Maka, sekitar 500 sepeda tersedia di sini, pengunjung menyewanya untuk berkeliling kompleks keseluruhan, yang telah menjadi taman rindang pepohonan, namun jarak antara reruntuhan candi-candi lumayan jauh bagi pejalan kaki.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Muara Jambi, Nur Subiantoro, tahun lalu tercatat sekitar 140 ribu wisatawan yang mengunjungi Candi Muara Jambi ini. Di antaranya sekitar 160 orang wisman. Itu berdasarkan jumlah tiket masuk kompleks candi, yang terjual.

Untuk sampai ke situ, hanya sekitar 20 menit saja berkendara mobil dari kota Jambi. Kota Jambi sendiri berjarak sekitar 20 menit juga dari bandara Sutan Thaha. Bandara ini tidak terhubung dengan penerbangan langsung luar negeri, sebutlah Singapura, Kuala Lumpur atau Johor dan Penang. Tapi Garuda Indonesia dan Lion Air beroperasi ke sini dari beberapa kota dalam negeri.

Keadaan Jambi dengan demikian bolehlah disebut sebagai embrio suatu destinasi bagi wisatawan mancanegara. Pada tahap sekarang, dengan membangun “titian Gentala Arasy”, Pemda setempat tampak tengah berada pada perkembangan di mana membangun fasilitas wisata, fasilitass umum, dan spot wisata, melayani kebutuhan masyarakatnya sendiri, merupakan langkah-langkah awal mengembangkan “embrio” itu untuk menjadi kelak satu destinasi wisata, bagi wisnus berskala regional, lalu nasional, dan akhirnya wisman.***