TTI AH analisis feature Apa kepentingan Anda membaca terus tentang pariwisata? (1). Karena bekerja di bidang pariwisata.(2). Ingin bekerja di bidang ini. (3). Berbisnis pariwisata. (4). Ingin berusaha di bidang ini. (5). Ada rasa peduli melihat pariwisata maju. (6). Sebagai wisatawan atau ingin berwisata di dalam ataupun ke luar neger. (7). Mempelajari terus tentang pariwisata berdasarkan informasi yang beredar.  (8). Anda bahkan punya tugas dan tanggungjawab atau hak dan kewajiban demi maju atau mundurnya pariwisata kita.

Itulah antara lain, atau Anda juga masih bisa menambah akan alasan dan dorongan mengapa kita membaca terus tentang pariwisata, atau, antusias mendengar di radio dan menonton di tv.

Dari berbagai fakta dan gejala sepanjang tahun 2015 ini, beberapa “isu” dan “praktek” di bidang pariwisata Indonesia tahun 2016 nanti baik juga kita coba antisipasi.

Ita Pattirajawane, menulis komentar singkat : …harus disosialisasikan plus dan minus-nya, pakai style begitu…

Seorang senior praktisi professional bisnis pariwisata ini, menanggapi melalui facebook atas newsstory yang kami angkat beberapa hari yang lalu di sini. Judulnya: Telah Lahir, Mulai Meluas “Trip Operator”, Termasukkah Anda? Isi informasinya: Indie Travel Mart (ITM) 2015 digelar di Jakarta (12-14 November 2015), diikuti 50 trip operator yang sebagian besar dikelola oleh anak-anak muda Indonesia. Ini fenomena baru dunia pariwisata, kreasi Indonesia. Tampaknya perlu penataan lebih lanjut. Di banyak FB, Tweet, Instagaram, secara perorangan pun kian banyak kegiatan wisata ditawarkan, kian maraklah wisata nusantara di Indonesia. Dimaksud “trip operator” itu ada usaha perorangan atau usaha kecil mikro, bukan agen perjalanan besar. Mereka fokus pada destinasi-destinasi wisata di Tanah Air, paket perjalanannya terhitung unik, seperti ke Pahawang, Pulai Kei, Pulau Kenawa, Menjangan, Sumba, Alor, Bajawa, Wae Rebo, Baluran, dan sebagainya.

Wisata alamnya pun biasa diminati oleh wisatawan usia muda Indonesia. Harga paketnya? Mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 5 juta. Harga termurah adalah paket jelajah Kepulauan Seribu Rp 100.000. Yang termahal paket perjalanan ke Raja Ampat Rp 5 juta.

“ITM 2015 ini sangat menarik karena menawarkan  paket wisata di seluruh  penjuru Nusantara. Lebih menarik lagi, event ini diikuti para pelaku usaha jasa wisata yang rata-rata anak muda dan berani mengambil risiko membuka destinasi baru yang belum dikenal. Mereka gencar mempromosikan paket wisata melalui media online atau internet,” itu pendapat Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Esthy Reko Astuty.

Memang, dalam beberapa tahun terakhir ini banyak lahir “trip operator” independen yang mayoritas dirintis anak muda. Mereka menggunakan metode yang berbeda dibanding pendahulu-pendahulunya, yaitu sangat memanfaatkan internet, media digital, dan social media.

Apakah fenomena itu berpotensi menjadi ‘isu’ pariwisata tahun 2016 ? Jawabannya iya kalau dirujuk pada pernyataan (artinya, program yang hendak dilaksanakan) oleh Ketua Umum ASITA (Asosiasi Perusahaan Tour & Travel Agent Indonesia), Asnawi Bahar yang baru saja terpilih kembali.

Bahwa, Asita akan menegaskan sikapnya terhadap kebijakan pemerintah yang memberikan kemudahan kepada perseorangan dan usaha kecil membawa tamu/wisatawan. Pada umumnya, perseorangan dan usaha kecil itu tidak mempunyai izin membawa tamu/wisatawan, apakah mereka membayar pajak atau tidak, dan itu akan kontradiktif dengan usaha membangun citra perusahaan perjalanan di Indonesia yang dapat dipercaya dan diandalkan (reliable).

Sementara itu, salah satu tanggapan pembaca atas artikel yang kami muat tersebut tadi, memang ada yang menulis begini: (dari : Husni , November 15, 2015, 9:27 pm ) Harus dibuat aturan untuk proteksi kualitas agar wisatawan tidak tertipu oleh trip operator perorangan,karena sudah ada beberapa kejadian.

Nah, isu ini meminta perhatian untuk dituntaskan. Tentu bukan untuk “melarang” atau “menghambat kemajuan”, tetapi “mengelola” dengan kebijakan dan aturan-aturan main yang meletakkan persoalan pada proporsi yang wajar dan “modern”.

Sebenarnya masih ada yang lain perlu dibenahi untuk dikelola? Yakni tentang tour guide atau pramuwisata. Di beberapa destinasi termasuk Bali, “polemik” pramuwisata perorangan antara yang disebut legal dan illegal, masih menggantung. On and off dilakukan “razia”. Bagusnya, ketika peak season kunjungan wisman hendak terjadi, seminggu sebelumnya dikabarkan bahwa pihak Asita setempat melakukan PDKT alias pendekatan pada pihak Satpol PP setempat: meminta pengertian agar jangan melakukan razia saat peak season.

Tapi ya, itu kan mengesankan sebagai upaya ibarat tambal sulam, dan bukan systemized.  Contoh yang systemized, di negeri China misalnya, seorang tour guide yang berdomisili dan bekerja di kota Beijing, tidak boleh melakukan kegiatannya di kota Shanghai. Atau di kota lain, atau sebaliknya. Dan seterusnya.*** (Arifin Hutabarat)