Presiden Joko Widodo melihat fasilitas praktik di satu Sekolah Kejuruan Menengah Atas yang mempunyai jurusan Pariwisata di Kupang ketika melakukan kunjungan kerja di Provinsi Nusa Tenggara Timur awal Januari 2018.Presiden juga bermalam di Pulau Rote dan mengunjungi pantai Nembrala,satu ODTW di ujung paling selatan Indonesia yang sudah terkenal di kalangan peselancar mancanegara.(Foto:ASITA NTT)

Presiden Joko Widodo melihat fasilitas praktik di satu Sekolah Kejuruan Menengah Atas yang mempunyai jurusan Pariwisata di Kupang ketika melakukan kunjungan kerja di Provinsi Nusa Tenggara Timur awal Januari 2018.Presiden juga bermalam di Pulau Rote dan mengunjungi pantai Nembrala,satu ODTW di ujung paling selatan Indonesia yang sudah terkenal di kalangan peselancar mancanegara.(Foto:ASITA NTT)

Jakarta, ( ITN – IndonesiaTouristNews ): Iklim investasi Indonesia kian bertambah sehat. Dua sektor investasi yang dinilai berpeluang tumbuh pesat tahun ini adalah pariwisata dan e-dagang.

Dalam waktu tiga tahun terakhir ini peringkat “Ease of doing business” di Indonesia melonjak dari 120 menjadi 72. Pada tahun 2018 diharapkan, Indonesia bisa lebih menarik lagi bagi investor. Pada tahun ini pertumbuhan terbesar investasi diprediksi dari sektor pariwisata dan e-dagang (E-Commerce).

Dalam Rapat Terbatas (Ratas) yang dipimpin langsung Presiden Joko Widodo, Jumat (5/1), disampaikan, “Saya ingin lebih fokus dan konsentrasi lagi di investasi. Kemudian, ekspor atau perdagangan luar negeri.”

Menurut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong, gerak cepat harus dilakukan untuk mengejar ketertinggalan. Pertumbuhan investasi di Indonesia harus terus membaik mengingat negara-negara pesaing juga ikut tumbuh. Dan dua sektor investasi yang dinilai berpeluang tumbuh pesat tahun ini adalah pariwisata dan e-dagang.

Thomas Lembong, Kepala BKPM.(Foto:Ist)

Thomas Lembong, Kepala BKPM.(Foto:Ist)

Siaran pers dari Kementerian Pariwisata yang menjelaskan informasi di atas, selanjutnya menyebutkan, bahwa investasi di sektor pariwisata menjadi unggulan karena merupakan komoditas paling berkelanjutan dan menyentuh hingga ke level bawah di masyarakat. Setiap tahun performa pariwisata Indonesia, baik dari kunjungan internasional (wisatawan mancanegara) maupun pergerakan perjalanan di dalam negeri (wisatawan Nusantara), pun terus menanjak bila dibandingkan dengan komoditas lainnya seperti minyak, gas, batu bara, dan kelapa sawit.

“Hasilnya cepat, dampak lapangan kerjanya cepat, dan pengahasilannya cepat. Devisanya pun jalan,’’ kata Kepala BKPM.

Melalui branding Wonderful Indonesia dan promosi yang intensif dalam tiga tahun terakhir, peringkat daya saing pariwisata Indonesia di dunia terus naik. Setelah melompat tajam dari peringkat ke-70 pada 2013 ke peringkat 50 pada 2015, indeks daya saing pariwisata Indonesia kembali melesat, naik 8 peringkat, ke-42 pada tahun 2017. Dalam kurun waktu itu sektor pariwisata telah menjadi kekuatan ekonomi baru di Indonesia.

Pada tahun 2019, sektor pariwisata diproyeksikan mampu menyumbang produk domestik bruto sebesar 15%, Rp 280 triliun untuk devisa negara, 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara, 275 juta perjalanan wisatawan Nusantara, dan menyerap 13 juta tenaga kerja. Lebih jauh, sektor pariwisata diyakini mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang lebih tersebar di seluruh negeri ini.

Pantai Kuta Mandalika dan sekitarnya di Lombok,Nusa Tenggara Barat sedang terus ditata agar bisa mengakomodasi pengunjung domestik dan mancanegara.Dalam dua tahun ke depan akan beroperasi akomodasi-akomodasi berbintang di kawasan ini.(Foto:YD)

Pantai Kuta Mandalika dan sekitarnya di Lombok,Nusa Tenggara Barat sedang terus ditata agar bisa mengakomodasi pengunjung domestik dan mancanegara.Dalam dua tahun ke depan akan beroperasi akomodasi-akomodasi berbintang di kawasan ini.(Foto:YD)

Pusat pertumbuhan ekonomi baru diperlukan untuk mewujudkan pembangunan yang Indonesia Sentris sehingga terwujud pemerataan ekonomi yang berkeadilan. Hal itu telah ditegaskan di dalam ikhtisar Pembangunan Ekonomi dan Peningkatan Produktivitas (presidenri.go.id), pariwisata dan ekonomi kreatif termasuk ke dalam menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru bersama dengan pembangunan infrastruktur, menyediakan pasokan energi, dan persiapan perhelatan Asian Games 2018.****