Padepokan seni di Desa Candirejo,Magelang,Jawa Tengah.Sarana melestarikan seni & budaya sekaligus atraksi wisata.(Foto:YD)

Padepokan seni di Desa Candirejo, Magelang, Jawa Tengah. Sarana melestarikan seni & budaya sekaligus atraksi wisata.(Foto:YD)

Jakarta, ( ITN – IndonesiaTouristNews ): Indonesia menempati peringkat ke-9 dalam 10 peringkat teratas Sustainable Tourism Index yang baru saja dikeluarkan oleh The Economist . Perancis menempati urutan pertama dalam daftar itu, lalu menyusul Jerman dan Inggris.

Apa saja yang dinilai dalam pemeringkatan tersebut? The Economist membaginya dalam 5 kategori yakni politik dan peraturan lingkungan, kelestarian lingkungan, keberlanjutan sosio-ekonomi, keberlanjutan secara ekonomi, dan industri perjalanan dan pariwisata. Index ini diklaim sebagai yang pertama dilakukan terhadap negara-negara yang berkomitmen mengembangkan dan mempromosikan praktik-praktik pariwisata berkelanjutan dan yang terbaik memelihara modal sosial, kebudayaan dan lingkungannya.

Dari hasil penelitian The Economist ditemukan, pariwisata berkelanjutan yang efektif memerlukan tingkat koordinasi tinggi antara sektor bisnis dan sektor publik/pemerintah, serta masyarakat sipil dan individu wisatawan. Perusahaan swasta, kelompok/komunitas maupun individu-individu akan maju dan mengisi kekosongan apabila pemerintah terlambat dan tertinggal mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mendukung pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism). Meskipun mereka itu pada umumnya tergolong usaha kecil dan menengah yang masih terus berjuang mencapai pariwisata berkelanjutan. Dan ini terjadi di seluruh dunia.

Di negara-negara maju kebijakan dan promosi praktik pariwisata berkelanjutan sudah berada di tingkat nasional dan terus mendorong tren ini. Dua negara di peringkat teratas dalam Index adalah negara-negara maju. Mereka telah berhasil melakukan tindakan bersama dan berkelanjutan hingga ke tingkat nasional guna mengembangkan kebijakan, menetapkan target dan memantau hasilnya. Perancis telah menetapkan target-target spesifik dan pedoman-pedoman mengenai kapasitas daya dukung dan transportasi untuk wisatawan. Jerman mewajibkan penilaian dampak lingkungan terhadap aktivitas pariwisata dan yang terkait untuk mengurangi penggunaan energi dan air berlebihan serta menekan emisi gas rumah kaca.

Sedangkan di negara-negara berkembang masih ada hambatan-hambatan yang dapat mempengaruhi kontribusi-kontribusi positif terhadap pengembangan dan mempromosikan praktik-praktik pariwisata berkelanjutan di masa depan. Indonesia menjadi contoh negara pertama yang mempunyai kelengkapan kebijakan pariwisata berkelanjutan.

Menurut para ahli yang diwawancara dalam penelitian itu, belum ada kebijakan pariwisata berkelanjutan yang benar-benar terintegrasi antara di tingkat nasional, daerah, dan lokal. Bagaimanapun pariwisata berkelanjutan masih terus berkembang dengan baik.

Michael Gold, editor yang bertanggung jawab atas penelitian tersebut, mengatakan,”Kemajuan dalam pariwisata berkelanjutan sedang berlangsung di negara-negara berkembang, dan semoga saja itu akan berlanjut dengan cepat. … Kinerja negara-negara maju memang kuat dan sangat menggembirakan. Sedangkan negara-negara berkembang tumbuh menonjol sebagai tujuan-tujuan pariwisata jadi mereka akan berperan lebih besar dalam mendorong keberlanjutan di bidang ini di seluruh dunia.” (dikutip dari Travel Weekly, 2 Januari 2018).

The Sustainable Tourism Index

1 Perancis
2 Jerman
3 Inggris
4 Amerika Serikat
5 Jepang

6 India
7 Brazil
8 Cina
9 Indonesia
10 Mesir

*** (Yun Damayanti, dari berbagai sumber)