Hok Lok Pan Dulu Namanya, Asal-usul “Martabak Bangka” Abad ke-18, Anda Tahu Perkembangannya Kini Saja, Bukan?

(Logo:Disbudpar Kota Pangkalpinang)

(Logo:Disbudpar Kota Pangkalpinang)

Martabak bangka atau martabak manis bisa dikatakan penganan kecil malam (late night snack) orang Indonesia. Pada umumnya dijual mulai sore hingga malam hari dan bisa ditemukan hampir di seluruh daerah di Indonesia. Penganan itu mengandung 200-275 kkal setiap potongnya, diperkirakan sudah ada sejak tahun 1710. Jadi, telah menjalani akulturasi panjang. Dan nasibnya akan terus diolah dengan ide-ide kreatif dan inovatif tanpa meninggalkan resep dasarnya yang terpelihara di dalam memori selama lebih dari 300 tahun.

Asal-usul martabak bangka 

Martabak manis yang kerap di-branding “martabak bangka”, di tempat asalnya Pulau Bangka masih disebut dengan hok lok pan, atau kue tabok, atau pandekok.

Ada kisah yang berkembang di masyarakat di sana bahwa di zaman penjajahan dahulu adalah juru masak dari etnis Hokkian yang bekerja untuk keluarga-keluarga Belanda. Salah satu yang dimasaknya adalah kue panekuk (pancake). Setelah Belanda angkat kaki, juru masak itu mulai berkarya. Salah satunya dengan membuat panekuk seperti yang diingatnya kemudian mulai dijual.

Karena dibuat oleh orang Hok Lo, sebutan untuk etnis Hokkian di Bangka, maka panekuk yang di lidah lokal menjadi pandekok itu dikenal sebagai hok lok pan, artinya kue yang dibuat oleh orang Hok Lo. Sebutan hok lok pan ini masih digunakan saat memesan martabak manis oleh masyarakat di Bangka, terutama oleh orang-orang tua, sampai sekarang.

Ini hok lok pan,martabak bangka asli dengan toping wijen.Hok lok pan ini masih dimasak dengan menggunakan arang sehingga kulitnya tampak lebih gelap dan matte serta ada seriwing bau asap dari kulitnya.Martabak ini dijual oleh salah seorang penjual hok lok pan pagi di depan pusat belanja BTC,Pangkalpinang.(Foto:YD)

Ini hok lok pan,martabak bangka asli dengan toping wijen. Hok lok pan ini masih dimasak dengan menggunakan arang sehingga kulitnya tampak lebih gelap dan matte serta ada seriwing bau asap dari kulitnya. Martabak ini dijual oleh salah seorang penjual hok lok pan pagi di depan pusat belanja BTC,Pangkalpinang.(Foto:YD)

Menurut seorang penjual martabak di Pangkalpinang, panekuk merupakan asal-muasal martabak bangka. Pada zaman Belanda, baik panekuk maupun hok lok pan hanya berisi wijen. Jadi martabak bangka versi orisinalnya hanya menggunakan topping wijen. Bukan seperti yang umumnya kita kenal sekarang.

Hingga saat ini, martabak bertoping wijen masih populer di Bangka, meskipun mereka juga menyukai topping-topping lainnya. Sedangkan pengunjung dari luar Bangka umumnya membeli martabak manis dengan variasi topping.

Yang tidak pernah berubah adalah penggunaan tepung terigu dan gula sebagai bahan dasar. Pada awalnya, hok lok pan dibuat dari tepung terigu, gula dan pengembang roti. Kemudian resep berkembang dengan meninggalkan pengembang roti dan menggantinya dengan telur dan soda kue. Telur untuk melembutkan adonan, sedangkan soda kue untuk membuat sarang pada daging martabak.

Salah seorang penjual martabak di Bangka mengatakan, untuk 1 kilogram tepung terigu menggunakan 4 butir telur dan 2,5 ons gula kemudian ditambah vanili dan soda kue.

Adonan martabak hanya tahan selama satu hari. Lewat sehari adonan sudah tidak bisa digunakan karena akan berasa asam dan keras. Penjual martabak akan menunggu sampai habis, kalau tidak habis adonan akan dibuang.

Tidak seperti pembuatan tahu dimana faktor air bisa mempengaruhi rasa, pembuatan martabak tidak dipengaruhi faktor air. Tetapi lebih pada kualitas bahan-bahan yang digunakan. Untuk meyakinkan para pembeli dan pelanggannya, penjual martabak bangka selalu membuat adonan di tempat terbuka atau yang bisa dilihat langsung.

Sepotong hok lok pan/martabak bangka ini mengandung 200 kkl-275 kkal.Ini martabak bangka dengan varian toping di Pangkalpinang.(Foto:YD)

Sepotong hok lok pan/martabak bangka ini mengandung 200 kkl-275 kkal. Ini martabak bangka dengan varian toping di Pangkalpinang.(Foto:YD)

Martabak manis yang paling umum dijumpai berisi (toping) cokelat-kacang-keju. Kini pun tersedia varian isi mulai dari ketan hitam, buah-buahan seperti durian dan pisang, hingga selai cokelat Nutela, cokelat Kitkat dan Tobleron. Mulai dari berukuran besar hingga mini. Dijual mulai dari gerobak kaki lima hingga toko (outlet) dan waralaba.

Namun di Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung, dimana “Bangka” diambil kemudian disematkan untuk menamai martabak manis, martabak bangka asli hanya berisi wijen, susu kental manis dan gula. Varian toping baru masuk dan dikenal oleh masyarakat di pulau penghasil timah utama itu antara tahun 1980-an hingga 1990-an.

Kini para penjual martabak di kota Pangkalpinang menjual martabak seperti yang kita kenal sekarang, dengan toping bervariasi. Bagaimanapun, ada sedikit perbedaan yang bisa dirasakan, setipis apapun, antara martabak di sana dengan martabak yang sama di luar Pulau Bangka.*** Bagian I-Bersambung (Yun Damayanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.