Benar saja, Jakarta Great Sale tak siap sebagai event professional dan komersial.

“Saya baru bisa mempersiapkan JGS satu bulan terakhir,” Ketua Pelaksana JGS Benyamin Mailool mengakui (Kompas 21/6/2008). Panitia tak cukup punya waktu menghubungi semua hotel, maskapai penerbangan, restoran dan taksi sebagai pendukung JGS.

Muncul usulan perlunya dibentuk semacam Jakarta Tourism Board (JTB). Dimaksudkan, jika diadakan, JTB akan bekerja sebelum JGS digelar sampai acara dilaksanakan. Brand-brand internasional misalnya dapat dikontak enam bulan sebelumnya.

Editor: ini benar sekali. Dalam hal itu pula kebanyakan terjadi yaitu kekurangan kita menyiapkan event pariwisata, kerap kali tak disiapkan dengan d-day minus program yang cukup!!!
Demikian juga perihal konsepnya menarik wisatawan.
Menurut Panitia JGS, paket2 “One Day Shopping” dapat ditawarkan ke orang asing di Bali. Mereka berangkat pagi, berbelanja seharian di mal-mal Jakarta, makan di restoran dengan potongan harga khusus, dan kembali ke Bali malam harinya. BENARKAH INI SALEABLE? Diragukan wisman yang sudah berada di Bali, akan mau terbang khusus ke Jakarta hanya untuk shopping sehari. Kecuali ditawarkan acara khusus lain yang menarik untuk dialami. Kalau sekedar belanja, di pulau Bali tersedia shopping opportunity dengan harga barang yang juga bersaing.
Tapi, bila dibuatkan itinerary untuk shopping spree dan dijajakan langsung di negeri asal wisman, mereka boleh jadi akan datang. Untuk itu bisa dijadikan Jakarta sebagai single destination di Indonesia, atau singgah di JGS on the way to Bali dan lain tempat sebagai final destination. Untuk itu pula pihak Organizing Committee mestinya mempersiapkan bersama tour operator, airlines, dls, setidaknya enam sampai 12 bulan dimuka.