Tuti Sunario

Tuti Sunario

Tuti Sunario dengan alamat wuryastuti@gmail.com, pada Sabtu 17-1-2009 langsung memberikan komentarnya: “Saya dengar dari travel agents bahwa walaupun diberlakukan sertifikasi profesional di Indonesia, pihak pekerja tidak merasa perlu mengikuti kursus dan meraih ijazah. Karena,memerlukan biaya yang tidak sedikit! Sedangkan sertifikat tidak atau belum menjamin peningkatan jabatan maupun gaji.” Tapi baru saja minggu lalu diberitakan terdapat 1000an illegal tour guide kini bekerja di pulau Bali. Dapat diduga maksudnya tentulah pramuwisata yang tidak memiliki sertifikasi.

Menurut Tuti, di pihak pengusaha travel agent juga tidak mau mengeluarkan biaya untuk pekerja karena takut kalau sudah dibiayai dan mendapat sertifikat, si pekerja akan pindah ke travel agent lain atau bahkan bekerja di luar negeri. Akibatnya? Tidak ada yang mengikuti sertifikasi dimaksud. Karena itu pula maka Pemerintah Pusat atau Daerah perlu mengadakan terobosan dan memberi subsidi.

“Begini saja,” Tuti – mantan direktur Indonesia Tourist Promotion Office di Singapura, kini anggota Care Tourism, menulis komentarnya, “diperkirakan bahwa dengan diberlakukannya MRA – Mutual Recognition Agreement – maka justru Indonesia akan kebanjiran pekerja profesional ASEAN sedangkan pekerja Indonesia sendiri akan terpinggirkan karena dianggap kurang bermutu dengan tidak mengantongi sertifikat. Mohon perhatian yang berwenang dan yang berkepentingan.”

Situasi yang tampak akan dihadapi ini mengingatkan kita pada beberapa dilema. Tenaga kerja pramuwisata, misalnya. Di Indonesia umumnya,- mungkin juga dialami di beberapa negara tetangga,- hampir semua travel agent dan tour operator, didirikan oleh mantan pramuwisata yang sebelumnya bekerja di satu perusahaan. Biasanya, karier pramuwisata dimulai dari bawah alias sebagai pemula. Satu ketika pramuwisata ’matang’, bersamaan itu terjalin hubungan dekat dengan ’prinsipal’ alias produser turis dari luar negeri yang biasa dilayaninya. Cenderung terjadi, dia berhenti bekerja, langsung mendirikan usaha sendiri, lalu membawa ”old client’ menjadi customer-nya.

Demikian pula, bilamana grup turis dari Singapura atau Malaysia yang sudah ’mengenal’ Jakarta atau Bali, suatu ketika memandu sendiri grup yang dibawanya ke Jakarta atau Bali. Dengan bahasa Inggrisnya yang dari ’mother tounge’ dan perbandingan-perbandingan yang dimiliki di benak dan hatinya, dari pengalamannya sendiri ’berkeliling dunia’, maka para wisman merasa menikmati ’kualitas’ pemanduan yang lebih dibanding pemandu tur kita.

Pernah beberapa tahun silam di Bali, saya menganjurkan tour operator memberi dukungan dan kesempatan agar para pramuwisata kita, selain mengantongi pengalaman lapangan dan sertifikasi, juga melihat sendiri negeri-negeri asal wisman yang dilayani. Tampaknya, pengalaman seeing is believing, get the feeling, itulah yang dimiliki tour guide pesaing mereka dari negeri lain. Di Indonesia, para tour leader untuk outbound tour saja yang karena tugasnya, beruntung mendapatkan ’jam terbang’ seperti itu.

Sementara itu, baru saja minggu lalu Ketua Himpunan Pramuwisata di Bali, diberitakan mengeluh dan memperkirakan bahwa terdapat sekitar 1000 illegal tour guide kini bekerja di pulau dewata itu. Dapat diduga maksudnya tentulah pramuwisata yang tidak memiliki sertifikasi. Jumlah 1000 ? Wah, itu bukan jumlah kecil!

Bagaimana sesungguhnya membedakan yang certified dan yang non certified? Haruskah dengan peraturan yang membolehkan dan yang melarang? Dari uraian di atas, mungkin ribuan pekerja Indonesia akan menghadapi larangan!

Pekerja pariwisata bukan terfokus pada pramuwisata. Pekerjaan-pekerjaanakuntansi, tour planner, meeting planner, berbagai bidang dan tingkat pekerjaan di perhotelan, sampai level manager di bidang produksi, pemasaran dan penjualan, merupakan kancah di mana pekerja Indonesia akan harus bersaing di Indonesia sendiri dengan kemungkinan arus kedatangan pesaing dari warga dari negeri-negeri ASEAN.

Sesudah itu, isyu mengenai gaji tentu akan menjadi ’seksi’ dan menarik perhatian. Bagaimanapun, solusi-solusi perlu dipersiapkan.