Gunung Rinjani Telah Didaki Sejak Lebih dari 30 Tahun, Seperti Apakah Gerangan Sekarang?

Royal Sembahulun,pemilik Royal Trekking Rinjani,berbasis di Sembalun.(Foto:YD)

Royal Sembahulun, pemilik Royal Trekking Rinjani,berbasis di Sembalun.(Foto:YD)

Pendakian ke Gunung Rinjani telah dimulai sejak tahun 1980-an. Gunung ini mulai ramai didaki oleh turis asing sekitar tahun 2003. Waktu itu mereka didampingi oleh experts dari Selandia Baru. Status taman nasional bagi gunung berapi nomor 2 tertinggi di Indonesia baru disematkan pada tahun 2005.

Selama lebih dari 30 tahun kegiatan mountaineering berjalan di sini. Di Desa Sembalun saja, pintu masuk utama Taman Nasional Gunung Rinjani, sudah berdiri sekitar 24 unit usaha akomodasi dan 23 unit usaha trekking operator lokal. Begitu diungkapkan oleh Royal Sembahulun, pemilik Royal Trekking Rinjani, salah satu perintis operator trekking lokal di Sembalun.

Top 10 Kunjungan Mancanegara ke TN Gunung Rinjani.(Sumber:Balai TN Gunung Rinjani)

Top 10 Kunjungan Mancanegara ke TN Gunung Rinjani.(Sumber:Balai TN Gunung Rinjani)

Tak jauh berbeda curahan hati Royal dengan para operator aktivitas menikmati taman nasional di daerah-daerah lain. Yakni mengenai soal sampah dan tiket masuk.

Dia menerangkan, di pintu utama di Sembalun, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) memberlakukan aturan setiap kali registrasi sebelum masuk taman nasional, mesti dilaporkan kepada petugas berapa trash bag yang dibawa naik.

“Tapi peraturan ini hanya berlaku di Sembalun tidak di Senaru. Tidak pernah diperiksa berapa trash bag yang sebenarnya dibawa ke atas dan berapa yang dibawa turun kembali. Apakah sampah yang dibawa turun oleh para porter ditimbang oleh pengelola taman nasional? Tidak,” ujar Royal.

Dia dan operator trekking ke Gunung Rinjani yang berbasis di Sembalun sangat berharap BTNGR bisa tegas mengimplementasikan peraturan kepada operator-operator trekking terutama yang berbasis di luar kawasan Rinjani. Porter-porter hanya akan mengikuti yang diperintahkan oleh operator yang menyewanya.

“Kami, para operator trekking di Sembalun, sudah berinisiatif membuat kesepakatan. Kami di sini sepakat, yang tidak membawa sampah turun kembali bersedia didenda atau dikenai sanksi. Itu sudah diajukan ke BTNGR tetapi belum ada tanggapan,” tambahnya.

Mengenai persoalan sampah yang tengah dihadapi Gunung Rinjani, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) mengungkapkan telah melakukan berbagai upaya. Ada lima langkah yang telah dilaksanakan, yaitu:

  • Menambah tenaga pengawas (pegawai) pada pintu-pintu pendakian.
  • Pemasangan CCTV. Saat ini baru dipasang di 3 titik yakni di Pelawangan Senaru, Pelawangan Sembalum, dan Danau Segara Anak.
  • Pembuatan trash bag. Setiap pendaki wajib membawa sampah turun kembali dengan menyerahkan trash bag kepada petugas pada saat keluar dari kawasan.
  • Melakukan Clean-Up setiap 3 hari sekali dengan melibatkan kelompok masyarakat, kelompok porter, dan pecinta alam dengan pendanaan dari BTNGR.
  • Mengadakan pelatihan pemanduan dan porter. Pada tahun 2017 telah dilatih sebanyak 100 orang.

Sedangkan perihal biaya masuk ke taman nasional ( diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.12 tahun 2014 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku Pada Kementerian Kehutanan), operator-operator trekking di Rinjani, begitupun dengan banyak operator yang beroperasi di dalam taman-taman nasional lainnya, belum bersedia melaksanakan peraturan itu sepenuhnya sampai sekarang.

Pengumuman di depan kantor BTNGR temat registrasi di Sembalun.(Foto:YD)

Pengumuman di depan kantor BTNGR tempat registrasi di Sembalun.(Foto:YD)

Biaya masuk ke Taman Nasional Gunung Rinjani sebesar Rp 150.000,00 – Rp 225.000,00 per orang bagi pengunjung asing dan Rp 5.000,00 per orang bagi pengunjung domestik dibayarkan sekali. Menurut ketentuan dalam peraturan tersebut, biaya masuk ke taman nasional dikenakan per orang per hari.

Menurut mereka, sampai dengan saat ini, fasilitas di taman nasional bisa dikatakan tidak sesuai harapan pengunjung, terutama bagi trekker mancanegara. Selain masalah sampah, fasilitas dasar umum seperti toilet ramah lingkungan yang sesuai dengan taman nasional tidak tersedia, juga mengenai pengawasan masuk-keluar pengunjung yang masih lemah. Sampai saat ini, tiket masuk ke Taman Nasional Gunung Rinjani masih berupa kertas. Dan banyak pintu-pintu lain di luar pintu-pintu resmi.

Daniel, seorang pemandu asal Sembalun menceritakan, Gunung Rinjani sudah menjadi community life. Ada yang menjadikannya sebagai pekerjaan sampingan dengan menjadi porter. Ada pula yang menjadikannya sandaran hidup utama.

“Kalau Gunung Rinjani tidak didatangi pengunjung lagi, perekonomian di sekitarnya akan mati,” ujarnya sambil terus melangkah pasti meniti bukit demi bukit.***(Yun Damayanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.