Wakil-wakil Pemkot, Kadin, Asita, HPI lengkap memberikan penjelasan. (Foto: YD)

Kiri-kanan:Ketua PTM 2016 Wendo Irwanto,Kadisbudparpora Kota Pangkalpinang Akhmad Elvian,Ketua Kadin Babel Thomas Jusman,Ketua Asita Babel Sansan Arya Lukman,dan Lina wakil dari HPI Babel lengkap memberikan penjelasan kepada pers di Pangkalpinang,Sabtu (9/4) setelah program B-to-B selesai. (Foto: YD)

Wisata sejarah di Pulau Bangka dan Belitung terkait kedatangan, kehidupan dan asimilasi budaya orang-orang Tiongkok sebagai buruh tambang timah di Bangka Belitung (Babel) diyakini dapat memikat wisman dari Cina. Di pulau ini juga ada kelenteng atau kuil-kuil tua bersejarah sampai yang bagus dan modern. Satu grup wisman dari daratan Cina telah sampai mengunjungi Pulau Belitung beberapa waktu lalu.

Beberapa kegiatan sederhana bisa dilakukan untuk menyenangkan wisatawan. Bali, Jogja, dan Bandung sudah melakukan dan kini mereka mengambil manfaatnya.

Bagi masyarakat Babel, makan bareng-bareng dari nampan yang sama dan mengudap singkong bersama dengan sepotong ikan asin dan sambel merupakan aktivitas biasa. Namun bagi wisatawan dari luar provinsi melihatnya unik dan menarik. Dengan mengenali siapa konsumen yang akan tertarik dan suka maka diciptakan paket-paket wisata memanfaatkan obyek-obyek maupun kegiatan-kegiatan yang sudah tersedia seperti itu.

Persatuan Oto Warga Negara Indonesia Sungailiat (Pownis),alat transportasi Pangkalpinang-Sungailiat pada era 1980-1990an.Bis out-of-date ini masih beroperasi cukup baik dan cukup menyita perhatian peserta pre-tour PTM 2016.Dengan ini kami keliling kota sambil diceritakan mengenai Pangkalpinang.(Foto:YD)

Persatuan Oto Warga Negara Indonesia Sungailiat (Pownis),alat transportasi Pangkalpinang-Sungailiat pada era 1980-1990an.Bis out-of-date ini masih beroperasi cukup baik dan cukup menyita perhatian peserta pre-tour PTM 2016.Dengan ini kami keliling kota sambil diceritakan mengenai Pangkalpinang.(Foto:YD)

“Sistem pemasaran ada dua. Berdasarkan permintaan atau berdasarkan yang ditawarkan. Karena Bangka adalah daerah baru tujuan wisata, kita yang tawarkan kepada konsumen. Sebelumnya, harus dilihat dulu segmentasi pasar produk kita. Itu yang akan berkelanjutan (sustainable),” ujar Sansan Arya Lukman, Ketua Asita Babel.

Sekarang Pemkot Pangkalpinang fokus menjadikan kota investasi dan berwawasan lingkungan. Salah satu investasi yang sedang didorong untuk berkembang adalah sektor kepariwisataan. Karena tren menunjukkan, kegiatan perekonomian Pangkalpinang sudah bergeser ke perekonomian tersier bukan lagi perekonomian primer dan sekunder.

Agar dapat mengakselerasi pertumbuhan pariwisata, Babel memerlukan konsensus dari unsur pemerintah, masyarakat dan swasta. Dengan perhitungan bisnis yang jelas, ketiga unsur tersebut sepakat ekonomi pariwisata merupakan solusi bagi masyarakat menggantikan ekonomi pertambangan yang akan benar-benar usai. Apabila konsensus tercapai, memobilisasi aktivitas-aktivitas yang dapat mempercepat pengembangan kepariwisataan Babel akan lebih mudah dilakukan. Pemangku kepentingan pariwisata di provinsi dan kabupaten/kota dapat belajar (benchmarking) dari Phuket, Thailand yang dahulu merupakan kawasan tambang.

Business center di Menumbing Heritage Hotel.Berada di tengah kawasan niaga,hotel pertama di Pangkalpinang dengan fasilitas kolam renang menempati gedung tua yang terawat sangat baik.Interior dan bangunan baru menyesuaikan bangunan lama.(Foto:YD)

Business center di Menumbing Heritage Hotel.Berada di tengah kawasan niaga,hotel pertama di Pangkalpinang dengan fasilitas kolam renang menempati gedung tua yang terawat sangat baik.Interior dan bangunan baru menyesuaikan bangunan lama.(Foto:YD)

Babel juga mesti berani membuat target berapa jumlah wisman yang diinginkan. Melihat posisi strategis dan potensi amat besar, target 5% dari 20 juta wisman ke Indonesia pada 2019 bukan tak mungkin tercapai. Jika seorang wisman membelanjakan 1000 dollar AS di Babel, satu juta wisman akan memberi pendapatan kepada daerah sekitar Rp 10 triliun. Dan itu bisa menggantikan posisi timah sebagai kontributor utama PAD, apalagi mengingat harga komoditas timah semakin terpuruk.

“Kadin Babel sudah memprediksi hal ini pasti akan terjadi. Saya melihat, pariwisata di Babel sulit berkembang karena belum ada konsensus dan kesamaan memandang pariwisata bisa menjadi solusi. Selain itu, pariwisata di sini juga amat memerlukan kepedulian dan sinergi baik dari pemerintah maupun pelaku industri pariwisatanya,” ujar Ketua Kadin Babel Thomas Jusman.

Dia menambahkan, Kadin  akan mendorong dan mendukung kegiatan-kegiatan seperti pasar pariwisata Pasar-pasar pariwisata yang tidak hanya menjual daerah tertentu tetapi menjual Bangka dan Belitung. Kadin juga akan terus mendorong gubernur selaku kepala daerah wilayah administrasi Pulau Bangka dan Pulau Belitung agar mengembangkan dan membangun pariwisata di keduanya. Babel bisa mengambil banyak hal positif dari Bali tetapi tidak perlu menjadi seperti Bali.

Kota Pangkalpinang dan Pulau Bangka dilihat dari udara.(Foto:YD)

Kota Pangkalpinang dan Pulau Bangka dilihat dari udara.(Foto:YD)

Citra Babel sebagai kawasan tambang timah juga kurang baik sehingga belum bisa menarik lebih banyak kunjungan wisatawan dan pelaku usaha pariwisata dan perjalanan dari luar provinsi. Membuat citra baru bagi Bangka Belitung yang mereposisi dirinya dari kawasan pertambangan ke tujuan wisata memang bukan hal mudah tapi dibutuhkan. Agar lebih spesifik dan mudah diingat wisatawan dan pelaku industri, Bangka dan Belitung punya branding berbeda namun saling melengkapi dalam pelaksanaannya.

Salah satu langkah membangun sinergi serta mempromosikan branding dan menjual destinasi melalui penyelenggaraan travel mart atau pasar pariwisata yang mempertemukan antara penjual dan pembeli secara langsung. Keberadaan pasar pariwisata akan mendorong penciptaan paket-paket wisata baru, mengenali apa yang disukai dan diinginkan konsumen (wisatawan), mendorong timbulnya obyek-obyek wisata baru, dan menumbuhkan ekonomi kreatif.

Kota Pangkalpinang salah satu destinasi dalam rencana pengembangan pariwisatanya. Di dalamnya dicantumkan, pengembangan pariwisata di Pangkalpinang termasuk Sungailiat, Bangka Tengah, dan Belinyu dan sekitarnya. Sebagai ibu kota provinsi dia menjadi  pusat pelayanan primer pariwisata di Pulau Bangka.

Maka Pangkalpinang Travel Mart (PTM) tidak hanya fokus menjual destinasi Kota Pangkalpinang tetapi selalu mengajak para pelaku industri pariwisata di kabupaten/kota lain di Pulau Bangka. Jadi tergantung dari para pelakunya apakah mau atau tidak menerima atau menangkap peluang yang diberikan.

Anggaran sektor pariwisata di Kota Pangkalpinang hanya Rp 800 juta per tahun. Dengan keterbatasan namun mengemban tujuan besar, Pemkot Pangkalpinang berkolaborasi dengan para pelaku industri pariwisata, sebagian besar berbasis di Pangkalpinang, mengusahakan penyelenggaraan PTM sekali dalam setahun.

Sebagian besar panitia penyelenggara pasar pariwisata pertama di Bangka ini Generasi X dan Y. Energi besar mereka menjadikan PTM pasar pariwisata paling kreatif yang pernah saya hadiri tahun lalu. PTM 2016 merupakan pasar pariwisata lokal pertama yang saya hadiri tahun ini. Penyelenggara tetap mempertahankan ide-ide sederhana yang out of the box. Tema wisata sejarah relatif belum banyak peminat di kalangan wisnus. Tetapi penyelenggara PTM membuatnya dapat dinikmati oleh delegasi buyers dan media dari luar Babel.

Tentu saja realitanya ada pada data statistik jumlah kunjungan dan penyerapan tenaga kerja lokal, peningkatan pendapatan dan distribusinya dirasakan masyarakat langsung, serta apakah PTM ketiga dapat diselenggarakan dan berapa jumlah buyers yang akan datang tahun depan.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Pangkalpinang dari sektor pariwisata berkisar 18% pada tahun 2015. Pariwisata di ibu kota Provinsi Bangka Belitung tumbuh sebesar 8,16% pada 2015 dan target pertumbuhannya diharapkan lebih dari 10% pada 2016. *** (Yun Damayanti)