Garuda pun telah membiasakan penjualan tiket pada keikutsertaannya di pameran-pameran wisata di dalam negeri, selain melaksanakan pameran wisata sendiri.(Foto; AH)

Garuda pun telah membiasakan penjualan tiket pada keikutsertaannya di pameran-pameran wisata di dalam negeri, selain melaksanakan pameran wisata sendiri.(Foto; AH)

Garuda Indonesia dan kalangan perhotelan bikin kejutan. Ini rasanya pertama kali maskapai penerbangan besar ini mengadakan kerjasama dengan asosiasi perhotelan PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia), meluncurkan “Great 17 Sale”.

Itu merupakan program kerja sama antara PHRI dan Garuda Indonesia yang akan menjual harga khusus berlaku mulai tanggal 17 Juni hingga 17 Agustus 2015. Maksud tujuannya tentu hendak menaikkan tingkat kunjungan dan hunian hotel di 17 kota terpilih di Indonesia dengan memberikan harga khusus (lowest fare) untuk penerbangan ke 17 kota, dan dinyatakan termasuk dalam keseluruhan skema ini total supply 17.000 kamar hotel. Hmmm, serba angka 17. Hendak dikenalkan paket-paket wisata kombinasi penerbangan dan akomodasi, yang dinyatakan “menarik”, berkunjung ke kota-kota tersebut.

Untuk melaksanakannya, kedua pihak akan menandatangani nota kesepahaman pada Senin, 18 Mei 2015 di gedung Kementerian Pariwisata, Jakarta. Selengkapnya mengenai apa yang tertulis dalam nota Kesepahaman itu, menurut Tim Komunikasi PHRI, akan dijelaskan pada saat penandatanganan.

Jadi, setidaknya dua tiga terobosan tampak dan mengesankan apa yang ingin dilakukan oleh kerjasama pihak penerbangan dan pihak usaha akomodasi. Pertama, mengantisipasi bulan Juni-Juli yang memasuki periode Ramadhan, di mana traveling masyarakat dalam negeri, bahkan masyarakat Muslim di jiran Malaysia dan Singapura, biasanya cenderung menurun. Paket dan harga yang “discounted” diharapkan akan menggairahkan sisi demand, menarik masyarakat untuk tetap mau melakukan perjalanan wisata. Kedua, ada edukasi mengingatkan suasana bathin merayakan HUT Kemerdekaan RI, hari-hari 17 Agustusan. Ketiga, industri penerbangan sendiri tengah menghadapi masalah-masalah industrial antara lain meningkatnya biaya-biaya operasional lantaran harga avtur yang naik, kurs dollar terhadap rupiah yang bertahan tinggi, namun demand masyarakat tetap hendak dibangkitkan. .

Memang, menurut BPS, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 27 provinsi pada Maret 2015 rata-rata hanya 49,13%, turun 2,16 poin dibandingkan dengan TPK Maret 2014 yang tercatat sebesar 51,29 persen.

Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 27 provinsi selama Maret 2015 tercatat sebesar 1,96 hari, tidak terjadi perubahan jika dibandingkan keadaan Maret 2014.

Bagusnya, ada juga daerah destinasi yang mengkampanyekan produk wisata Ramadhan 2015 seperti Aceh yang beberapa hari lalu mengumumkan melancarkan paket “Amazing Ramadhan in Aceh”. Kalaulah itu dikampanyekan juga penjualannya oleh agen-agen penjual di Malaysia, ada harapan wisman dari jiran itu akan tertarik.

Seberapa “merangsang”kah harga khusus yang hendak diluncurkan oleh Garuda dan PHRI, kita tunggu minggu depan pengumumannya.***