Kampanye  #BoycottBali oleh media sosial tertentu di Australia menjelang dan setelah eksekusi Bali Nine duo, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran membawa sedikit efek saja pada jumlah wisatawan Australia yang berwisata ke pulau Bali. Satu penelitian baru mengungkapkannya, hari ini disiarkan oleh Travel Weekly Australia on line .

Dalam laporan yang dirilis oleh news.com.au, jumlah warga Aussies yang memesan liburan ke Bali meningkat 16% year-on-year menurut pelacakan informasi oleh Skyscanner. Peningkatan itu meningkatkan tambahan 48.000 warga Australia yang berlibur ke Bali antara bulan Juni dan Agustus musim dingin ini.

Laporan itu menyatakan warga Melbourne memimpin jumlah dengan peningkatan pesanan 26%, diikuti oleh peningkatan 17% lebih dari penduduk Sydney.

“Pulau ini tetap pilihan yang paling populer untuk Darwinian, dan itu adalah tujuan paling disukai yang kedua untuk Adelaideans, dan pilihan ketiga bagi warga Brisbane dan Perth setelah London dan Los Angeles,” News.com.au melaporkan.

#BoycottBali memang mulai tren di Twitter pada pertengahan Februari, setelah itu ke Facebook dengan halaman khusus bagi pengikut yang menghindari bepergian ke Bali.

Dalam minggu-minggu menjelang eksekusi, Menteri Luar Negeri Julie Bishop mengatakan bahwa warga Australia “mungkin mempertimbangkan kembali rencana liburan mereka (ke Bali)”.

Lebih dari 300.000 warga Australia ke Bali antara Juni dan Agustus 2014, menurut data ABS. Lalu memang ada yang memperrtanyakan, apakah musim dingin Juni-Agustus 2015 ini, akan berkurang jumlah mereka ke Bali?

Sementara itu BPS mencatat, jumlah kunjungan wisman melalui Bandara Ngurah Rai, Bali pada April 2015 naik 11,50 persen dibandingkan April 2014, yaitu dari 277,9 ribu kunjungan menjadi 309,9 ribu kunjungan. Begitu pula, jika dibanding Maret 2015, jumlah kunjungan wisman melalui Bandara Ngurah Rai, Bali naik sebesar 5,13 persen.

Dari Kemenpar didapat gambaran perkembangan kunjungan wisman Australia ke Indonesia seperti ini: TTI berita analisis wisman australia ke bali 09062015

Yang tampak penting kini, semua program pemasaran dan penjualan paket wisata di Australia, tetap ditingkatkan. Kalau masih dipertanyakan, apakah bulan Juni-Agustus, libur musim dingin di Australia, warganya akan menghindari Bali?

Dari gejala yang tampak hingga kini, terhadap warganya, kampanye BoycottBali yang pernah muncul di Australia itu tidak “ngeffek”. Di lain ada yang mengindikasikan masih kuat efek mereka telah terlibat “love affair” dengan destinasi Bali.***