Gagasan-gagasan besar kini tengah digodok untuk memajukan pariwisata di Papua, lebih khusus lagi di kawasan puncak gunung Cartensz. Inisiatif sedang diambil oleh masyarakat, dan Pemda tampak akan mendukung. Dari  pendiri Yayasan Somatua, Maximus Tipagau, menemui Sapta Nirwandar di Jakarta pada Senin 2/2/2015. Dari pertemuan itu, antara lain Maximus percaya masyarakat di Papua akan bisa menyelenggarakan event berskala dunia dengan mempromosikan alam dan budaya masyarakat Papua pegunungan, salju sepanjang tahun di puncak Gunung Cartensz. Maximus sendiri telah beberapa tahun ini mempraktekkan operator tur menangani kunjungan dan pendakian wisman dari Eropa dan Amerika.
Sapta Nirwandar, mantan Wakil Menteri Pariwisata, menyarankan, antara lain, mengundang para pendaki gunung yang terkenal di dunia, melakukan pendakian, tentu bersama para wisman dalam suatu event. Indah dan cantiknya pemandangan alam, tantangan alam berkarakter khas yang niscaya akan dinikmati para pendaki, masyarakat desa dan pegunungan dengan budaya dan keramahtamahan mereka, berbagai unsur itu akan menjadi suatu rangkaian pemberitaan dan penulisan bagi media-media internasional yang juga akan diikutsertakan.
Maximus amat menyambut gagasan tersebut dan akan meneruskannya pada masyarakat dan pemda.
Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan seperti itu, menurut Sapta Nirwandar, dengan mengajak para stakeholders, akan memberikan banyak aspek peningkatan kehidupan masyarakat. Tentu akan meningkat sarana dan prasarana setempat, meningkat pengertian dan pengenalan dunia pariwisata sehingga menambah jumlah kunjungan wisman, peningkatan kualitas hidup masyarakat setempat, peningkatan sarana prasarana keamanan dan keselamatan hingga kebersihan lingkungan, dan seterusnya.
Leverage pariwisata Papua khususnya di destinasi sekeliling perjalanan menuju Carstensz Pyramid (4.884 mdpl) akan meningkat,” ujar Sapta. Dia mengakui destinasi seperti alam the seven summit itu bukan bertujuan untuk pariwisata massal dalam arti akan berduyun-duyun sejuta wisman datang ke sana, karena alam punya daya dukung tertentu, dalam setahun juga tak sepanjang tahun bisa dikunjungi, namun kehebatan termasuk beberapa “keajaiban” alam yang menakjubkan dan budaya setempat, akan menjadi kesan dan kenangan yang akan menyebarkan citra wonderful Indonesia. Event dan kunjungan para pendaki professional kelas dunia, akan mencitrakan leverage yang tinggi tentang berwisata ke Indonesia umumnya, dan ke Papua khususnya.
Lagi pula, berwisata alam mendaki gunung seperti puncak Cartensz, harganya relatif mahal, tetapi justru dengan sekian ribu orang saja setahun yang berwisata ke destinasi itu, setidaknya dua implikasi dan hasil yang dibawa: penghasilan masyarakat setempat meningkat, dan, citra keindahan alam budaya, keamanan hingga keselamatan menjadi meluas, ke luar negeri dan ke dalam negeri sendiri.

Yang sudah berjalan
Paket wisata kunjungan ke puncak gunung bersalju Papua, umumnya berdurasi 11 malam 12 hari mendaki, menikmati alam dan budaya masyarakat pegunungan sepanjang perjalanan, alam yang menakjubkan tentu saja salju sepanjang tahun di puncak Gunung Cartensz, lalu perjalanan pulang menuruni pegunungan. Itu diselenggarakan oleh salah satu operator, Cartensz Adventure.
Per tahun tamunya antara 10 sampai 15 grup dan satu grup terdiri dari 10-15 orang. Wisatawan mancanegara itu terutama dari Eropa seperti Austria, Jerman dan Amerika Serikat.
Desa Ugimba di Kabupaten Intan Jaya, Papua telah dinyatakan sebagai kampung wisata. Desa yang berada di kaki Gunung Cartensz ini memang menjadi pintu paling ideal untuk menjelajah dan menaklukkan Puncak Cartensz, salah satu dari tujuh puncak dunia (seven summits).
Yayasan Somatua yang disebutkan tadi adalah organisasi non-pemerintah yang didirikan oleh suku Moni yang tinggal di puncak Cartensz dan di Desa Ugimba. Somatua merupakan salah satu nama dari puncak yang ada di pegunungan Jayawijaya yang selalu diselimuti salju sehingga selalu tampak terang benderang.
Puncak Jaya merupakan salah satu puncak yang menuntut teknik pendakian lebih rumit menurut salah satu versi dari daftar Seven Summits peak-bagging. Di dalam daftar itu dinyatakan bahwa tuntutan fisiknya memang tidak besar tetapi menuntut kemahiran keterampilan pendakian. Standar rutenya adalah ke arah utara dan mendaki di sepanjang punggung gunung dengan permukaan batu cadas.
Menurut Maximus, Puncak Jaya sempat ditutup untuk wisatawan dan pendaki antara 1995 dan 2005. Sejak 2006, akses menuju puncak dibuka kembali dan tur dimungkinkan melalui berbagai program yang ditawarkan dan dijual oleh usaha wisata petualangan.***