Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda Provinsi DKI Jakarta Ratiyono, Deputi Gubernur DKI Jakarta bidang Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta Sylvia Murni, Direktur Promosi MICE dan Minat Khusus Kemenparekraf Rizky Handayani Mustafa (kiri-kanan) menjelaskan pada pers di Jakarta (22/10/2014). (Foto: YD)

Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda Provinsi DKI Jakarta Ratiyono, Deputi Gubernur DKI Jakarta bidang Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta Sylvia Murni, Direktur Promosi MICE dan Minat Khusus Kemenparekraf Rizky Handayani Mustafa (kiri-kanan) menjelaskan pada pers di Jakarta (22/10/2014). (Foto: YD)

Sebaiknya jangan dilewatkan. Festival city marathon, itulah branding Jakarta Marathon tanggal 26-10-2014 ini. Itu untuk menunjukkan Ibukota Jakarta sebagai melting point, tempat bertemunya warga Nusantara dan masyarakat internasional. Festival itu ditampilkan dengan pertunjukan seni budaya dan festival penuh warna dan kaya bunyi-bunyian. Layaknya even lari marathon di beberapa kota besar dunia, Jakarta Marathon pun akan membesar sehingga setiap kali akan diikuti puluhan ribu peserta pelari, puluhan sampai ratusan ribu penggembira dan penonton.

Di Jakarta Marathon 2014 ini, festival seni budaya Nusantara dan kontemporer akan ditampilkan di 20 titik di sepanjang lintasan lari. Bertambah dari 17 titik/panggung pada tahun sebelumnya. Kali ini akan ada dua penampil di atas satu panggung untuk memberikan semangat terus-menerus kepada setiap pelari selama tujuh jam race.

Berikut ini adalah penampilan seni dan budaya yang bisa dinikmati oleh masyarakat sambil menonton para pelari. Ada pertunjukan liong dan barongsai di depan Stasiun Kota di kawasan kota tua. Gendang belek dan semprong dari NTB di depan Pasar Baru, rampak gendang dan calung dari Jawa Barat di depan Sekretariat Negara di Jl. Veteran, pertunjukan musik tradisional dari Betawi gambang kromong dan tanjidor di Sarinah Thamrin. Kekayaan bunyi bambu-bambu Nusantara dapat didengar dari pertunjukan permainan calung banyumasan dan kuntulan dari daerah Jawa Tengah di Jalan Kusuma Atmaja di sekitar kawasan Menteng dan penampilan panting dan kollatung dari daerah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat di depan kantor Bulog di Jalan Gatot Subroto. Pertunjukan tetabuhan tradisional dan musik modern yang akan memompa semangat peserta dan memandu para penonton bergoyang di sepanjang jalur mulai dari Jalan Rasuna Said, Gatot Subroto, Sisingamangaraja, Sudirman hingga ke Bundaran HI. Mulai dari penampilan gondang batak dan gondang sembilan dari Sumatera Utara di Pasar Festival, atraksi permainan musik elektrik dari DJ di Tugu Pancoran, pertunjukan brasss band di depan Gedung PMI, dogdog lojor dan rampak bedug dari Banten di depan Gedung Jamsostek, tabuik dan talempong dari Sumatera Barat di depan Gedung Bank Mandiri di kawasan Semanggi, hadroh dan sambrah yang bernuansa religius (simbol umat Islam di Indonesia) di plaza barat Senayan, dol dan tasa dari Bengkulu di Senayan, drumband di depan sekolah Al Azhar, tifa dan yospan dari Papua di depan Mal FX, balegajur dan gamelan dari Bali di Benhil, kolintang dan idiokordo dari Sulawesi Utara di dekat city walk di kawasan perkantoran di Jalan Sudirman, jazz fusion di depan Gedung UOB, dan drum percussion di Bundaran HI.***