Even lomba olahraga telah beranak pinak untuk pariwisata. Tapi tiap daerah penyelenggara mestilah memperhatikan kualitas “pengelolaan event” untuk bisa menarik wisman dan wisnus. Setidaknya dua dasar kualitas untuk dinilai, yakni pelaksanaan tekhnis perlombaan/pertandingan, dan, tekhnis pengelolaan kelancaran arus aliran masyarakat penonton yang efisien, rapi, nyaman.

Tujuh hari sebelum Mandiri Jakarta Marathon 2014 diselenggarakan di Ibukota Jakarta, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sukses menyelenggarakan Banyuwangi Tour de Ijen 2014. Mulai tahun ini, Pemkab Banyuwangi memang sengaja menempatkan nama kota di ujung timur Pulau Jawa di depan title balap sepeda internasional Tour de Ijen.

Banyuwangi Tour de Ijen 2014 telah dilangsungkan selama empat hari pada 16-19 Oktober 2014. Balapan tahun ini menempuh jarak 636 kilometer, lebih panjang daripada tahun lalu yang hanya menempuh 606,5 kilometer.

Banyuwangi Tour de Ijen 2014 sudah tercatat di Persatuan Balap Sepeda Internasional (UCI) dalam kalender Asia Tour kelas 2.2.

Medan tanjakan ekstrem trade mark Banyuwangi Tour de Ijen.(foto: portalkbr.com)

Medan tanjakan ekstrem trade mark Banyuwangi Tour de Ijen.(foto: portalkbr.com)

Ada 12 tim sepeda mancanegara dan lima tim lokal mengikuti balapan sepeda yang memasuki edisi ketiga tahun ini. Tim sepeda mancanegara diantaranya CCN Cycling Team dari Brunei Darusalam, Trengganu Cycling Team dari Malaysia, Aisan Racing Team dari Jepang, Singha Team Thailand, dan Tabriz Petro Chemical Team dari Iran. Tim lokal yang ikut bertanding antara lain United Bike Kencana Malang, Polygon Swet Nice (PSN) Surabaya dan Tim Nasional Indonesia, termasuk tim tuan rumah BRCC Banyuwangi team. Pemenang balapan tahun ini direbut oleh Peter Pouly dari Perancis dengan catatan waktu 16 jam 44 menit dan 43 detik.

Banyuwangi Tour de Ijen 2014 memberikan tantangan lebih berat dibanding pada tahun lalu. Pebalap ditantang menaklukan empat etape di trek mendatar dan tanjakan yang silih berganti. Etape pertama berjarak 185 kilometer dimulai dari Pendopo Banyuwangi menuju Pulau Merah. Etape ini tidak terlalu banyak menyajikan tanjakan namun suhu udara yang cukup panas menjadi tantangannya. Etape kedua sepanjang 110 kilometer dari Jajag menuju Genteng. Etape ketiga dari Muncar menuju Gunung Ijen berjarak 216 kilometer menjadi puncak rute balapan dengan menyajikan tanjakan-tanjakan eskstrem . Dan etape terakhir dari Kalibaru menuju kantor Pemkab Banyuwangi sepanjang  125 kilometer.

Tanjakan menuju Gunung Ijen pada etape ketiga merupakan salah satu tanjakan balap sepeda paling ekstrem di Asia. Pemilihan tanjakan tersebut karena peserta memang mencari rute yang paling menantang.

Selalu pebalap asing

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah menggelar Tour de Ijen sejak 2012. Selama tiga edisi penyelenggaraan balapan internasional grade 2.2 dalam kalender UCI (Persatuan Balap Sepeda Internasional) tersebut, gelar juara individu selalu direbut oleh pebalap asing. Pada edisi pertama 2012, gelar juara direbut Cho Ki Ho dari tim Hong Kong China. Mirsamad Pourseyedigolakhour dari tim Tabriz Petrochemical menjadi yang terbaik pada balapan 2013.

Begitupun untuk kategori tim. Tim Tabriz Petrochemical dari Iran sukses mempertahankan gelar juara yang direbut tahun lalu. Tim tersebut mencatat total waktu terbaik 50 jam 22 menit 15 detik, mengungguli dua tim asal Iran lainnya, yakni Pishgaman Yazd yang tertinggal 1 menit 55 detik dan Tabriz Shah Ranking yang terpaut 7 menit 35 detik.

Selain menjuarai balapan, Peter Pouly juga merebut kaus polkadot sebagai raja tanjakan di Banyuwangi Tour de Ijen 2014, menyusul kemenangannya di etape ketiga dengan rute tanjakan “hors categorie”, Sabtu (18/10). Pebalap Indonesia Rastra Patria Dinawan dari tim Pegasus Continental berhasil merebut kaus hijau sebagai raja sprint pada balapan ini.

Tour de Ijen di Banyuwangi selalu menyisakan cerita menarik bagi pebalap yang mengikutinya. Perhelatan tahun ini mendapat saingan berat dari tur balap sepeda serupa di Tiongkok dan Jepang. Sempat ada kekhawatiran dari tim-tim dan pebalap-pebalap sepeda lain, tim-tim dan pebalap-pebalap sepeda dari Iran akan mendominasi sehingga balapan akan jadi kurang menarik. Kekhawatiran tersebut timbul sebab banyak tim dan pebalap dari negara lain yang berencana mengikuti tur balap sepeda di Jawa Timur itu beralih ke tur balapan lain yang jadwalnya hampir berdekatan dan trek menanjak adalah spesialisasi dari tim dan pebalap sepeda dari Iran.

Wisatawan asing mendominasi kunjungan ke kawah Ijen. Posisi geografis obyek wisata alam andalan Banyuwangi ini bersebelahan dengan Bali. Maka penempatan Banyuwangi di depan title tur balap sepeda untuk mengingatkan di mana kawah Ijen itu berada. Selain itu juga untuk menggambarkan tantangan rute yang dilewati akan sama menariknya dengan rute menuju obyek wisata kawah Ijen. *** (Yun Damayanti)