Donald Trump (kiri) dan Recep Tayyip Erdoğan (kanan). (Foto dari Twitter)

Donald Trump (kiri) dan Recep Tayyip Erdoğan (kanan). (Foto dari Twitter)

1). Efek klaim Presiden AS Trump yang mengakui sepihak Jerussalem sebagai ibukota Israel, tampaknya akan lebih berat lagi terhadap pariwisatanya. Mengapa? Ternyata, menurut satu tulisan artikel yang analitis, retorika Presiden Trump terhadap orang-orang Meksiko, Muslim dan kelompok etnis lainnya sebelumnya (tak lama setelah pelantikannya),  para kritikus rupanya sudah memperingatkan bahwa hal itu akan membahayakan industri pariwisata Amerika. Kini, data resmi telah tersedia dan menunjukkan dampak pernyataan Presiden Trump terhadap angka pariwisata.

Tulisan itu mengutip Departemen Perdagangan A.S., jumlah pengunjung internasional yang datang ke Amerika Serikat selama enam bulan pertama tahun ini mengalami penurunan hampir 4 persen, dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara komparatif, pariwisata internasional di seluruh dunia meningkat sebesar 4 persen selama periode yang sama, menurut World Travel & Tourism Council (WTTC) yang berbasis di London.

Laporan analitis dimaksud yang ditulis di tourism-review.com, menyebutkan bagaimana pariwisata merupakan industri ekspor terbesar kedua di AS dan mendukung 15 juta pekerjaan, menurut Asosiasi Perjalanan A.S. Diperhitungkan pula, untuk setiap penurunan pendapatan pariwisata sebesar 4 persen, sekitar 344.000 pekerjaan hilang di negara ini, menurut WTTC.

Kedatangan internasional ke Amerika Serikat selama paruh pertama tahun ini turun 30 persen dari negara-negara Timur Tengah, turun 16 persen dari Meksiko, turun 14 persen dari Amerika Tengah dan Selatan, dan hampir 2 persen dari Eropa.

Menurut Gloria Guevara, Presiden & CEO WTTC, penurunan jumlah turis internasional di AS dapat dijelaskan dengan penyebabnya oleh kombinasi beberapa faktor, termasuk “perasaan tidak disambut baik”, larangan perjalanan Presiden Trump untuk warga beberapa negara di Timur Tengah, dan dolar AS yang relatif kuat.

Pariwisata Meksiko ke Kanada telah meningkat sebesar 53 persen tahun ini. Ini karena, antara lain, pemerintah Kanada mencabut persyaratan visa untuk turis Meksiko, awal tahun ini.

Artikel itu menyatakan Trump berjanji untuk membangun tembok di perbatasan, dan menyinggung hampir semua orang Meksiko dengan mengatakan bahwa mayoritas hampir 6 juta orang Meksiko yang tidak berdokumen adalah ‘penjahat’ dan ‘pemerkosa’. Lalu, Kanada telah mengirim pesan kuat bahwa orang-orang Meksiko akan disambut baik di Kanada.

Lalu ada retorika negatif Trump yang terus-menerus terhadap kaum Muslim yang mengakibatkan banyak turis dari negara-negara Arab pergi ke Eropa. Pariwisata ke Spanyol dan Portugal mencapai catatan bersejarah, menurut angka WTTC.

Jumlah siswa internasional di universitas AS – sekitar 1,1 juta – akan turun 7 persen pada tahun 2018, menurut perkiraan awal dari Institute of International Education (IIE). Ini antara lain karena “lingkungan sosial dan politik saat ini di AS membuat orang merasa tidak diinginkan,” demikian laporan IIE.

Sebuah survei oleh Pew Research Center menemukan bahwa hanya 49 persen responden di 37 negara memiliki pandangan positif terhadap Amerika Serikat, dibandingkan dengan 64 persen pada akhir pemerintahan Obama.(dari: tourism-review.com, Chris Grad , 11/12/2017)

Jadi, kalau perhitungan tersebut di atas belum mencakup “efek” dari klaim Trump mengenai Jerussalem sebagai ibukota Israel, bisakah kita menduga bahwa, sekarang, efek negatifnya terhadap pariwisata Amerika Serikat dalam waktu-waktu dekat ini cenderung akan jauh lebih “buruk” lagi?

2). Lain lagi satu atikel analitis juga tentang pariwisata AS dan pariwisata Turki. Dimulai dengan agak berseloroh, ditulisnya: Donald Trump (Presiden AS)  dan Recep Tayyip Erdoğan (Presiden Turki) “sebaiknya” bermain golf bersama! Turki dan Amerika Serikat memiliki beberapa lapangan golf terindah dan di antaranya Trump memiliki yang terbaik. Tapi kenyataan sebaliknya, kedua pria tersebut dalam proses menghancurkan apa yang “selama ini telah dihasilkan” dari bisnis perjalanan dan pariwisata antara kedua negara.

Erdogan memutuskan: Tidak ada lagi visa pada saat kedatangan (visa on arrival), kemudian, orang Amerika diizinkan kembali ke Turki namun dengan banyak rintangan dan batasan waktu. Hotel di Istanbul, Antalya atau Ankara kini mencari-cari (kekurangan) bisnis. Operator perjalanan inbound di Turki, penyelenggara acara, dan hotel resor, mengalami krisis. Sementara orang-orang Turki tetap menjadi salah satu orang yang paling ramah di dunia, presiden mereka “membanting pintu” pada wisatawan yang datang dari Amerika Serikat.

Itu antara lain bagian dari tulisan Juergen T. Steinmetz, editor E-Turbo News pada 8/12/2017 di penerbitan on-line-nya “eTN”.

Ditulis juga, bahwa larangan bagi pengunjung dari AS yang ingin mengunjungi Turki sejak Oktober 2017, “dilunakkan” baru-baru ini ketika negara tersebut mengizinkan visa bagi orang Amerika untuk diterbitkan lagi di kedutaan dan konsulat mereka di Amerika Serikat.

Antara kedua negara (AS dan Turki) seolah sedang berlaku  “apa yang Anda lakukan terhadap saya, kami lakukan untuk Anda”, di mana persyaratan yang serupa diberlakukan pada warga negara Turki yang ingin mengunjungi Amerika Serikat.

Sementara itu, banyak warga Eropa tidak memerlukan paspor sama sekali untuk masuk ke Turki dan diizinkan masuk dengan kartu identitas nasional alias KTP mereka atau “bahkan” cukup dengan paspor yang kadaluwarsa. (Ini tentu demi pariwisata juga).

Presiden “agresif” Donald Trump di Amerika Serikat tengah menerapkan kebijakan “melihat keluar” dengan prinsip kepentingan “America First.” (dari : E-Turbo News, 8/12/2017)

Mari kita perhatikan perhitungn-perhitungan yang tercantum di dalam artikel-artikel analitis tersebut di atas.***