TTI  berita raja ampat dimuat 04072014 Nama Raja Ampat sudah mendunia. Boleh dikatakan seakan ‘wakil’ daricitra Papua khususnya, Indonesia bagian timur umumnya. Mencitrakan hebatnya potensi wisata bahari negeri ini. Namun memang ada keterbatasannya, dalam arti positif, bahwa di situ perlu  menjaga carrying capacity, sustainability, sehingga bukan untuk mass tourism. Kalau ini bisa diangkat sebagai model pengembangan destinasi yang ‘cocok’, maka dengan tetap memerlukan beberapa pencermatan tertentu, baik diikuti laporan dari lapangan, di halaman 31–33 edisi newsletter Pariwisata Indonesia bulan Juni 2014  ini. Bagaimana kegiatan bisnis pariwisata sedang berlangsung di sana?

Sebelum Raja Ampat menjadi daerah otonom, lebih dari 10 tahun lalu, gugusan kepulauan di atas kepala burung Pulau Papua telah dikenal oleh para peneliti dan wisatawan asing sejak lama. Menurut data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Raja Ampat, hampir 8 ribu orang wisman dan sekitar 2.000 orang wisnus berkunjung selama tahun 2012. Selama tahun 2013 lalu diharapkan bisa mencapai target 9–12 ribu pengunjung wisman dan wisnus. Pelaksanaan Sail Raja Ampat tahun 2014 diharapkan akan semakin  meningkatkan lagi jumlah kunjungan.

Perkembangan wisatawan nusantara juga terlihat semakin ‘istimewa’ dari tahun ke tahun. Terutama di kota-kota besar, berlibur, menyelam atau snorkeling di kalangan anak muda sudah semakin menjadi tren dan gaya hidup. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Raja Ampat, Yusdi N Lamatenggo, mengatakan, “Kita terus berharap wisatawan domestik terus berkembang. Sayangnya, yang punya hobi dan passion terhadap jenis wisata ini masih wisatawan asing. Paling banyak dari Eropa. Raja Ampat baru berdiri 10 tahun, pembangunan pariwisatanya baru berjalan 6 tahun. Namun kita berharap, kita sudah berada di rel yang benar.”

Lengkapnya laporan ini, mampir dapat dilihat di newsletter-pariwisataindonesia.com  .**