Ini pemandangan biasa kini di Bunderan HI Jakarta saat hari Car Free. Kesibukan pembangunan subway di Jalan Thamrin tetap terasa di hari libur sekalipun. Tapi hari Car Free juga satu upaya "memanusiawikan" suasana ibukota yang di hari biasa tertekan oleh macam-macam problem.(Foto:AH)

Ini pemandangan biasa kini di Bunderan HI Jakarta saat hari Car Free. Kesibukan pembangunan subway di Jalan Thamrin tetap terasa di hari libur sekalipun. Tapi hari Car Free juga satu upaya “memanusiawikan” suasana ibukota yang di hari biasa tertekan oleh macam-macam problem.(Foto:AH)

Majalah travel kelas dunia, Conde Nast Traveler, memasukkan Jakarta ke dalam daftar “10 kota paling tidak bersahabat di dunia”. Daftar tersebut disusun berdasarkan hasil survey yang melibatkan sekitar 77 ribu pembaca di seluruh dunia. Jakarta untuk pertama kalinya ada di dalam daftar tersebut dan menduduki peringkat kesembilan. Padahal, baru beberapa hari lalu Jakarta didapuk menjadi tuan rumah PATA Travel Mart 2016.

Dorongan-dorongan untuk menjadikan Jakarta sebagai kota penting bagi pariwisata nasional mulai disuarakan banyak figur. Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Sumber Daya, Rizal Ramli, telah meminta Menteri Pariwisata dan Gubernur DKI Jakarta untuk membangun pariwisata Jakarta dengan berfokus pada empat jenis turisme, yaitu bisnis, maritim, kuliner, dan seni budaya.

Sedangkan, Arief Yahya selaku Menteri Pariwisata mengharapkan Jakarta bisa menjadi kota penghubung (hub city) ke lokasi-lokasi pariwisata lain, seperti di Jawa Barat atau Banten. Di Asia Tenggara, Bangkok menjadi salah satu contoh ibu kota yang bisa berperan baik sebagai hub city untuk sektor pariwisata. Bahkan tidak hanya hub city bagi pariwisata Thailand, tapi juga Asia Tenggara. Jika Jakarta baru ditargetkan angka 3 juta wisatawan mancanegara pada 2016, Bangkok malahan sudah mencatat jumlah 16 juta wisman.

Chairman PATA Chapter Indonesia, Setyono Djuandi Darmono, dikutip Kompas  menyatakan bahwa Jakarta harus jadi ibu kota pariwisata dan tidak hanya dijadikan tempat bisnis. Selama ini, masyarakat internasional hanya mengenal Bali sebagai tempat tujuan pariwisata, sedangkan Jakarta sebagai ibu kota seringkali tidak dikenal. Namun, bagaimana Jakarta mau menjadi kota pariwisata jika tidak bersahabat untuk turis?

Ada beberapa alasan kenapa para pembaca Conde Nast Traveler menobatkan Jakarta sebagai salah satu kota paling tidak bersahabat di dunia. Macet dan kepadatan penduduk adalah alasan yang paling banyak disebut.

“It took us two hours to get from the airport to our hotel because of bumper-to-bumper traffic (Kita perlu waktu dua jama dari bandara ke hotel karena sangat macet)”, ungkap salah satu pembaca. Selain itu, penduduk Jakarta dianggap berperilaku “agresif”. Polusi udara yang parah dan banjir saat musim hujan juga menjadi alasan-alasan yang muncul ke permukaan.

Iklim yang kurang cocok untuk berwisata di atas menjadi tantangan bagi rencana untuk mengembangkan pariwisata di Jakarta. Kendati demikian, wisata kuliner sebagai salah satu fokus pengembangan pariwisata Jakarta ternyata sesuai dengan hasil survey Conde Nast Traveler. Dengan segala kekurangannya, para turis asing begitu menyukai makanan di Jakarta. “The meals are incredible (Makanannya luar biasa),” tulis seorang pembaca.

Seperti dilansir CNN Indonesia, Menko Maritim yakin wisata kuliner dapat membuat Jakarta kian dikenal wisatawan dunia. Namun, perlu usaha lebih untuk mengungguli beberapa kota lain di Asia Tenggara yang telah lebih dulu menjadikan food tourism sebagai andalan.

Soal branding dan penyebaran informasi tentang kuliner, Indonesia memang jauh tertinggal dibanding negara-negara lain di Asia. Lihatlah daftar-daftar “street food terbaik di Asia” yang muncul di media internasional seperti CNN, Reader’s Digest, atau Huffington Post. Tidak ada kuliner asal Indonesia yang disebut. ***(Pitor Pakan)