Bandara Pongtiku di kota Makale, Tana Toraja. Penampakan di 2015.(Foto: AH)

Bandara Pongtiku di kota Makale, Tana Toraja. Penampakan di 2015.(Foto: AH)

Satu tim khusus gabungan Kementerian dan Lembaga pemerintah yang terkait, akan segera berjalan mendahului untuk mengidentifikasi serta mempersiapkan perencanaan anggaran pembangunan dengan target penyelesaian maksimal tahun 2019. Itu berhubung rencana penyusunan masterplan percepatan pengembangan destinasi wisata Toraja yang hendak dikerjasamakan dengan Bank Dunia, prosesnya diperkirakan akan memakan waktu yang cukup lama. Masterplan itu pun diharapkan akan setara sebagaimana masterplan destinasi Borobudur, Danau Toba, dan Mandalika.

Apa masalah pariwisata untuk Toraja sebagai destinasi? Untuk menuju Toraja dari Makasar membutuhkan perjalanan sekitar 9 jam. Itu membuat turis asing yang mengakui keindahan Toraja “menjadi kapok untuk kembali lagi” sebagaimana disampaikan oleh Bupati Tator Nico.

Dari beberapa siaran pers yang kita terima disebutkan, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan sempat menyiapkan satu tim khusus percepatan pengembangan destinasi wisata yang terdiri dari perwakilan Kementerian dan Lembaga terkait. Tim khusus ini telah menyelenggarakan rakor dengan Pemda Sul-Sel dan Pemkab Tana Toraja serta Pemkab Toraja Utara yang dipimpin Deputi IV Kemenko Maritim, Safri Burhanuddin di Makasar pada Selasa (07/02). Di situ disepakati Toraja masuk sebagai KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) ke-11.
Tim khusus kemudian melakukan kunjungan lapangan ke Toraja, didampingi oleh Bupati Tana Toraja, Nico Biringkanae. Fokusnya pada identifikasi pembangunan infrastruktur, khususnya pembangunan Bandara di Toraja sebagai aksebilitas penting. Rencana pembangunan bandara ini selain yang sudah eksis yakni Bandara Pongtiku juga pembangunan Bandara Buntu Kuni di Tana Toraja.

Menurut Larasati Sedyaningsih, anggota tim 10 Top Destinasi yang dipimpin oleh Hiramsyah Sambudy Thaib, World Bank juga akan melakukan pendalaman mengenai sumber pembiayaaan dan mekanisme atau platform penyusunan Integrated Masterplan. Itu dengan menggunakan format yang sama dengan 3 destinasi sebelumnya, –Toba, Borobudur dan Lombok–. “Yakni terdiri dari Demand Assessment dan Skema Integrated Plan yang komprehensif dengan mengintegrasikan hasil-hasil kajian KSPN yang pernah dilakukan oleh Kemenpar dan atau sektor lainnya,” kata dia.

Penyelesaian Integrated Master Plan Toraja, lanjut Laras, diharapkan rampung pada bulan Juni 2017. Sedangkan studi pengembangan bandara dapat dilakukan secara paralel. “Pihak Kemenko Maritim akan berkoordinasi dengan Pihak BPPT untuk melakukan kajian infrastruktur,” ungkapnya.

Sementara itu Pemda Toraja Utara dan Tana Toraja diharapkan melakukan kampanye kebersihan, pemahaman tentang kesiapan masyarakat bersama tokoh masyarakat/tokoh adat dan tokoh agama. Mereka juga diharapkan memperoleh kepastian soal Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) agar menarik investor di bidang pariwisata.

Pada 30 Januari 2017 lalu, dilakukan Rapat Kordinasi Pengembangan Pariwisata Toraja yang dipimpin oleh Menko Maritim Luhut B Pandjaitan, di kantornya. “Menko Maritim sudah memberikan arahan agar World Bank melakukan studi  Integrated Tourism Master Plan bekerjasama dengan UNHAS, UKIP, BPPT, Pemda, Kemenpar dan Kementerian PUPR,” kata Larasati Sedyaningsih.

Ada banyak peninggalan situs sejarah zaman megalitikum di Toraja. Artefak itu merupakan world heritage, dan menjadikan Toraja sebagai destinasi heritage tourism kelas dunia.

Menteri Arief Yahya menyadari, banyak destinasi di tanah air yang berpotensi bisa dikemas menjadi world class destination. Presiden Joko Widodo juga sudah menetapkan 10 top destinasi yang sedang dikebut, dengan membangun infrastruktur dan 3A-nya. Yakni Akses, Atraksi dan Amenitas.

Akses menjadi poin penting dalam pengembangan destinasi wisata. Poin kedua adalah Atraksi, keindahan dan keunggulan apa yang dimiliki oleh sebuah kawasan sehingga menjadi magnit bagi orang untuk datang.

Saat ini, seperti disebutkan tadi, satu tim khusus yang telah dibentuk itu dapat segera berjalan mendahului untuk mengidentifikasi serta mempersiapkan perencanaan anggaran pembangunan dengan target penyelesaian maksimal tahun 2019.***

Komentar ITN: Teringat akan pembangunan jaringan keretapi Pulau Sulawesi, pernah diumumkan antara lain: Jalur KA baru Makassar-Pare Pare. Bukankah jalur Makassar-Parepare mulai bisa dioperasikan sebagian atau seluruhnya di tahun 2018? Dan 2019? Untuk kawasan Tator dan Toraja Utara, perlu program sederhana namun menentukan keberhasilan pariwisata, jika Pemda melaksanakan beberapa pengembangan kualitas fisik ini: jalan raya, tourist spot seperti dilukiskan pada diagram ini; dan mendorong/memajukan operator tur dan guide tur.

itn-toraja-komentar-8-februari-2017

     Di ruang ini pernah kita catat (Desember 30, 2014) antara lain : Tana Toraja dan Toraja Utara berjarak lebih 350 KM dari Makassar, selama perjalanan praktis tak bisa dihadirkan “hiburan” atau “selingan” bagi para wisatawan, kecuali untuk makan siang biasanya di salah satu restoran di kota Pare-pare. Ada satu lokasi bernama Gunung Nona, di pertengahan antara Pare-pare dan kota Makale, di mana makanan dan minuman ringan a la lokal disediakan oleh beberapa warung. Tapi, terlalu “bergaya lokal”, bisik seorang wisman. Kenapa? Wisatawan istirahat disitu, duduk “ngopi” menikmati pemandangan alam yang memang sejuk indah, tapi…di lantai seperti juga di atas meja, plastik atau daun bekas bungkus makanan berserakan tak enak dipandang mata.

   Untuk menarik lebih banyak wisatawan, khususnya wisman, maka layanan penerbangan dari dan ke kota Makassar, merupakan satu-satunya pilihan. Tanpa itu, pertumbuhannya akan relatif lamban. 

     Baru saja Januari 10, 2017 kemarin kita catat di sini: Telah ada paket-paket wisata yang dijual berjudul ‘Toraja and Beyond’, memanfaatkan penerbangan langsung dari Makassar ke Bandara Pongtiku di Rantepao, Tana Toraja oleh maskapai Trans Nusa. Maka tak salah rasanya mengulangi pertanyaan ini: mengapa Pemkab maupun Pemprov tak memprioritaskan terlebih dahulu mengoptimalkan penggunaan bandara Pongtiku? Pesawat berkapasitas 12 tempat duduk, atau sekelas pesawat ATR yang berkapasitas 50-60 seater, dengan frekuensi 2-3 kali penerbangan seminggu, rasanya cukup feasible secara komersial melayani puluhan ribu hingga seratusan ribu wisatawan per tahun datang berkunjung ?***