PATA Innovation Forum sesi pertama.Sebagai pembicara Caesar Indra,Head of Product traveloka.com (kiri);Ryan Kartadwidjaja,Deputy CEO pegipegi.com (kedua dari dari kiri);Gaery  Undarsa,Co-Founders dan Managing Director tiket.com (kedua kanan);dan Hans Ebenham,Founder dan CEO Nusatrip.Pemandu acara Chetan Kapoor,Research Analyst Asia Pacific Phocuswright,Inc.(Foto:YD)

PATA Innovation Forum sesi pertama.Sebagai pembicara Caesar Indra,Head of Product traveloka.com (kiri);Ryan Kartadwidjaja,Deputy CEO pegipegi.com (kedua dari dari kiri);Gaery Undarsa,Co-Founders dan Managing Director tiket.com (kedua kanan);dan Hans Ebenham,Founder dan CEO Nusatrip.Pemandu acara Chetan Kapoor,Research Analyst Asia Pacific Phocuswright,Inc.(Foto:YD)

Pasar perjalanan di Asia Pasifik tumbuh 7% setiap tahun sejak 2008. Pasar online travel di kawasan ini mencapai 18% per tahun. Yang mengejutkan dari data hasil riset Phocuswright itu adalah pasar perjalanan Indonesia memimpin pertumbuhan tersebut. Seperti yang disampaikan oleh Researcher Analyst Asia Pacific Phocuswright, Inc., Chetan Kapoor, moderator dalam PATA Innovation Forum, Rabu (7/9), pasar perjalanan Indonesia merupakan yang tercepat dalam pertumbuhannya baik dalam jumlah total maupun dalam pasar online travel. Dan ini masih akan terus berlanjut.

Yang mendorong pertumbuhan pasar perjalanan di Indonesia diantaranya, ketersediaan transportasi udara yang semakin murah dengan maskapai-maskapai penerbangan berbiaya terjangkau yang semakin established dan berkembangnya online travel agent. Data Phocuswright menunjukkan, pasar perjalanan Indonesia menggunakan 81% LCC, sedangkan menggunakan OTA masih 43 persen.

Itu semua didukung dengan membanjirnya produk telepon seluler dan telepon pintar buatan Cina ke pasar dalam negeri. Promosi-promosi menarik sehingga masyarakat berpikir dengan online lebih murah dan lebih cepat. Apalagi sekarang dapat melakukan pencarian hingga transaksi cukup lewat telepon pintar yang harganya juga lebih murah daripada menggunakan komputer jinjing (laptop). Bagi orang Indonesia harga satu unit laptop masih cukup mahal. Itulah mengapa sekarang lebih dari selusin OTA global dan lokal bersaing merebut pasar perjalanan Indonesia. Mereka mendorong menggerakan pasar di sini untuk berbelanja, bepergian, membeli jasa dan lain-lain secara online dengan menggunakan gawainya.

Caesar Indra, Head of Product traveloka.com, mengatakan, penjualannya 60% berasal dari Google dan 40% melalui perangkat komunikasi bergerak (mobile). Sedangkan situs pegipegi.com penjualan melalui mobile mencapai 70% sampai 80%, seperti diungkapkan oleh CEO pegipegi.com Ryan Kartawidjaja.

“OTA tidak menjual di bawah nilai standar. Kami tetap memikirkan keuntungan kok. Itu kan pandangan yang beredar di masyarakat,” ujar Caesar.

Wawancara ekslusif bersama Shinta Dhanuwardoyo,Founder bubu.com.Pemandu acara Daniella Wagner,International Partinership Travel Weekly Group,Connecting Travel.(Foto:YD)

Wawancara ekslusif bersama Shinta Dhanuwardoyo,Founder bubu.com.Pemandu acara Daniella Wagner,International Partinership Travel Weekly Group,Connecting Travel.(Foto:YD)

Pada sesi wawancara eksklusif, Shinta Dhanuwardoyo, Founder bubu.com, memberi masukan kepada agen-agen perjalanan tradisional. Bagi mereka yang sekarang ingin beralih atau menggunakan platform digital, sebaiknya mengerti dahulu konsumen dan pelanggannya. Dengan digital banyak sekali hal yang bisa digarap. Perusahaan-perusahaan kecil dan rintisan sekarang lebih suka menggunakan digital platform dan bekerja sama dengan bloggers.

Meskipun demikian, menurut Gaery Undarsa, Co-Founder dan Managing Director tiket.com, iklan di televisi masih mempunyai pengaruh besar untuk menarik pasar perjalanan di Indonesia. “Merek yang sudah masuk televisi berarti dapat dipercaya, itu yang diyakini orang Indonesia. Hampir mirip dengan pasar India dan Cina,” kata Gaery.

Shinta mengingatkan, tantangan terbesar yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan rintisan di Indonesia adalah belum banyak bakat-bakat programmer dengan keterampilan tinggi khususnya untuk perdagangan daring (e-commerce). Sekarang kita masih menggunakan banyak tenaga terampil dari India dan Eropa timur. Dan mengubah pola pikir para pengusaha rintisan agar lebih mengedepankan bagaimana perusahaan rintisannya menghasilkan uang daripada bagaimana mencari pendonor untuk berinvestasi pada perusahaannya. *** (Yun Damayanti)