Dari Hok Lok Pan akhirnya Disebut Martabak Bangka; tapi Jangan Cari di Pulau Bangka…

(Logo:Disbudpar Kota Pangkalpinang)

(Logo:Disbudpar Kota Pangkalpinang)

Hok lok pan diperkirakan telah dibuat sejak tahun 1710. Awal penjualannya pun diperkirakan sekitar tahun yang sama atau tidak lama setelah itu. Hok lok pan pertama kali dijual terutama di 10 distrik di Pulau Bangka yang terdapat penambangan timah pada saat itu.

Salah satu upaya memproduksi timah dalam skala besar waktu itu adalah dengan mendatangkan pekerja dari bagian selatan Tiongkok. Para pekerja migran itu punya pengetahuan mengenali timah. Kehadiran mereka pun turut membawa kebiasaan makan dan keahlian boganya ke Pulau Bangka.

Alam yang berbeda dan keterbatasan akses pada bahan pangan memaksa pekerja migran di penambangan timah adaptif. Apa yang disediakan oleh alam di Pulau Bangka diolah dengan pengetahuan dan keterampilan boga yang diwarisinya. Lama-lama, upaya bertahan hidup (survival) itu mengalami proses pencampuran antara yang dibawa oleh pendatang dengan yang telah eksis dan hidup di tengah masyarakat lokal.

Belum ada data pasti sejak kapan hok lok pan tersebar ke daerah-daerah lain di luar Pulau Bangka. Diperkirakan, pada periode 1970-an ada orang-orang Bangka merantau ke Jakarta dan Bandung di Pulau Jawa kemudian merintis usaha penjualan hok lok pan.

Hanya tinggal beberapa orang penjual hok lok pan/martabak bangka yang memasaknya dengan menggunakan arang,cara tradisional.Ini penjual martabak pagi hari di depan pusat perbelanjaan BTC,Pangkalpinang.Selain toping wijen juga tersedia pilihan cokelat meises,keju dan kacang.(Foto:YD)

Hanya tinggal beberapa orang penjual hok lok pan/martabak bangka yang memasaknya dengan menggunakan arang,cara tradisional.Ini penjual martabak pagi hari di depan pusat perbelanjaan BTC,Pangkalpinang.Selain toping wijen juga tersedia pilihan cokelat meises,keju dan kacang.(Foto:YD)

Pada awalnya mereka menjual hok lok pan yang hanya berisi wijen atau kacang. Tetapi, pasar di Jakarta dan Bandung kurang meminatinya. Maka agar menarik pembeli para penjual hok lok pan mulai mencoba menggunakan cokelat meises dan keju sebagai toping. Ternyata itu malah disukai masyarakat di kedua kota besar tersebut. Harga jualnya pun lebih tinggi.

Penyematan nama “martabak bangka” atas hok lok pan dimulai sekitar tahun 1978 di Bandung. Nama “martabak bangka” lama-lama seperti menjadi merek dagang (brand) bagi martabak manis.

“Jadi bukan oleh orang Bangka yang kasih nama ‘martabak bangka’,” kata Koh Amen, penjual martabak di Pangkalpinang pemegang rekor MURI Martabak Bangka Terbesar.

Dia tambahkan, varian toping seperti kacang, cokelat meises dan keju mulai dikenal di kota Pangkalpinang sekitar tahun 1980.

“Dari zaman Belanda sampai sekarang orang sini kenal isi hok lok pan cuma wijen saja,” tambah Amen.

Pengenalan varian toping hok lok pan di tempat asalnya baru dimulai setelah populer di Jakarta dan Bandung. Dibawa oleh para perantau yang kembali ke Bangka dan membuka usaha penjualan hok lok pan atau martabak manis seperti yang dilakukannya di Jawa. Selain menawarkan pilihan rasa, dengan toping bervariasi juga membuat harga jualnya lebih tinggi dari sekedar toping wijen atau kacang.

Tetapi, jangan mencari martabak bangka di Pulau Bangka. Kenapa?*** (Bagian II)-Bersambung (Yun Damayanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.