Catatan Perjalanan Bangka (3)     Oleh : Arifin Hutabarat

Mengadakan event wisata domestik di kota Sungailiat, Bangka, minggu lalu, menarik ratusan peserta pesepeda motor. Bangka sebaiknya kini difokus pada pengembangan destinasi wisata domestik secara konsepsional. (foto:AH)

Paradigma pariwisata yang selama ini tertanam di masyarakat kita rasanya didominasi oleh pemikiran bahwa pariwisata artinya wisatawan dari mancanegara yang berkunjung ke dalam negeri Indonesia lalu populer disebut wisatawan mancanegara disingkat wisman. Warga Indonesia yang bepergian wisata ke luar negeri disebut wisata nasional atau wisnas. Tadinya untuk kegiatan wisata di dalam negeri biasa juga kita sebut wisdom atau wisata domestik dan kemudian diganti dengan sebutan wisata nusantara dan wisatawan nusantara dan akhirnya kini populer disebut wisnus.

Bahkan menyebutkan saja kata pariwisata asosiasi pikiran kita langsung pada wisman yang berkunjung. Maka  dua bidang utama dalam kegiatan resmi instansi pariwisata kita baik sewaktu masih berstatus tingkat direktorat jenderal maupun ketika sudah berstatus departemen dan kementerian negara, terdiri atas dua bidang utama yakni Pengembangan Pemasaran dan  Pengembangan Destinasi.

Bersamaan itu setiap kali disebutkan pariwisata telah langsung mengarahkan asosiasi pikiran kita pada konsep konsep, pada kebijakan atau policy dan pada strategi-strategi pembangunannya, pemasarannya dan seterusnya…Diskusi tentang masing-masing aspek itu senantiasa menarik mengasyikkan orang, serasa kita ingin sekali menyumbangkan saran pendapat kita untuk kemajuannya.

Perhatikanlah akhir-akhir ini tiada orang yang tidak tampak bersemangat manakala dilibatkan bicara tentang pariwisata. Demikian akhirnya tercermin dan terujud pada kebijakan serta pada alokasi penganggaran biaya dari uang negara di APBN. Di berbagai wacana,  topik tentang pariwisata umumnya selalu diperhatikan dan diutamakan, hingga tampak terujud pada anggaran Pemasaran/promosi pariwisata dan yang berkaitan dengannya.

Kendati organisasi kementerian pariwisata pada hakekatnya dan pada kenyataanya terdiri dua batang tubuh (struktur) yaitu Pengembangan Pemasaran dan Pengembangan Destinasi, anggaran selalu jauh lebih berat dan lebih banyak diadakan pada Pemasaran.

Itulah kemudian yang membuktikan kita selama ini telah salah paradigma sehingga kini sungguh terbuka bagi kita untuk mengubahnya. Yaitu, bahwa pariwisata bagi negeri seperti Indonesia ini, sesuai dengan karakter alam, budaya dan manusianya, mestinya menomor satukan pembangunan dan pengembangan wisata domestik atau wisnus, lainnya bisa nomor dua atau seterusnya. Bagi Indonesia sebenarnya perlu ditegaskan bahwa wisman bisa dinomor duakan atau diklasifikasi sebagai mesin pencetak dollar pariwisata. Maknanya, wisata domestik yang bila sudah maju, itulah yang dipasarkan dan dijual ke luar negeri dengan orientasi mendapatkan.penghasilan dollar.

Majunya pariwisata di negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Prancis, dan beberapa negara Eropa lainnya, sebenarnya membuktikan sejarah tersebut. Mula pertama mereka membangun menperkuat wisata domestik. Ketika sudah mapan, mereka menjualnya ke pasar wisman dan meningkatlah jumlah kunjungan wisman secara sistematis dan berkesinambungan.

RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN PARIWISATA pernah menyebutkan data berikut ini : WTTC (World Travel and Tourism Council) memperkirakan jumlah wisatawan domestik dunia mencapai 10 x jumlah wisatawan mancanegara. Negeri Amerika Serikat tahun 2010 mencatat 2 miliar perjalanan domestik, Tiongkok 2,1 miliar perjalanan domestik. Penelitian WTTC (World Travel and Tourism Council) menunjukkan 70% kontribusi langsung GDP pariwisata dunia digerakkan oleh wisatawan domestik. Ahli ekonomi UNWTO memperkirakan secara global pariwisata domestik mewakili 73% dari total wisatawan yang menginap.

Data tersebut rupanya terabaikan padahal tercantum di Renstra Pariwisata 2015-2019 Peraturan Menteri Pariwisata, Republik Indonesia, nomor 29 tahun 2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Pariwisata.

Maka luputlah dari perhatian kita hebatnya potensi wisata domestik. Paradigma pariwisata kita kini perlu diubah agar penyelenggaraan pariwisata jangan tersesat terus!

Jadi. jangan terbalik dari semestinya wisata domestik sebagai nomor satu dan wisman nomor dua. Sebab setiap konsep, kebijakan dan strategi pariwisata tujuan akhirnya ialah mempercepat meningkatnya kesejahteraan masyarakat, baik sosial ekonomi maupun budaya. Data yang bersifat statistis sepuluh tahun terakhir pun ternyata mengindikasikannya di dunia seperti dusebutkan di atas..

Contoh berikut ini memperbandingkan perhitungan anggaran melalui APBN di Indonesia untuk wisman dan wisnus:

 

 

 

 

 

 

 

(sumber:Kementerian Pariwisata)

*** (bersambung)