tortorUsai sudah terselenggaranya Festival Danau Toba, (FDT). Destinasi ini pernah mencatat tahun-tahun kejayaan, ketika di tahun 1980 hingga 1990-an setiap tahun jumlah wisman berkunjung meningkat terus. Suatu tahun menjelang krisis multidimensi melanda Indonesia tahun 1997–1998, statistik mencatat jumlah kunjungan wisman ke kawasan Sumatra Utara berkisar 350 ribu. Danau Toba merupakan  pusat destinasi, memang, wisman dari Singapura dan Malaysia mendominasi, namun jumlah wisman pemegang paspor negara-negara Eropa dan Amerika pun meningkat tahun demi tahun.

Tetapi benar, wisnus telah memainkan peran penting bagi sebagian usaha akomodasi di sini untuk ‘bertahan’. Nyaris kondisi bisnis akomodasi, sebagai salah satu ukuran, tak mengalami perkembangan maju dalam arti, sebagian besar berjuang keras untuk menjaga pemeliharaan fasilitas.

Di Jakarta, beberapa pengalaman tahuntahun belakangan ini, menerapkan konsep pengelolaan even yang ‘konsisten’ dan ‘menuju ke level even internasional’, telah menunjukkan hasil-hasil positif yang bersifat inspiratif. Maka, sejak awal ide hendak menyelenggarakan Festival Danau Toba 2013, Wamen Parekraf berupaya meyakinkan, untuk menyusun konsep dan strategi penyelenggaraan semacam even FDT, perlu dipahami setidaknya dua ‘requirements’.

Pertama, konsistensi penyelenggaraan dengan kualitas pengelolaan bernuansa internasional. Kedua, FDT 2013  yang akan dijadikan agenda tahunan pariwisata Sumatera Utara  (Sumut) pun tidak bisa dengan cepat dikenal hingga ke luar negeri tetapi paling cepat lima

tahun ke depan.

Sejak awal penggagasan hingga pada saat sosialisasi tahap akhir, kepada masyarakat dan stakeholders pariwisata di Sumatra Utara, Wamen Parekraf Sapta Nirwandar menegaskan: “Perlu waktu untuk dikenal dan diminati dan itu terjadi pada semua agenda atau obyek pariwisata daerah lainnya termasuk Bali dan Lombok. Karena itu perlu terus dipromosikan,” ujarnya di Medan Kamis (22/8/2013), pada Sosialisasi Festival Danau Toba yang hendak diselenggarakan di Pulau Samosir, Danau Toba, mulai tanggal 8–14 September 2013.

Bali, sebagai contoh, dipromosikan sejak lama, sehingga kalau sekarang ketenaran pariwisata daerah itu dinikmati pemerintah dan masyarakatnya, menurut Sapta, itu wajar belaka. Hal sama dengan destinasi Lombok juga Danau Singkarak, Sumatera Barat (Sumbar) yang juga perlu waktu untuk dikenal dan dicari orang untuk menjadi tempat wisata.

“Untuk dikenal, memang harus perlu rutin atau konsisten dipromosikan. Itu yang sedang dan akan dilakukan dengan Festival Danau Toba

yang dimulai tahun ini dari sebelumnya yang dikenal dengan Pesta Danau Toba,” katanya. (lihat newsletter-pariwisataindonesia.com)