Menteri Pariwisata Arief Yahya (tengah) meresmikan peluncuran BBTF 2015 didampingi oleh Ketua BBTF Ketut Ardana (kanannya) dan Dirjen Pemasaran Pariwisata Esthy Reko Astuty (kirinya), di Kementerian Pariwisata, Jakarta pada 26/2/2015, para Putri Pariwisata Indonesia mendampingi. (Foto:Ist).

Menteri Pariwisata Arief Yahya (tengah) meresmikan peluncuran BBTF 2015 didampingi oleh Ketua BBTF Ketut Ardana (kanannya) dan Dirjen Pemasaran Pariwisata Esthy Reko Astuty (kirinya), di Kementerian Pariwisata, Jakarta pada 26/2/2015, para Putri Pariwisata Indonesia mendampingi. (Foto:Ist).

Terlalu “sayang” jika para Pemda dan Dinas Pariwisata tak mengundang para buyers atau media luar negeri yang mengikuti BBTF (Bali and Beyond Travel Fair) pada 11-12 Juni 2015 di Nusa Dua, Bali. Para buyers itu ditawarkan post tour ke destinasi di luar Bali, free of charge, untuk mempromosikan sekaligus menjual  daerah. Ke daerah destinasi mana? “Tergantung daerah yang mau dan bersedia mengundang mereka. Kami telah menawarkan kepada pihak daerah-daerah destinassi di luar Bali. Memang, sampai sekarang belum ada yang memastikan,” kata Ketut Ardana, Ketua Penyelenggara BBTF 2015 yang adalah dia juga Ketua ASITA Bali.

Tentu saja diharapkan pihak Pemda dengan Dinas Pariwisatanya jangan terlambat menawarkan kesediaan. Sebab jadwal para peserta BBTF itu berada di Indonesia tentu sudah harus mereka konfirmasi sebelum berangkat dari negeri masing-masing, terkait booking jadwal penerbangan pulang, maupun rencana-rencana perjalanan bisnis mereka.

Menurut Ketut Ardana, ada peserta sebanyak 50 digolongkan Platinum Buyers, mereka ini masing-masing telah biasa mengirim sedikitnya 10 ribu turis per tahun ke Indonesia; ke BBTF 2015 mereka diundang sebagai hosted-buyers yaitu tiket penerbangan pp dan hotel, serta transportasi darat ditanggung oleh Panitia. Ada lagi 155 Gold Buyer, mereka ini masing-masing telah biasa mengirim sekitar 6000 sampai 6500 turis ke Indonesia per tahun; untuk mereka ini ditanggung land-arrangement seperti pada Platinum  Buyers kecuali tiket penerbangan pp.  Peserta lainnya merupakan trade visitor yang datang atas biaya sendiri.

Potensi itulah yang mestinya dimanfaatkan oleh Pemda yang sungguh ingin memajukan pariwisatanya. Pemda dan Dinas Pariwisata yang berkoordinasi dengan industri pariwisata setempat, tak perlu lagi harus menanggung biaya penerbangan jauh dari negeri mereka masing-masing, dan cukup  memerlukan pembiayaan untuk menanggung penerbangan dari Bali ke daerah pp, dan land arrangement.

Tapi perlu dipastikan pula bahwa unsur pelaku bisnis yakni operator tur, hotel, restoran, dalam keadaan siap menawarkan produk yang salesable, dan siap mengkonfirmasi jaminan kualitas, harga-harga dan untuk melakukan deal bisnisnya. Meninjau on the spot obyek daya tarik wisata yang layak jual. Pemda perlu memfasilitasi.

Sesuai nama even BBTF, maka pemasaran dan penjualan produk wisata dari destinasi di luar Bali, mestinya membuka peluang bisnis yang besar bagi daerah-daerah yang merasa memiliki produk dan destinasi yang salesable.

 

Ihwal BBTF 2015

Menurut Menteri  Pariwisata Arief Yahya, suatu saat Indonesia perlu punya event bursa pariwisata bergengsi, yang ditunggu para buyers dunia seperti NATAS di Singapura atau MATTA di Malaysia. Dan Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2015 dapat dilihat sebagai  cikal bakal event yang dimimpikan itu.

Ajang ini akan digelar untuk kedua kalinya pada 11-12 Juni 2015 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Bali. Peluncurannya diresmikan oleh Menteri Pariwisata di Balairung Soesilo Soedarman, Kementerian Pariwisata, Kamis (26/2).

Targetnya tahun ini akan hadir 325 buyers potensial dari Amerika Serikat dan kawasan Amerika Latin, Eropa Barat dan Eropa Timur, Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Tengah, dan Selatan, India, negara ASEAN, Korea Selatan, China, Taiwan, Hongkong, Indonesia, Australia, Selandia Baru, dan Jepang.  Sedangkan sellers nya sebanyak 370 peserta dari perhotelan dan resor, tour operators, tourist attaction, pemerintah, destinasi wisata, hospital, restauran, jasa transportasi serta korporasi.

Temanya : ” See Wonderful Indonesia Archipelago Through Bali’s Natural Beauty”. Fokusnya menjual tiga produk wisata unggulan Indonesia yaitu leisure, MICE ( Meeting Incentive Convention and Exhibition) dan wisata minat khusus seperti wedding & anniversary, spa & wellness, sport & adventure, healing & medical tourism, event organizer/PEO, tour operators, religious tourism dan syariah tourism.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya membandingkan bila tahun ini keikutsertaan Indonesia di pasar wisata ITB Berlin ditargetkan menghasilkan transaksi Rp. 4 triliun, BBTF  tahun 2014 saja telah membukukan Rp. 6 triliun transaksi dan tahun ini targetnya menjadi Rp. 12 triliun atau menjadi dua kali lipatnya.

Berarti lebih potensial acara bursa wisata yang digelar sendiri di tanah air seperti BBTF.

Menteri mengingatkan lagi, bahwa dari sudut pemerintah, Kementerian Pariwisata mengalokasikan anggaran promosi mendukung kegiatan selling untuk tahun 2015 berkisar Rp 200 miliar. Yakni berdasarkan strategi promosi yang 50% untuk memperluas dan memperkuat branding, 30% advertising dan 20% selling. Itulah yang disingkatkan strategi promosi BAS (branding, advertising, selling). Bujet tahun ini sekitar Rp 1 triliun. Target kunjungan wisman tahun 2015 dipasang pada angka 12 juta.***