Cara dan Gaya Inovatif Memasarkan Hotel; Luxury Hotel, Luxury Travel, Mungkin juga Luxury Destination; Lalu, Beyond Bali…?

Arief Gunawan

Arief Gunawan

Siapa Arief Gunawan? Dia menciptakan melalui jalan yang mulai populer diplesetkan publik dengan sebutan ATM , Amati, Tiru, Modifikasi, tentu saja maksudnya dengan memperhatikan apa yang sedang terjadi di bisnis pariwisata global. Kita boleh jadi luput memperhatikan. Ini menyangkut cara dan gaya memasarkan hotel atau fasilitas akomodasi. Bahkan berarti akhirnya juga dalam hal memasarkan destinasi, event dan lain-lain.

Dibentuknya satu nama LTH , singkatan utuk Luxury Themed Hospitality, dia mem-branding sebagai LTH Collection. (Awal mula pembentukannya ketika dia berbisnis di Vietnam, Indochina, Malaysia, dan Singapura beberapa tahun yang lalu. Kini dia berdomisili di Bali). Lalu dia bentuk lagi branding berbeda, Batik Hotel Collection. (Jadi ternyata ditemukannya cukup banyak hotel di berbagai negara yang menggunakan motif batik pada ambience hotel).

Kamar LTH collection juga masuk Batik Hotel Collection yang terjual USD 350 okupansinya praktis 100%.(Foto:AH)

Kamar LTH collection juga masuk Batik Hotel Collection yang terjual USD 350 okupansinya praktis 100%.(Foto:AH)

LTH collection itu sudah beranggotakan 120an hotel tersebar di mancanegara, di Indonesia ada 7 hotel semua berlokasi di Bali.

Mari melihat contoh yang di Bali. Salah satu bernama La Leela, ternyata unit yang mengoperasikan 16 villa ini, letaknya di tepi jalan raya Jimbaran, jadi, bukan di tepi pantai. Namun gaya dan cara luxury-nya, hotel ini bisa dijual mencapai achieved room rate rata rata Rp 950 ribu.

“Sebagai LTH collection marketing company kami mengisi 40 persen dari keseluruhan okupansi hotel ini,” kata Arief.

Satu lagi akomodasi yang berlokasi persis di tepi pantai Tuban, bagian dari salah satu sisi ujung pantai Kuta. Nama hotelnya The Sandi Phala. Anggota LTH collection ini menghasilkan achieved room rate rata-rata 200 hingga 250 USD. Jumlah kamarnya 12 saja. Tapi salah satu yang disebutnya suit room, terpakai alias terjual praktis setiap hari dengan tarif USD 350. (Hmmm, hampir 100% konsumennya dari negeri Barat Eropa atau Australia. Ruangan kamarnya berambiens etnik, sang pemilik hotel menyumbangkan koleksi barang seni milik pribadi ikut menghiasi ruangan kamar hingga ke berandanya).

LTH Collection La Leela di Jimbaran Bali ini, kolam renangnya memanjang di tengah di antara deretan villanya. Maka dinamakan juga lagon villa.(Foto: La Leela)

LTH Collection La Leela di Jimbaran Bali ini, kolam renangnya memanjang di tengah di antara deretan villanya. Maka dinamakan juga lagon villa.(Foto: La Leela)

Dengan cara dan gaya pemasaran bertema luxurious hotel, dia mengisi 60 persen di

Beranda kamar di The Sandi Phala. (Foto:AH)

Beranda kamar di The Sandi Phala yang terjual dengan tarif USD 350. (Foto:AH)

antara keseluruhan okupansi hotel ini.

Hotel yang satu ini dimasukkannya juga “merangkap” ke dalam batik hotel collection. Hotel dalam koleksi ini juga sudah tersebar di dunia.

Jangan bayangkan persyaratannya harus ribet untuk masuk menjadi anggotanya. Yang penting hotelnya ditandai dengan adanya motif batik di dalam hotel, bisa sebagai dekorasi interior, amenitas, hiasan, dan management-nya puya motivasi dan keyakinan mau  mengklaim hotelnya sebagai batik hotel.

Satu pengalaman menarik diceritakannya. Adalah pemilik mau memasukkan hotelnya ke keanggotaan Batik Hotel. Diperlihatkannya bagaimana dinding dalam kamar telah dihiasi,—menurut dia — dengan motif batik berbentuk relief dari kayu. Sang pemilik tampak bangga, tentu, bisa dimaklumi. Namun ketika ditanya kembali, “Pak. Batik kan merupakan karya berbentuk tulisan di atas kain?” Sang pemilik hotel tak bisa menjawab, namun menerima alasan hotelnya ditolak untuk tidak bisa masuk keaggotaan Batik Hotel Collection.

 

Living room di kamar yang dijual USD 350 itu.(Foto:AH)

Living room di kamar yang dijual USD 350 itu.(Foto:AH)

Di dunia ini ada kelompok atau konsumen yang menyukai motif batik. Maka hotel-hotel itu pun lalu dipasarkan dengan cara dan gaya mem-branding, meningkatkan leverage citranya, menjualnya pun selain mengikuti penggunaan teknologi digital yang sudah amat maju ini, juga dengan harga yang sesuai target hotel tanpa harus terseret pada praktik yang belakangan ini dikeluhkan yaitu “perang banting harga”.

Jadi boleh dikatakan tak ada atau tak perlu melibatkan diri perang harga dalam berkompetisi hotel. Yang perlu adalah menciptakan Tema sendiri, branding sendiri, ciptakan segmen pasar dan konsumen sendiri.

Kamar tidur villa lagoon La Leela di Jimbaran itu.(Foto:AH)

Kamar tidur villa lagoon La Leela yang di Jimbaran.(Foto:AH)

Arief Gunawan sependapat ketika kita tanyakan, bahwa Tema luxurious hotel dan luxurious travel, perlu dibangun dan dikembangkan di Indonesia. Itu dengan sendirirya membuka jalan dan saluran baru dalam memasarkan destinasi pariwisata Indonesia.

“Kita di Indonesia belum memperhatikan Tema itu,” diakui oleh Arief. Malahan cenderung ketinggalan dari beberapa negara destinasi pesaing Indonesia, dilihat dari perspektif kegiatan bisnisnya.

Jadi, Arief Gunawan saat ini selaku CEO Luxury Themed Hospitality Management Services, yang berkegiatn mencakup : (A). LTH Management, – Event Planner, Event Management. (B). LTH Hotels & Resorts: – Project Marketing Service, – Luxury Hotel Brand Search, – Techinal Project Assistances, – Pre-opening Support Service, – Hospitality Marketing Service, – Hospitality Asset Management, – Hospitality Re-positioning Advice, – Integrated Hospitality Development. (C). LTH Exchanges, – Luxury Travels & Hotels Exchanges Club. (D). LTH Communication, – Luxury Destination by Brand Management. (E). LTH Collection, – Luxury Themed Hotels Collection of the World. ***

Catatan kita: hotel dan destinasi yang beyond Bali perlu menalarkan perkembangan semacam tu.***

  1. Superb!

Leave a Reply

Your email address will not be published.