Ada Travel agent di Australia meminta pegawai bersedia turun gaji 10 persen menghadapi turunnya bisnis akibat krisis dunia. Lainnya ada yang menyatakan memfokuskan cost control dalam management dan operasional.  Para wholesaler diingatkan agar tidak memberikan diskon atas harga jual paket-paket wisata, di tengah turunnya minat konsumen, tetapi diminta memberikan tambahan-tambahan layanan atau fasilitas pada konsumen dengan harga yang tetap diberlakukan sama. Para agen juga diingatkan hasil penjualan point-to-point bisa turun sekitar 2,5 persen tahun depan karena komisi penjualan yang turun. 

Badan Pariwisata Selandia Baru akan membelanjakan tambahan khusus A$ 2 juta sebagai upaya meningkatkan kunjungan dari Australia, tetangganya, pada musim panas yakni akhir tahun ini dan awal tahun depan.

Etihad Airways mengumumkan pengurangan komisi untuk travel agent dari sembilan ke tujuh persen mulai 1 Januari 2009.

Airlines di Asia Pacific akan merugi dua kali lipat tahun 2009, karena penghasilan terburuk selama 50 tahun terakhir, itu diramalkan oleh IATA – International Air Transport Association.

Tapi di tengah situasi ‘turbulance’ ini, Badan Pariwisata Abudhabi tahun depan akan melancarkan pelatihan-pelatihan sumber daya manusia dengan maksud tujuan meningkatkan kemampuan bandara agar menyaingi dominasi bandara Dubai sebagai destinasi di kawasan Timur Tengah.

Muangthai mengumumkan akan mengalokasikan US$ 10 juta untuk menggalakkan wisata domestik tahun depan, juga karena membayangkan turunnya jumlah dan peran wisman terhadap ekonominya tahun depan.

Begitulah suasana ‘heboh’, atau ‘serius’ di kalangan pelaku bisnis pariwisata di negeri-negeri sekeliling kita. Situasi memang kritis, business is not as usual.

Kita belum heboh

Syukurlah, di Jakarta, baru saja ada diumumkan oleh Asosiasi Agen Penjual Tiket bahwa jumlah pemesanan paket liburan ke luar megeri – outbound tours – untuk periode peak season Natalan dan Tahun Baru ini, turun sekitar 30-40 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Termasuklah tujuan Jepang, Australia, Singapura, Muangthai dan beberapa negeri Eropa.

Juga di Jakarta, Kepala Dinas Pariwisata DKI diberitakan mengumumkan akan memfokuskan wisata domestik sebagai sasarannya tahun 2009 bersamaan mempertahankan pasar tradisional dari luar negeri.

Dia sajikan hitungan perkiraan. Kalau benar transportasi udara, darat dan laut, domestik ke Jakarta setiap hari menyediakan 680.000 tempat duduk, diasumsikan 50 persen merupakan pengunjung, dan diasumsikan lagi setengahnya berkunjung untuk liburan – wisnus -, maka berarti sekitar 62 juta penunpang wisnus per tahun datang ke Jakarta.

Mereka belum dilayani secara optimal, kata dia. Sementara itu objek atraksi baru bermunculan di Jakarta, maka memang perlu difokuskan menggarap wisnus.

Yang terakhir di blog ini kita pertanyakan: Wisata Domestik? Jangan Mislead!

Artinya, jangan mengurangi porsi anggaran dan kegiatan untuk menarik wisman. Tentu pula kegiatan untuk menarik wisman jangan salah arah. Maksud lainnya, di dalam negeri, membangun sarana prasarana dan fasiltas serta pelayanan yang tangible rasanya lebih diperlukan ketimbang memperbanyak promosi berupa iklan atau intangible factors lain.

Kita angkat di sini komentar dari rekan kita pengunjung blog ini.

Setuju sekali menggalakkan wisnus tanpa mengorbankan peningkatan wisman, mengingat inbound tourism punya “keunggulan” di atas domestic tourism, inilah gambarannya:

Dalam hal memperluas peluang usaha : domestic, yes; inbound, yes.
Dalam hal memperluas peluang kerja : domestic, yes; inbound, yes.
Dalam hal stimulasi kegiatan ekonomi: domestic, yes; inbound, yes.
Dalam hal penghasilan devisa : domestic, NO; inbound, YES.

Dampak domestic tourism ibarat memindahkan uang kita dari kantong yang satu ke kantong lain milik kita sendiri.
Inbound tourism, memberikan tambahan “uang” dari kantong orang lain.

Itu dari Lehmann : swatmadja@yahoo.com

Lain lagi : Saya sangat setuju… bahwa menggalakkan wisnus tidak perlu dengan mengorbankan rencana promosi dan upaya untuk tetap meningkatkan wisman. Tapi meminta kepada Kepala Daerah untuk memperhatikan prasarana dan sarana di obyek wisata dalam negeri, mungkin perlu digaris bawahi.. Ini komentar dari Iwan: iwanlucy@yahoo.com

Jadi, kalau di negeri luar sana para pelaku industri diberitakan demikian ‘heboh’ dalam arti serius membicarakan, menanggapi dan menyajikan tawaran solusi, agar bisnis berjalan mengatasi dampak-dampak krisis global, di sekitar kita di dalam negeri belum terasa keseriusan itu. Atau tidak banyak diketahui apa yang sedang dan hendak dilakukan para pelaku bisnis kita, termasuk para asosiasi bisnisnya.

Bagaimanapun, jika dipotret lingkungan bisnis pariwisata kita dewasa ini, yang tergambar adalah semacam kemandegan. Yang tampak ‘heboh’ adalah Departemen Pariwisata menghadapi ancaman krisis global. Yang berkesan tenang adalah justru pelaku industri, berbeda dengan apa yang dikesankan oleh para pelaku bisnis di Australia tadi.

Kita apresiasi komentar dari rekan kita pengunjung blog ini.

Sebenarnya masalah saluran distribusi pariwisata bolehlah di-analogi-kan dengan instalasi saluran air minum, di mana negara pasar pariwisata merupakan sumbernya tempat “intake” – pengambilan – dilakukan. Sementara itu jalur-jalur penerbangan merupakan “transmission pipes” yang menyalurkannya ke instalasi lokal/kota – di kepariwisataan adalah DTW-DTW/Daerah Tujuan Wisata. Sebelum disalurkan ke konsumen – pengguna air – ada titik pengolahan, di mana air mengalami proses “penjernihan” sesuai kriteria air minum. Di situ terdapat kran pengatur – regulator -, yang di kepariwisataan, pada titik ini dilakukan proses “entry formalities” – custom, Immigration – quarantine – untuk selanjutnya disalurkan ke lokasi konsumen – tourist activities area – di mana air tadi yakni wisatawan harus disediakan penampungnya, bak penampung dan penyimpan air – akomodasi utk wisatawan -.

Adapun saluran-saluran air ke lokasi konsumen bolehlah dianalogikan dengan transport lokal dan atau biro perjalanan. Kalau semua berfungsi saling mendukung, seat penerbangan “cukup”, peraturan “visa” yang mendukung, jumlah kamar hotel “cukup”, tourist activity areas terpelihara, dan biro perjalanan – wholesaler, retailer – beraksi agresif, target sembilan juta pun tahun 2009 tidak mustahil dapat tercapai. Semoga!!!

Itu dari rekan kita lagi, Lehman, di swatmadja@yahoo.com

Dan ini dari pak Noersal Samad:

Solusinya, mau tak mau BPW harus meningkatkan kemampuan mereka:

[1] Meningkatkan penguasaan penggunaan Bahasa Inggris
[2] Memperdalam pengetahuan Internet Marketing secara berkesinambungan
[3] Ikut bergabung dengan Host Travel Agency, contohnya:http://act2profit.joystar.com
[4] Mendaftar menjadi anggota ASITA – koreksi ASTA , American Society of Travel Agents .
[5] Sesudah menjadi anggota ASTA, mendaftar mengikuti Online Courses
yang mereka adakan.
[6] Berusaha mendaftarkan “INDONESIA SPECIALIST” pada ASTA agar kita
mampu mendidik BPW asing yang akan mengkhususkan diri menjual
paket-paket wisata Indonesia.

Mudah-mudahan mereka mendapatkan inspirasi dan mampu memperluas cakrawala
berpikir anggota ASTA tersebut.

Drs. Noersal Samad, MA
http://tinyurl.com/5ld2zc

Begitulah.

==========