Dua warga Amerika Serikat ini tiba-tiba saja mendekat dan mengatakan:”Bagus ya...bagus...”. Dalam bahasa Indonesia yang agak terpatah-patah dipujinya tersedia sebarisan panjang toilet untuk digunakan selama berlangsungnya Borobudur Marathon di kompleks candi Borobudur, Yogyakarta. Ditambahkan oleh sang wanita:”Di toiletnya juga ada tissue paper. Bagus...” pujinya. Mereka berdua terbang dari Jakarta untuk mengikuti sebagai peserta Borobudur Marathon 2017 pada 19/12/2017. (Foto:AH)

Dua warga Amerika Serikat ini tiba-tiba saja mendekat dan mengatakan:”Bagus ya…bagus…”. Dalam bahasa Indonesia yang agak terpatah-patah dipujinya tersedia sebarisan panjang toilet untuk digunakan selama berlangsungnya Borobudur Marathon di kompleks candi Borobudur, Yogyakarta. Ditambahkan oleh sang wanita:”Di toiletnya juga ada tissue paper. Bagus…” pujinya. Mereka berdua terbang datang dari Jakarta untuk mengikuti sebagai peserta Borobudur Marathon 2017 pada 19/11/2017. (Foto:AH)

Yogyakarta, (ITN-IndonesiaTouristNews): Hari Minggu menjelang matahari terbit 8000 orang sudah berkumpul di kompleks candi Borobudur. Pukul 4.30  dua orang peserta tiba-tiba menyapa dan mengatakan dengan senyum: Bagus ya…di sini tersedia cukup banyak toilet. Bagus…juga ada kertas tisu di toilet. Mereka rupanya mendapat kesan pertama yang menarik perhatian mereka. Di arah belakang mereka, memang tampak sederetan toilet “instan”, yang bila dihitung jumlahnya sekitar 50-60 sambung menyambung. Ada juga beberapa orang petugas yang memperhatikan. Dan untuk menggunakan toilet di pagi hari menjelang start itu, tak tampak antrian panjang.  Ini adalah cerita event  Borobudur Marathon yang ke-4, pada 19/11/2017.

Beginilah tampak deretan toilet yang “terpasang” di area start & finish Borobudur Marathon 2017. Kalau diterjemahkan bebas dari bahasa Inggerisnya, dua pelari warga AS itu terasa mengatakan:”Wow, kereeen...”(Foto:AH)

Beginilah tampak deretan toilet yang “terpasang” di area start & finish Borobudur Marathon 2017. Kalau diterjemahkan bebas dari bahasa Inggerisnya, dua pelari warga AS itu terasa mengatakan:”Wow, kereeen…”(Foto:AH)

Selama ini pada event-event publik di ruang terbuka, yang dikunjungi oleh massa ribuan orang, tak jarang ditemui kekurangan dalam hal ketersediaan fasilitas umum tersebut. Kekurangan dalam jumlah, maupun kekurangan dalam hal “kualitas”.  Seperti kesan dan pesan dua warga negara AS itu, terpesankan bagaimana toilet saja tak cukup tanpa dilengkapi tisu kertas. Itu tentu mencerminkan kualitas atau yang “dibutuhkan” dari perspektif mereka, dan kita bisa sebut itu standar atau gaya  internasional.

Mereka malah menambah:”Kalau begini tahun depan kami mau ikut lagi ke sini.”…Rupanya si pria mendaftar ikut lomba lari full marahon 42 KM dan sang wanita ikut 10KM.

Tapi fasilitas “toilet” itu satu aspek saja namun “penting” dan sesungguhnya termasuk “mendasar” jika event hendak menarik peserta dari wisman. Mereka memperhatikan itu dan mempertimbangkannya apakah  akan datang kembali alias  menjadi “repeater” atau tidak.  Beberapa aspek lain dalam pelaksanaan mengelola event massal seperti event Marathon, tentu juga menentukan.

Ketika di Borobudur Marathon 2017 ini, memang hanya dari pengumuman-pengumuman di lapangan saja dan satu dua pemberitaan media diketahui bahwa sekitar  8.700 peserta dari dalam dan luar negeri, dari Indonesia dan 26 negara, mengikuti event yang melombakan tiga kategori yaitu Full Marathon (42 km), Half Marathon (21 km) dan 10 K (10 km). Total hadiah sebesar Rp 2,3 miliar.. Di saat-saat menjelang start, MC mengumumkan jumlah peserta sekitar 100 orang pelari asing. Tapi dilihat pada website resmi borobudur marathon itu pun tak diketahui jumlah pastinya, dan seberapakah sebenarnya dari luar negeri atau yang exptriate di dalam negeri seperti dua warga AS itu tadi.

Lancarnya jalan acara dan pengaturan arus manusia di event marathon tersebut memberi kesan bahwa tahun depan mestinya bisa mampu mendatangkan “wisatawan mancangara sebagai peserta pelari warga asing” atau pun sebagai “penggembira” dalam jumlah yang lebih banyak lagi. ***