Bizz-Opp dimaksudkan Business Opportunity. Hotel, restoran, rumah makan, travel agent dan pemandu wisata sampai pengrajin dan penjual barang, yang sesuai dengan “selera Melayu”, mestinya segera akan mendapatkan tambahan volume bisnis atau bisnis baru. Dari mana? Banyak kalangan bisa memanfaatkan kesempatan bisnis dari fenomena AirAsia, yang berlanjut dari tadinya sekedar Low Cost Carrier yang agresif, kini menjadi penerobos membawa wisatawan dari hampir setiap kota di negara jiran, ke hampir setiap kota di destinasi pariwisata Indonesia.

Termasuk luar biasa juga fenomena ini. Dari Kuala Lumpur, dilayaninya penerbangan mulai dari sedikitnya tiga kali seminggu sampai yang berjadual setiap hari ke: Bandung, Jakarta, Bali, Medan, Padang, Pekanbaru, Surabaya, Batam,

Banda Aceh, Yogyakarta, Manado, Padang, Palembang, Solo, Makassar. Selain itu, juga dari Jakarta ke Kota Kinabalu , Kuching, Penang, dan, Bali – Kuching, Medan – Penang, Pekanbaru – Singapore.Masih ada lagi: dari Johor Bahru ke Medan dan ke Surabaya. Wah, belum ada maskapai lain yang ‘serajin’ ini.

Warga Malaysia tercatat datang ke Indonesia tahun 2000 sampai 2006 berturut-turut sbb:408.562,409.231,397.983,407.958,482.059,564.321, dan 699.124. Adapun tahun 2008 ini, Depbudpar manargetkan 1,8 juta kunjungan. Lonjakan target ini memang terasa relatif tinggi sekali.

Rasanya sejak sekitar 20 tahun yll, grup grup wisatawan Malaysia ke Jakarta, dapat dipastikan makan siang atau malam mereka ke restoran Natrabu, masakan Padang. Restoran ini pun, memodifikasi fasilitas ada yang berAC dan non-AC, dan, rasanya yang pertama merobah cara penyajian makanan. Bukan lagi mengantar ke meja makan dengan piring-piring yang bersusun-susun di atas lengan, lincah melangkah seperti pemain sirkus, tapi menggunakan ’trolley’ membawa semua piring berisi makanan lalu disusun ke atas meja makan. Para penyaji (waiter) mengenakan pakaian tradisional Minangkabau yang penuh warna-warni.

Gaya restoran Natrabu itu pula yang dialami oleh Perdana Menteri Mahathir Muhammad dan pejabat tokoh Malaysia yang mampir di situ, ada yang lebih dari satu kali, dan semakinlah orang-orang Malaysia seakan ’wajib’ mencicipi pengalaman di tempat yang sama. Sesungguhnya bukan itu saja, bagi masyarakat Melayu sebagaimana di negerinya sendiri, enggan masuk ke restoran dengan merek Chinese Food, kecuali terjamin penuh restoran itu masakannya ’halal’.

Dan begitulah wisman Melayu yang berasal dari Malaysia dan Singapura, di Jakarta atau di Bali atau Medan, mereka harus makan masakan Melayu seperti Padang Food, dan mereka tampak ’enjoy sangat’.

Para pemandu wisata dari pengalaman mengatakan ciri utama wisman Melayu adalah makan dan berbelanja. Nah, ini dia memang yang diharapkan, bukan? Belanja mereka adalah suvenir, pakaian terutama kaum wanita dan ibu-ibu. Dulu bahan batik merupakan suvenir mereka dari Indonesia, entahlah, sekarang setelah batik malahan telah menjadi salah satu ’ikon’ produk tekstil Malaysia.

Kontroversi

Paratravel agent dan tour operator di Kuala Lumpur dan kota-kota Indonesia tersebut secara teoritis tentu akan meng-generate grup-grup turis dari negeri Melayu itu, dan hotel serta pemandu wisata, restoran dan rumah makan, toko suvenir mestinya menyongsong kedatangan mereka dengan ’produk sesuai selera Melayu”.

Kejelian AirAsia antara lain membuka penerbangan ke Banda Aceh. Masyarakat Melayu yang kental religius niscaya menyimpan ’curiocity’ untuk melihat ’serambi Mekah’ itu.

Namun, sebagai mana layaknya kebanyakan maskapai penerbangan asing, tujuan utama beroperasi sesungguhnya untuk meng-generate pasar konsumen dari Indonesia, di antaranya TKI (tenaga kerja Indonesia) sebagai lahan empuk. Kendati demikian, andaikan 50% kursi dijual untuk TKI dan 50% untuk non-TKI, disitu peluang membawa wisman ke Indonesia terbuka lebar. Tergantung, siapa yang mengambil insiatif.

AirAsia beroperasi ke Indonesia dengan dua maskapai. Indonesia AirAsia berbadan hukum Indonesia (di mana 49% sahamnya dimiliki asing) dan International AirAsia ber-home-base di Kuala Lumpur.

Berarti penerbangannya nyaris setiap hari mengangkut penumpang ke 15 kota di Indonesia, berasal dari lima kota di negara jiran. Semuanya mulai tahun 2008 ini. Dan ini berarti pula ratusan pengunjung asing dari luar negeri akan dibawanya dan tercatat di statistik visitor arrival.

Sebagai maskapai penerbangan berjadual dengan modal asing (49%), Indonesia AirAsia memang menjadi ’ganjalan’ di hati maskapai penerbangan nasional lainnya. Argumentasi yang timbul ialah, apakah kepemilikan modal asing di maskapai penerbangan, sekalipun sudah berbadan hukum Indonesia, patut diberikan hak terbang di rute dalam negeri? Bukankah itu melanggar prinsip Cabotage ?

Para travel agent juga tadinya ’menjaga jarak’ karena dengan sistim ticketless-passenger, yaitu calon penumpang dengan mudah dapat membeli tiket melalui Internet, secara prinsipiel memotong jalur distribusi, di mana peran travel-agent selaku perantara sudah sangat diminimumkan. Mereka tidak lagi memperoleh komisi penjualan, sebagaimana tradisi di bisnis penerbangan yang sudah berjalan selama ini. Dan calon penumpang cukup membawa print-out dari komputer masing-masing, bukti reservasi dan pembayaran, ke konter check-in di bandara. Langsung diberikan boarding-pass. Praktek ini pun sudah kian mendunia.

Tapi, yah, dengan fenomena baru ini, bisnis tentu menemukan jalannya sendiri di mana win-win solution dapat dipraktekkan.