Suharno Manap (kiri) dan hasil lukisannya (kanan).

Suharno Manap (kiri) dan hasil lukisannya (kanan). Kalau melukis, berupaya menangkap karakter, kata dia. (Foto: AH)

Cerita ini sebenarnya tentang Suharno Manap (68 tahun). Dia pelatih dan memimpin kontingen peyudo dari Palembang, mewakili Sumatera Selatan, sebanyak tujuh orang ikut serta pada Peparnas (Pekan Paralimpik Nasional) XV di Bandung minggu lalu. Para peyudonya menyandang kebutaan, tak bisa melihat. “Dua mendapat emas,” ceritanya. Satu lagi, perunggu. Enam  bulan lebih dia memberikan pelatihan. Dia sendiri mulai belajar kemudian aktif sebagai peyudo sejak tahun 1962.  Tapi lima tahun sebelumnya, 1957, dia mulai memainkan jejari dan tangannya … melukis. Sebagai pelukis ini pula dikembangkannya kemampuan dan “karier”. Yang mutakhir pada 4-11 April 2016, dia pameran tunggal di Palembang. Diberinya judul pameran itu “Pameran Amal Lukisan Jumputan”. Sebuah artikel di Kompas menyebutnya sebagai “Pelopor Lukisan Teknik Jumputan.” Souvenir/Program Book untuk pameran itu diisi dengan kata pengantar dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan, Irene Camelyn Sinaga.

Di tempat kontingennya menginap di satu hotel bintang 4-5 di Bandung,  kebetulan kami berjumpa saat breakfast alias sarapan pagi.  Omong punya omong, di ujung cakap-cakap, akhirnya dia bilang: ”Silahkan buka topi.” Saya membuka topi. Dia lalu melukis. Sketsa ya, katanya. Saya jawab, oh melukis? Kalau gitu hitam putih saja pak, kata saya. Dia memang bertanya warna apa yang paling saya gemari.

Sekitar 4 menit lukisannya selesai. Dan hasilnya seperti terlihat di gambar di atas.

Tentu saja ini pun sebenarnya cerita yang biasa-biasa saja. Tapi di pariwisata, yang biasa-biasa saja berkemungkinan juga bisa dijadikan “tidak biasa” alias istimewa. Maksudnya? Jika Anda kebetulan sedang berada di kota Palembang, apakah sebagai wisatawan nusantara atau wisman, bisa juga menelepon Suharno Manap, 0812-4110-581. Dia akan datang. Melukis Anda. Dan lukisan itu bisa sebagai kenangan alias souvenir dari berwisata ke Palembang. Melukisnya untuk setiap orang tak akan lebih dari lima menit.

Irene Camelyn dalam mengantarkan pamerannya bulan April yang lalu, antara lain menuliskan: …apresiasi yang tinggi kami sampaikan kepada Bapak Suharno Manap yang secara terus menerus melestarikan akar tradisi budaya Sumatera Selatan melalui seni Jumputan, yang kali ini dikemas dalam bentuk pameran lukisan…”.

Pameran itu sendiri mengambil tempat di Galeri Cipta Taman Budaya Sriwijaya Jakabaring, Palembang. Sub judul pamerannya berbunyi: Perjalanan 60 Tahun Berkarya Seni Rupa Menyongsong Asian Games 2018 di Palembang”. *** (Arifin Hutabarat)