Bengkulu Seakan “Exercise” Membangun Mengembangkan Pariwisata; Mulai saja Sasaran Wisnus, kenapa tidak?

Peserta famtrip bergiliran mengabadikan bunga rafflesia (Rafflesia arnoldii) yang sedang mekar di dalam kawasan hutan lindung.(Foto:YD)

Peserta famtrip bergiliran mengabadikan bunga rafflesia (Rafflesia arnoldii) yang sedang mekar di dalam kawasan hutan lindung Taba Penanjung.(Foto:YD)

Bagi para bloggers itu, bumi Bengkulu menyiapkan sebuah kejutan. Mengapa?Pemerintah Provinsi Bengkulu baru saja menyelenggarakan perjalanan pengenalan destinasi (familiarization trip/famtrip) pada 21-23 Juli 2017, diikuti oleh 30 bloggers dari Jabodetabek, Semarang, Purwokerto, Surabaya, Medan, dan Kepri serta 6 bloggers dari Bengkulu. Pokoknya, dari dalam negeri. Selama 3 hari 2 malam mereka diajak ke Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Kepahyang dan Kota Bengkulu.

Hari pertama, mengunjungi kebun bunga yang mulai diusahakan oleh petani setempat di tepi Danau Mas Harun Bastari di Kabupaten Rejang Lebong dan melihat konservasi bunga bangkai (Amorphophallus Titanum) di Kabupaten Kepahyang.

Begitu tiba, dengan bis langsung dari Bandara Fatmawati, Bengkulu, mulai bergerak  pukul sembilan pagi menuju Kabupaten Rejang Lebong. Sekitar 3,5 jam perjalanan melewati jalan lintas (trans) Bengkulu-Lubuk Linggau (Sumatera Selatan). Saat bis memasuki KM 40 atau di kawasan hutan lindung Taba Penanjung sebuah spanduk di tepi jalan memberitahukan ada bunga rafflesia sedang mekar.

Peserta bersama keluarga yang menjalankan upaya konservasi bunga bangkai (Amorphophallus titanum) secara mandiri di lahan milik keluarga yang dinamai Taman Konservasi Puspa Langka di Kepahiang,Bengkulu.(Foto:YD)

Peserta bersama keluarga yang menjalankan upaya konservasi bunga bangkai (Amorphophallus titanum) secara mandiri di lahan milik keluarga yang dinamai Taman Konservasi Puspa Langka di Kepahiang,Bengkulu.(Foto:YD)

Para peserta diajak menuruni lereng dengan kemiringan sekitar 70 derajat sepanjang kira-kira 30 meter. Di beberapa bagian ada tanah berundak-undak dan dipasangi tiang-tiang dari sisa batang-batang kayu pohon. Sulur akar-akar pohon yang menjuntai jadi harapan guna menahan bobot badan di tanah yang licin.(Sebelum lupa, baik dicatat di sini, bahwa alangkah elok kalau di situ dibuatkan sebentuk tangga agar pengunjung merasa aman dan nyaman untuk menuruninya.)

Satu bunga rafflesia (Rafflesia arnoldii) berdiameter 60 sentimeter sedang mekar. Diantara kanopi hijau pepohonan hutan lindung Taba Penanjung, bunga rafflesia berwarna merah terang di atas tanah amatlah mencolok. Peserta dengan cria harus bergantian mengabadikannya. Medan di mana puspa langka yang bisa dibanggakan Indonesia itu tumbuh tidak memungkinkan mengakomodasi pengunjung dalam jumlah banyak sekaligus.

Setelah memasuki jalan berliku di Kelok 9, bis mulai memasuki Kabupaten Kepahyang. Jalan-jalan beraspalnya dalam kondisi baik. Di kiri-kanan jalan banyak rumah-rumah panggung tradisional yang dibangun dari kayu meranti. Dinding-dinding kayu yang rata-rata berwarna kehitaman menunjukkan usianya yang sudah puluhan tahun. Rata-rata kolong rumah panggung telah dialihfungsikan sebagai ruangan tambahan rumah berdinding batu. Hanya beberapa yang masih mempertahankan tidak mengalihfungsikan kolong di bawah rumah panggung.

Begitupun saat memasuki Curup, ibu kota Rejang Lebong. Tak hanya rumah-rumah panggung yang masih berdiri tetapi juga bangunan-bangunan lama peninggalan dari masa kolonial.

Suasana di kedua kabupaten itu tenang. Selama menyusuri jalan-jalan di kabupaten-kabupaten tersebut terasa seperti diterjunkan kembali ke masa kehidupan lama khas Pulau Sumatera.

Pemandu lokal di Rumah Pengasingan Soekarno menjelaskan secara singkat mengenai rumah tersebut.(Foto:YD)

Pemandu lokal di Rumah Pengasingan Soekarno menjelaskan secara singkat mengenai rumah tersebut.(Foto:YD)

Rejang Lebong dan Kepahyang dikelilingi gunung-gunung. Berada di ketinggian sampai dengan 1.000 meter udaranya tidak sepanas di kota Bengkulu. Meskipun menurut warga lokal sekarang tak lagi sedingin dahulu. Di rumah-rumah ada warga sudah memasang penyejuk udara. Ditengarai, sebabnya memanas itu lantaran kawasan hutan di sekitar kedua kabupaten ini semakin tergerus.

Hari menjelang sore saat tiba di kawasan Danau Mas Harun Bastari. Di situ beberapa petani lokal mulai membudidayakan bunga-bunga yang tumbuh di kawasan ini di dalam sebuah area kebun seluas sekitar setengah hektar. Masih bercampur dengan tanaman sayur-mayur. Kawasan itu direncanakan akan dijadikan daya tarik wisata dengan kebun-kebun bunga yang diusahakan oleh para petani lokal. Kebun-kebun tersebut nantinya akan menghadap ke Danau Mas Harun Bastari. Pemprov Bengkulu merencanakan akan menyelenggarakan suatu festival bunga di situ tahun depan.

Dari sana kembali menuju Kepahyang untuk mengunjungi sebuah tempat konservasi bunga bangkai (Amorphophallus titanum). Konservasi itu diusahakan dan dijalankan secara mandiri oleh satu keluarga petani lokal. Inisiatifnya sejak sekitar tahun 1979, hingga sekarang terus dikunjungi baik oleh para peneliti, mahasiswa hingga turis. Menurut salah seorang anggota keluarga, pengunjung ke tempat konservasinya datang dari lebih 16 negara. Saat dikunjungi, bunga bangkai, kibud dalam bahasa lokal, telah berada dalam fase terakhirnya. Meskipun tak dapat melihat saat dia mekar, di sisi lain bersyukur juga karena tak perlu menahan bau tak sedap yang dikeluarkannya.

Pertunjukan musik tradisional dol di halaman dalam Fort Marlborough.(Foto:YD)

Pertunjukan musik tradisional dol di halaman dalam Fort Marlborough.(Foto:YD)

Program pada hari kedua adalah city tour Kota Bengkulu. Penyelenggaraan famtrip bagi bloggers ini merupakan bagian dari rangkaian acara dalam Festival Bumi Rafflesia 2017. Pada pagi hari peserta famtrip diberi kesempatan mengeksplorasi pantai Panjang. Di kawasan pantai itu juga jadi tempat finish peserta Bengkulu Triathlon 2017. Ini juga bagian dari rangkaian acara festival. Pada siang harinya di sport center digelar Festival Kopi Bengkulu. Para peserta berkesempatan mencicipi kopi bengkulu dari peserta festival.

Kemudian mengunjungi Museum Bengkulu, rumah pengasingan Soekarno di kawasan Anggut Atas dan Fort Marlborough. Di benteng peninggalan Inggris itu, peserta famtrip disambut dengan tarian selamat datang dan pertunjukan musik dol di halaman dalam.

Hari terakhir sebelum peserta kembali ke daerahnya masing-masing, diajak melihat pusat oleh-oleh yang lokasinya tidak jauh dari rumah pengasingan Soekarno. Toko-toko suvenir tampak lebih banyak daripada dua tahun sebelumnya. Produk-produk yang ditawarkan lebih beragam, produsennya juga lebih banyak. Kini sudah ada toko yang telah bekerja sama dengan bank sehingga transaksi bisa dilakukan secara non-tunai.*** (Yun Damayanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.